Chapter 13 : Pernikahan

480 70 2
                                        

"Jeon, ayo kita keluar pagi ini" seorang gadis bermata sipit tiba-tiba masuk tanpa permisi melalui pintu depan.

Jeon yang sedang meneguk segelas air putih harus berhenti melihat ketidaksopanan Seulgi kerumahnya, "Bisakah kau mengetuk pintu dahulu?" tanyanya meletakkan satu bungkus ramen diatas meja makan. Ia tahu jika Jisoo setia sejak malam dalam kamarnya.

"Aku terlalu semangat. Maafkan aku" Seulgi melingkarkan tangannya dilengan Jeon yang berisi itu, "Ayo kita pergi"

Huh~
Helaan nafas berat keluar dari mulut Jisoo. Semalaman ia terjaga. Ia tidak mengistirahatkan matanya yang sayu itu. Menangis dan terus menangis yang dilakukannya semalam.

Jisoo berjalan menuju pintu. Perutnya demo ingin cepat diasupi makanan.

Ditempelkannya telinga kepintu. Mendeteksi apakah ada Jeon diluar atau tidak.

Hening. Tak ada suara apapun selain detak jam yang senantiasa menghitung waktu. Tidak ada Jeon dibawah?

Tangannya meraih ponsel silver disaku. Diketiknya nomor Jeon lalu ia hubungi secara privat agar nomornya tak dikenali Jeon.

Telinganya kembali menempel pada pintu. Tak ada suara apapun. Benar, tidak ada Jeon disana.

Jisoo membuka pintu secara perlahan agar tebakannya benar. Dan benar saja tak ada Jeon disana.

Ia melangkah normal menuju dapur. Didapatinya sebungkus ramen melambaikan tangan padanya.

Sudut bibir Jisoo terangkat diwajahnya. Ternyata, Jeon masih peduli padanya. Ia meninggalkan satu bungkus ramen untuknya.

Dengan alunan musik dimulutnya, Jisoo mulai memasak.

"Kita mulai pembicaraan dari mana?" Seulgi menikmati kopi capuccinonya.

"Awal" singkat Jeon dingin.

"Baiklah. Kita mulai dari Rain terlebih dahulu. Lebih tepatnya penyebab dia meninggal. Tapi kau harus janji padaku untuk selalu menemaniku kemanapun"

"Mm"

"Saat kecelakaan itu, sebetulnya pengemudi dibalik mobil van itu adalah Jisoo" mata Jeon membulat, "Dia melindas tubuh Rain sangat sadis" rahang Jeon mengeras. "Setelah kecelakaan itu, dia pergi menyimpan mobilnya entah kemana lalu kembali sebagai penolong disitu" Jeon menghela nafas berat.

"Fakta?"

"Ya. Aku saksi disitu"

"Saksi?"

"Ya. Aku menonton awal kejadian itu terjadi" Jeon mengalihkan pandangannya. Diangkatnya kaki hendak pergi namun Seulgi dengan cepat menggenggamnya. "Jangan pergi. Ingat janjimu padaku Jeon" Jeon mengalah. Dirinya kembali duduk berhadapan dengannya.

"Kau ingin kemana?" tanya Jeon malas.

"Aku harus menghadiri acara pernikahan kakakku. Jadi ikut denganku. Kau harus menjadi pasanganku diacara nanti"

"Aku?"

"Iya. Kau. Jeon Jeongguk"

Seulgi menghabiskan satu gelas kopinya. Ia berdiri menarik tangan Jeon dan membawanya pergi dengan mobil putih kesayangannya.

"Kemana?" Jeon semakin malas mengikuti arah keinginan Seulgi.

"Kita harus pergi belanja. Menyiapkan baju untukmu dan aku dipesta pernikahan nanti" katanya masuk kedalam mobil yang diikuti Jeon.

Mereka mulai pergi dari tempat. Selama perjalanan, Jeon hanya membungkam mulut enggan berbicara apapun atau berkomentar apapun. Pikirannya terus berjalan menghantui Jisoo dan Rain. Bagaimana bisa seorang gadis lugu polos itu menghabisi nyawa Rain sesadis itu. Benar tak masuk akal jika pelakunya adalah Jisoo, si gadis lugu.

RAIN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang