Start writing your story
"Rava" Panggil April lembut.
Lelaki yang tadinya sedang menduduki salah satu bangku plastik di kantin itu menoleh kemudian melempar senyum manisnya yang agak terpaksa.
"Hm gue boleh duduk disini ga?"
"hm" Jawabnya ketus
"Lo marah ya sama gue? emang gue salah apa sih?"
"Siapa yang marah?" Tanya Rava sambil melempar kulit kacang ke sembarang arah.
"Ya ab-"
Sebelum April dapat menyelesaikan kalimatnya, dirinya dilempari kulit kacang oleh bukan lagi-Rava- secara bertubi-tubi.
"Ih lo tuh ngeselin banget sih!" April bangkit dari duduknya dan membersihkan roknya yang tidak terlalu kotor itu.
"Kan, lo yang marah. Bukan gue" Tegasnya
"IH!" April meninju lengan Rava manja.
"Rav, gue minta maaf kalo ada yang buat lo gasuka ya" Ucap perempuan tersebut sambil menopang dagunya dengan kedua tanganya.
Yang ia dapati hanya hembusan nafas Rava yang terdengar berat.
"Gue gak marah,"
"Cuman jangan deket-deket sama cowok lain ya.." Sambungnya, namun kata-katanya kurang jelas karena Rava mengucapkannya dengan sangat pelan.
"Hah?" Ternyata gadis umur 16 tahun itu sempat mendengar perkataan asal yang dilontarkan oleh Rava.
"Ohhh ohhh ohhh lo cemburu ya!" Nada April lebih terdengar mengintimidasikan dibanging usil bagi Rava. Akibat takut percakapan ini berubah menjadi acara baper baperan ia memutuskan untuk pergi.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Rava meninggalkan tempat duduknya.
"Ye marah!" Teriak gadis itu dari kejauhan
"Gendut!" Balas Rava, setengah berteriak
"IHHH RAVA!" Ucap April, kali ini berteriak.
-o-
Ternyata April sedang melewati masa masa PMS nya. Walaupun beberapa orang bilang PMS hanyalah suatu sugesti. Hari ini April sangat moody. Jam pertama ia sangat bersemangat dalam pelajaran sejarahnya, jam berikutnya ia sangat manja dan cengeng dan setelah 30 menit berlalu ia berubah menjadi lebih grumpy.
"ughh lama banget sih belnya" Bisiknya terhadap Nadine yang entah mengapa sedang serius mengerjakan soal yang diperintahkan Bu Chaca.
"Ya elah bentar lagi, kenapa sih lo?"
"Aduh gue tuh pengen ketem-"
"Rava?" Potong Nadine, sambil menolehkan kepalanya masih dengan pensil yang berada diantara jari telunjuk dan ibu jarinya.
"ih" April menyenggol lengan Nadine.
Nadine terkekeh, "Ketauan, lo suka kan sama dia"
"IH ngomong jangan asal, nanti kalo ada yang denger gimana!"
"Yang ada mereka denger karena lo teriak" Balas Nadine
"iya jangan terlalu kencang ngobrolnya, Nadine."
"Tuh, denger" Saut April ketika merasa ada yang membelanya
Seolah mengenali pemilik suara tersebut, mereka berdua menatap kedepan dan Bu Chaca sedang berkacak pinggang sambil menatap mereka berdua geram.
"eh Ibu, hehehe serius nih walalalala susah ya Dine" Kata April berlagak menuliskan sesuatu.
Nadine tidak membalas sahabatnya itu, ia tetap melanjutkan kerjanya. Lagi pula, sudah biasa baginya April melawan atau menanggapi perkataan dan perintah guru.
"April, temui saya setelah kelas usai!" Semua nyawa-nyawa yang ada di kelas tersebut mengarahkan pandanganya ke meja April. Beberapa ada yang menahan tawanya geli. Beberapa ada yang menggelengkan kepala. Ada juga yang menyumpahi April tanpa suara.
"Iya bu"
-o-
"Kamu saya kasih tugas tambahan, yang dikumpulkan lusa."
"Yah si ibu, saya ngobrol doang bukan ngebunuh orang"
"Oh masih ngejawab ya kamu? Mau saya tambahkan tugas kamu? Membersihkan kelas?"
"Dih ibu apansih, emang saya OB" Jawabnya acuh
Bu Chaca menggelengkan kepalanya.
"Tugas kamu saya ringankan. Kerja sama dengan Rava murid kelas 11-Z"
"Rav-" Belum sempat April mengeluh, Bu Chaca tetap melanjutkan kalimatnya.
"Kalian harus membuat video tentang cara menghormati orang tua,"
"Paham?" Sambungnya
"Paham, bu" April menyerah, lelah berdebat dengan gurunya yang satu ini. Ia tahu topik pembicaraanya pasti akan menuju ke suatu topik yang tidak masuk akal.
"Sekarang kamu pulang"
April mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan bu Chaca yang sedang merapihkan mejanya yang berserahkan kertas jawaban pelajaran sebelumnya.
Saat sampai di ambang pintu April berhenti sejenak.
"Bu dibelakang ibu ada yang nemenin tuh, demen sama ibu"
Seakan sadar gadis itu berbicara dengannya, ia menoleh. Kemudian mengecek sekitaranya. Gaada siapa siapa perasaan. Kemudian Chaca kembali tersadar.
"Dasar kamu murid yang ga berbakti!"
April sudah meleset keluar ruangan,
"Tinggi, hitam, berdarah bu!" Sambungnya
"APRIL LEVANA!" Teriak bu Chaca dari dalam kelas, namun April jelas mendengarnya.
Dalam jalannya menyusuri lorong, April berfikir. Rava? mungkin dia dihukum juga kali ya. Jodoh ga kemana. Hah? ngomong apansi lo ril.
KAMU SEDANG MEMBACA
Breathe You In
Novela JuvenilApril, typical siswi disekolahmu yang hobi melanggar aturan namun berprestasi. Paras cantik yang dimiliki April membuat tidak sedikit lelaki tertarik padanya, walau hanya sekedar kagum. Namun, tidak segampang itu menggapai yang satu ini. Satu hal ya...
