Chapter 7 - I May Be Crazy

453 20 0
                                        

Rinai hujan di malam itu masih terdengar riuh. Langit yang semakin menghitam menghantarkan hawa dingin hingga menusuk ke tulang, membuat para santri semakin enggan untuk beraktifitas lagi dan lebih memilih meringkuk dibawah selimutnya.

Tapi tidak dengan Emyl. Pemuda tampan berhidung mancung itu masih saja terjaga dibalik meja belajarnya. Hangatnya senyuman gadis jelita dibawah rintik hujan sore tadi sepertinya mampu menghangatkan tubuhnya ditengah dinginnya hembusan angin malam ini.

Sore tadi, setelah ia memberikan payung itu kepada Nisa. Dia rupanya masih tetap berjaga di depan gerbang. Sampai akhirnya Nisa kembali bersama dengan Husnah dan hujan pun turun dengan begitu lebatnya.

Dan dalam diamnya. Ia Kembali mengangumi sosok bidadari penggetar hatinya itu.

Pesonamu begitu kuat,
membuatku terbelenggu di dalamnya..
Dan hanya dengan melihat senyummu saja,
Aku bagaikan telah menggenggam dunia ini..

Dia mendesah bahagia. Bayangan kejadian di sore itu terus saja berputar dalam ingatannya. Tubuhnya perlahan ia rebahkan pada sandaran kursi yang didudukinya. Nafas dalamnya kembali ia hela dan perlahan senyum penuh kebahagiaan itu melengkung sempurna di bibirnya.

Sungguh dahsyat pengaruhmu, wahai Bidadari ku..

Dia seketika saja bangkit saat ada sesuatu yang menekan otaknya untuk segera memerintahkan jari-jarinya kembali mengeluarkan apa yang tengah dirasakan hatinya saat ini. Dan dalam buku agendanya itu, semuanya terlampiaskan.

Dia begitu indah.
Sosoknya berbeda dari yang lainnya.
Dia seperti tak nyata.
Namun, kedua mata ini dapat jelas memandangnya.

Akan tetapi,

Ada jurang yang membentang.
Ada 'Takdir' yang memisahkan antara aku dan dirinya.

Takdirku dan Takdirnya....

Namun, Hati ini selalu berharap.
Semoga Tardirku ada bersamanya....

Emyl tersadar. Dia terheran melihat hasil tulisannya yang seolah merangkai beberapa bait puisi dalam buku agendanya itu.

Puisi?, Sejak kapan ia pandai berpuisi?

Kembali ia membaca tulisannya. Dan setelahnya dia terkekeh geli.

"Astagfirullah.. Apa ini? Aku mungkin sudah gila." Lirihnya masih dengan kekehan gelinya.

Yahh, sepertinya dia memang sudah Gila.. Lebih tepatnya, Tergila-gila pada Bidadari Bersenyum Manis itu.

~~♡☆♡~~

Nisa dan Husnah tetap saja saling diam. Sejak kejadian sore tadi, keduanya masih enggan untuk berbicara. Sebetulnya, Nisa sudah sangat ingin mengajak teman sekamarnya itu mengobrol, tapi sepertinya Husnah tak mau menanggapinya. Mungkin saja hatinya masih diselimuti api kecemburuan. Dan Akhirnya Nisa juga lebih memilih untuk diam.

30 menit berlalu, kedua mata Nisa masih enggan untuk terpejam. Padahal waktu telah menunjukkan pukul 23.54, sudah hampir tengah malam. Tapi dia masih saja resah.

Tubuhnya perlahan berbalik, menatap Husnah yang berbaring di ranjang seberang dengan posisi memunggunginya. Raut wajahnya menunjukkan betapa ia sangat menyayangkan sikap Ridwan sore tadi. Seandainya saja lelaki itu mengetahui isi hati Husnah, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini.

Cinta Dalam DiamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang