Chapter 6 - I Think, I Like Her!

337 21 0
                                        

"Dikky, Itu Nisa kan?"

"Nisa? Mana, mana?"

"Itu tuh, Di sana, Deket toko yang jualan bedak."

"Mana sih. Gue nggak Liat, Wan."

Ridwan melirik Dikky "Ya elah. Pantas aja loe nggak liat. Kaca mata loe copot. Pasang dong."

"Oh iyya. Sorry."

"Ahh ello. Udah tau mines juga. Sok sok'an buka kaca mata."

Dikky menyengir mendengar omelan Ridwan. Sedangkan Emyl, dia hanya diam menatap Nisa dari kejauhan tanpa berkedip dan tak peduli dengan keributan kedua lelaki disampingnya. Pandangannya terus terfokus pada satu objek itu dan tak memperdulikan lagi objek yang lainnya.

"Masya Allah, Dik. Sumpah, tuh cewek cantik banget. Baru kali ini gue liat cewek secantik dia dan sekarang gue percaya kalau bidadari itu memang ada." Kata Ridwan cukup lebay.

"Ya elah, Wan. Alay tau nggak sih loe." Cibir Dikky.

Ridwan menatapnya geram. "Ehh. Gue bukannya alay yah. Tapi ini yang gue rasain tau."

Tatapannya kembali teralih pada Nisa. "Sumpah, tuh cewek emang bener-bener cantik. Dan liat deh tuh, senyumnya. Masya Allah bikin hati gue meleleh."

Dikky semakin geli saja mendengar ocehannya. "Ahh, terserah loe aja dah, Wan."

Kedua orang itu masih saja fokus memandangi Nisa. Tak terkecuali Emyl. Dia memang tak seberisik dan seheboh Ridwan dan Dikky. Tapi siapa yang tahu jika hatinya kini sudah melompat kegirangan. Seperti ingin meledak saja.

Akhirnya.. setelah sebulan lamanya dia tak pernah lagi bertemu dengan gadis jelita itu, hari ini dia kembali dipertemukan dengannya. Dan semalam tak terlupakan pula saat dimana senyuman lembut itu kembali tercipta untuknya.

Menatap wajahmu, suatu hal yang mengajarkanku apa itu arti dari KEINDAHAN...

Melihat senyummu, membuatku faham apa itu arti dari MENAWAN..

Dan memandang paras jelitamu itu, membuatku mengerti apa arti dari kata BAHAGIA...

Dalam Diam, Emyl begitu memuja Bidadari Penggetar Hatinya.

~~♡☆♡~~

"Gimana, Nis. Kamu sukanya yang mana?"

Husnah yang kebingungan memilih warna lipstiknya meminta pendapat kepada Nisa. Sesaat Nisa hanya terdiam, dia tak begitu paham mengenai hal itu. Tapi karna tak ingin mengecewakan kawannya, maka dia memilih warna Lipstik yang tak terlalu mencolok.

"Nih Husnah. Menurutku ini yang paling cantik." Katanya seraya menyodorkan kepada Husnah lipstik yang berwarna peach lembut.

"Ohh. Oke.. kalau gitu aku beli yang ini."

Nisa tersenyum bahagia melihat kawannya itu sama sekali tak keberatan dengan pilihannya. Senyumnya begitu manis membuat ketiga pemuda yang sejak tadi mengawasinya semakin dirundung kekaguman. Dua diantara mereka sudah nampak seperti cacing kepanasan. Sedangkan salah seorang diantaranya tetap diam dan hanya melengkungkan senyum penuh kekagumannya. Masya Allah, Sungguh indah makhluk ciptaannmu itu Ya Allah..

Cinta Dalam DiamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang