Saat itu udaranya sangat sejuk. Aku dengan asyik berlari-lari di taman belakang rumahku bersama ibuku.
"Aya, kemarilah," panggil ibuku.
Aku pun berlari menghampiri ibuku dan memeluknya.
"Ibu, kau hangat," berada dipelukan ibuku terasa sangat nyaman. Rasanya aku tidak ingin melepasnya.
"Tutup matamu, Aya."
Aku menutup mataku dan merasakan sesuatu yang hangat di dahiku. "Semoga kau selalu tersenyum, Aya."
"Apa itu ibu?"
"Sebuah doa keberuntungan, supaya kau selalu bahagia." kata ibuku tersenyum.
"Wow... aku sayang ibu!" kataku bahagia.
***
"Ibu... kau sangat wangi. Parfum yang selalu kau gunakan..."
Aku membuka mataku dan melihat seorang gadis berambut pirang pendek dengan mata gelap yang tidak aku kenal.
"Hehee," dia tersenyum padaku.
Akupun terlonjak kaget, tetapi aku menyadari ada sesuatu yang aneh.
"Wangimu.. seperti ibuku... Bagaimana bisa?"
"Oh?" katanya sambil mengangkat dan mencium sebuah botol parfum.
Oh tidak. Aku sangat yakin itu parfum ibuku.
"Itu parfum ibuku! Kapan kau mengambilnya?"
Aku pun turun dari ranjang dan berusaha merampas parfum itu, "Kembalikan! Itu punya ibuku!"
Tapi aku tidak berhasil merebutnya karena dia lebih tinggi dariku dan dia malah berlari keluar dari ruangan ini, lalu kudengar suara pintu terbanting lagi. Aku rasa dia ke ruangan sebelahku.
Aku sangat penasaran, bagaimana aku bisa berada di tempat ini. Seingatku, tiba-tiba kakiku lemas dan semuanya hitam. Kira-kira siapa yang menolongku? Apa gadis tadi?
Aku harus mencari gadis itu, dia juga sudah mengambil parfum ibuku yang berharga. Aku harus mendapatkannya kembali. Hanya itu kenangan dari ibuku yang kupunya...
Aku langsung keluar dan berusaha membuka pintu ruangan sebelah. Tapi usahaku gagal karena pintu itu sepertinya terkunci.
Aku pun mencarinya ke ruangan lain. Begitu membuka pintu, jantungku terasa jatuh ke perut. Ruangan itu banyak sekali tikus-tikus menjijikan.
Untung saja ruangan itu lebih rendah dari kakiku sehingga tikus-tikus itu tidak bisa memanjat naik untuk meraihku.
Aku bingung harus mencari gadis pencuri parfum ibuku kemana. Aku pun terdiam dan sekilas aku melihat sesuatu berkilau di lantai.
Aku memperhatikan barang itu terus menerus dan sepertinya itu adalah kunci. Aku merasa harus mengambilnya, bisa jadi itu kunci yang penting. Tapi untuk mengambilnya aku harus melewati tikus-tikus itu.
Aku pun mencoba menurunkan kakiku. Tikus-tikus itu langsung berusaha mengerubungiku. Aku berjalan sambil menendang-nendang tikus-tikus itu, tapi sepertinya jumlah mereka malah semakin banyak.
Begitu aku berhasil mendapatkan kuncinya, aku langsung berlari pergi menjauh dari mereka. Entah bagaimana nasibku jika berada di sana lebih lama lagi. Sepatu dan kaus kaki yang kupakai robek karena cakaran mereka.
Tanpa menunggu lagi, aku langsung mencoba membuka ruangan yang terkunci tadi dan berhasil.
Seperti harapanku, gadis itu ada di dalam.
"Ayo kemari..." katanya sambil berjongkok dan mengarahkan tangannya mendekati seekor tikus. Menjijikan.
"Ayo, jangan takut," katanya lagi ketika tikus itu hanya diam. Lalu pelan-pelan ia mendekati tikus itu tetapi tikus itu malah kabur.
"Sepertinya bau parfum ini tidak enak. Binatang-binatang itu tidak menyukainya," dia menunduk sedih.
Aku pun langsung menghampirinya, "Kembalikan parfum ibuku!"
"Hehe..." dia hanya diam dan tertawa. Aku pun langsung menggeledah bajunya.
"Kenapa tidak ada...?" kataku sambil mencari-cari parfum ibuku, "Apa? Tidak ada? Dimana kau simpan parfum ibuku?"
"Tidak tau... Hehee, cari di sekitarmu mungkin?" katanya singkat setelah itu dia berlari kabur meninggalkanku.
Aku menghela nafasku, aku tidak mungkin bisa mengejarnya. Dia berlari sangat cepat. Lebih baik aku mencari parfum ibuku, aku yakin pasti ada di sekitar sini. Aku juga tidak bisa melewati ruangan penuh tikus itu tanpa parfum ibuku.
Di ruangan ini tidak terlalu banyak barang, hanya ada sebuah meja, lemari tua, dan beberapa durm barell kosong. Walaupun aku sudah menggeledah ke seluruh ruangan, aku tidak bisa menemukan parfum ibuku. Aneh sekali, dimana gadis itu menyembunyikannya?
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh seekor tikus yang keluar dari lemari tua itu. Aneh sekali, padahal aku tidak melihat ada tikus waktu mencari parfum ibuku.
Karena penasaran, aku mencoba menggeser lemari tua itu. Untung sudah lemari itu sudah tua dan agak rapuh, kalau tidak mungkin aku tidak akan kuat untuk menggeser lemari itu.
Di belakang lemari ada sebuah retakan yang menjadi celah tikus itu untuk keluar. Mungkin ada sesuatu di dalam celah itu. Aku pun menggunakan gergajiku untuk merobek celah dinding lalu mencoba masuk ke dalam.
Ternyata ada sebuah lorong yang cukup gelap dan sempit, tetapi karena aku cukup kecil, aku masih bisa masuk ke dalam.
Nah itu dia parfum ibuku. Ternyata parfum ibuku tergeletak di lantai. Akupun langsung menyimpan parfum itu baik-baik. Aku tidak akan membiarkannya hilang lagi.
Tapi entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak, dan benar saja tiba-tiba ada tangan yang mencoba meraihku.
Aku terkejut dan mundur perlahan, sampai seseorang, umm tidak bisa dibilang seseorang. Mungkin lebih tepatnya mayat yang penuh darah dan luka yang berhasil hidup kembali, muncul dan mencoba mengejarku.
Walaupun penuh luka dan hanya bisa merangkak mengejarku, dia terlihat berbahaya. Dia melihatku seakan aku ini mangsanya dengan matanya yang menakutkan.
Sekuat tenaga aku berlari hingga keluar ruangan lalu mengunci pintunya. Sambil berharap dalam hati dia tidak bisa keluar dari situ.
Untunglah setelah beberapa saat, aku tidak lagi mendengar gedoran pintu dan suaranya. Sepertinya dia sudah tenang.
Aku pun mengeluarkan parfum ibuku dari saku bajuku. Ibu, hanya sedikit saja kupakai parfummu, oke? Demi ayah.
*****

KAMU SEDANG MEMBACA
Mad Father [Slow Update]
HorrorAya Drevis, gadis lugu berumur 10 tahun yang imut dan cantik harus berurusan dengan banyak mayat hidup alias monster di rumahnya karena ayahnya, Alfred Drevis. Ayah Aya bisa dibilang adalah seorang ilmuwan gila. Dia menggunakan hewan, bahkan manusi...