"Nih" Rava menyerahkan satu kantung plastik.
"Apa?" Walaupun tidak yakin dengan isinya, tangan April tetap menerima plastik tersebut.
Ketika dibuka ternyata ada sebuah novel didalamnya.
April salah tingkah. "Ehm.."
"Buat lo. Katanya bukunya udah mau selesai kan?"
Otaknya kembali mengingat pesan yang ia pernah kirim ke Rava. "I-iya"
"Lo pasti suka makan disini. Ini tempat kesukaan gue"
"Lo orang pertama yang gue ajak kesini" Lanjutnya
"Kalo ditempat kayak gini gue paling suka makan roti bakar sam-"
"Rava" April memotong kalimat Rava. "Gue punya segudang pertanyaan buat lo. Gue pengen lo jawab satu satu karena gue bingung sama semua ini"
Rava tidak bergeming sekalipun.
"Satu. Lo kenapa sih jadi orang itu kayak kulkas? Kadang bikin jantung gue sampe lupa ritme normalnya. Kadang bikin gue heran sendiri. Gue bakal terima lo kayak gimana aja, gue cuman pingin tau lo kenapa kalo sama gue tuh beda-beda gitu" sebenarnya April ingin menggali informasi tentang mengapa Rava begitu dingin. Hal apa saja yang ia suka?
"Dua. Lo ga mikir peraasan gue Rav?"
"Tiga" April berhenti sejenak kemudian menghembuskan nafas.
"Lo sama Rain beneran pacaran?"
Namun justru sebuah tangan yang muncul dihadapan mereka berdua. Tangan tersebut juga membawa piring pesanan mereka, yaitu roti bakar. "Permisi mas.."
"Buat apa lo nanya kayak gitu?" Rava menyuapi dirinya sendiri sepotong roti bakar coklat keju.
April terkejut namun dengan sebisanya ia menyimpan ekspresi terkejutnya."Gue sebisa mungkin jadi teman yang baik buat lo". Lagi-lagi nafas April tercekat hanya karena satu kata tersebut. Teman. Langit sore ini sangat cocok dengan suasana hatinya. Mendung.
Setelah masing-masing dari mereka menghabisi satu porsi roti bakar, Rava mengantar kembali April kerumahnya yang tidak terlalu mewah namun megah dan sangat modern.
"Ga mampir dulu Rav?" Plis jangan, kata dirinya sendiri dalam hati.
"Nga-" Kemudian bunyi petir yang bergemuruh terdengar sangat keras sampai sampai April kaget sendiri.
Rava menggaruk tengkuknya yang tidak gatal"Boleh deh..Gak apa-apa kan?"
"Ya, ayok keburu hujan nanti" Lepas itu Rava mengistirahatkan motornya kedalam teras milik rumah April.
Keduanya melepas sepatu yang mereka kenakan lalu beranjak masuk kedalam rumah tersebut. Tentu ruangan pertama yang mereka lewati adalah ruang tamu karena mereka masuk dari pintu utama.
"Orang tua lo ada?"
"Kalo jam segini sih Rav, belom" Entah mengapa April deg-degan.
Kini keduanya menduduki sofa ruang keluarga. Rava meletakkan tasnya diatas meja kaca yang berukuran lumayan lebar yang saat ini terletak dihadapan sofa tersebut. Seakan sadar ada tamu, asisten rumah tangga dirumah itu langsung membuatkan minum untuk sang tamu yaitu Rava.
KAMU SEDANG MEMBACA
Breathe You In
Teen FictionApril, typical siswi disekolahmu yang hobi melanggar aturan namun berprestasi. Paras cantik yang dimiliki April membuat tidak sedikit lelaki tertarik padanya, walau hanya sekedar kagum. Namun, tidak segampang itu menggapai yang satu ini. Satu hal ya...
