Chapter 5 : Pengabaian

502 81 2
                                        

Sekolah Bangtan tiba-tiba ramai memperbincangkan masalah kebebasan dalam sekolah. Artinya, mereka tidak belajar dan tidak dibimbing oleh guru mereka selama beberapa bulan kedepan. Ada sebuah masalah yang menimpa sekolah hingga orang-orang penting harus berurusan dengan pihak berwajib. Sekolah tidak diliburkan karena Kepala Sekolah tak ingin masalah sekolahnya tersebar luas. Cukup orang-orang didalamnya saja yang mengetahui kondisi sekolah.

"Jisoo, kau ingin pulang bersamaku?" seorang lelaki bertubuh kecil dari Jeon menghampiri Jisoo yang tengah memasukan beberapa buku kedalam tas. Jisoo terdiam melirik sejenak pada Jeon yang juga sedang memasukan buku.

"Mm," Jisoo kebingungan mengingat perkataan Jeon jika ia tak seharusnya menaiki motor jika dilihat dari kondisi pakaiannya. Sedangkan lelaki yang menawarinya pulang, membawa motor. Iris mata cokelat Jisoo kembali menyorot Jeon yang kini beranjak pergi. "Sepertinya kau harus pulang sendiri. Aku harus memastikan jika Jeon pulang dengan selamat" jelas Jisoo meranselkan tas, "Aku pamit. Hati-hati Jimin-ah" pamit Jisoo berjalan cepat menyusul Jeon.

"Kau baik-baik saja?" tanya Jisoo ketika ia berhasil mengejar Jeon. Jeon diam mengabaikan pertanyaannya. "Sepertinya baik" tuturnya menyadari akan abaian Jeon. "Mm, apa kau ingin pulang sekarang?", Jeon diam. " Mm, sebetulnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu", Jeon diam. "Aku hanya ingin memberitahu jika ibumu sedang merencanakan rumah untuk kita berdua", Jeon berhenti melangkah setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Jisoo. Jisoo ikut berhenti tepat satu langkah didepannya.

"Apa yang kau ucapkan adalah benar?" Jeon tak percaya. Jisoo membalas dengan anggukan. "Tanpa rekayasa?", Jisoo mengangguk. "Ck" decak Jeon kesal melanjutkan langkahnya.

"Jeon!" Jisoo mengejar langkah Jeon, "Kau tenang saja. Aku akan bicara pada orangtuamu begitupun dengan orangtuaku untuk tidak merencakan hal konyol ini" kata Jisoo dalam hati kecewa keinginan ibunya dan dirinya tak direstui Jeon. Benar, Jisoo diam-diam meloncat ria mendengar eomma akan mewujudkan keinginannya dalam menyatu atapkan dirinya bersama Jeon. "Aku menyerah hari ini juga. Aku tidak ingin bahagia buatan didepan orangtuaku maupun orangtuamu. Aku akan berkata sejujurnya pada ibuku jika tunangan ini harus dibatalkan" bisik Jisoo menunduk. Hatinya seakan diremas-remas setelah berbicara seperti itu. Ucapan yang seharusnya tak ia lontarkan ketika hati berkata tidak.

Sore ini matahari bersembunyi dibalik awan hitam menutupi langit. Rintik hujan mulai turun. Butir lembut air membasahi jalanan perlintasan bus. Hujan sebentar lagi akan turun lebat. Jalanan nampak lengang. Hanya ada satu dua kendaraan berlalu lalang. Jisoo merapatkan mata sekuat tenaga. Ia khawatir dengan kondisi cuaca sore ini mengingat bus yang juga belum datang. Apalagi hujan deras ditemani kilat dan guntur besar tentu semakin membuat Jisoo takut.

Sepertinya doa Jisoo terkabulkan. Hujan turun semakin deras membuat jalanan luar nampak seperti kabut. Gadis itu menunduk dengan tangan yang menggenggam kepala. Sedikit demi sedikit rasa takutnya mulai datang.

Jeon yang ada disampingnya melupakan kelemahan Jisoo. Dilihatnya diatas sana awan semakin tebal saling menggulung dan menggumpal. Warna putih tak lagi mendominasi. Gelap dan mengerikan, begitulah keadaan diatas sana. Tapi, melihat cuaca seperti ini, Jeon teringat pada Rain. Hari kemarin, Rain absen. Mungkinkah sekarang Rain hadir melihatnya terjebak ditempat pertemuan pertama?

Kilatan cahaya merah membelah awan hitam dilangit. Menghasilkan suara begitu menakutkan. "Ahh!!" teriak Jisoo ketakutan. Keadaan semakin kacau. Tak hanya sekali, petir menyambar berkali-kali. Membuat konsentrasi Jisoo melebur bersama rasa takut. Tangannya semakin dingin, dan bibirnya memucat.

Jeon menoleh mendengar teriakan gadis disampingnya. Maniknya menangkap sosok gadis yang tengah berusaha melawan takut. Jeon ingat. Jisoo memiliki rasa takut berlebihan pada hujan dan petir.

Jeon mendekat dan memeluk Jisoo dari samping mengelus lengan Jisoo yang terasa dingin, "Jangan takut", Jisoo menangis dalam dekapan Jeon. Manik Jeon tertuju pada jalanan yang nampak seperti kabut. Jeon memang membenci Jisoo. Tapi ia tak ingin membuat gadis didekapnya itu menangis.

Kilatan cahaya merah kembali membelah awan dengan suara yang teramat tinggi. Jari jemari Jisoo meremas kemeja putih Jeon yang rapi. Dia benar-benar ketakutan. Air matanya bertambah membasahi kemeja putih Jeon. "Aku takut.. Aku takut"

"Ada aku disini" ucap Jeon menenangkan Jisoo.

Hujan tak ingin berhenti. Kilatan cahaya terus bermunculan membelah awan hitam dilangit. Jeon merasakan keganjalan dalam mendekap gadis penakut. Gadis ini seakan bertambah berat hingga kepala yang tadinya mengumpat dileher Jeon, tiba-tiba melorot. Isakan tangis Jisoo yang seharusnya masih terdengar, kini terbata-bata menurun. Jisoo sesak nafas. "Jisoo," panggil Jeon menyentuh puncak kepala Jisoo, "Kim Jisoo?" Jeon mulai khawatir ketidak jawaban Jisoo.

Jisoo tak sadarkan diri. Wajahnya pucat. Jeon menidurkan Jisoo dibangku halte dan dirinya mulai berusaha membangunkan Jisoo. "Jisoo! Kim Jisoo!" panik Jeon menepuk-nepuk pipi tirus Jisoo, "Jisoo!" paniknya semakin menjadi. Jari jemari Jeon melonggarkan dasi yang mencekik Jisoo. Tak ada cara lain selain ia memberikan nafas buatan untuknya.

"Jisoo! Kim Jisoo!", Jisoo belum sadar. Jeon tak henti memberikan nafas buatan untuknya.

Selesai. Jeon memberikan nafas buatan terakhirnya tepat pukul 6 sore hujan reda. Tak ada lagi kilatan cahaya, suara guntur dan kederasan hujan. Jeon menyerah panik meletakan kepalanya tepat disamping kepala Jisoo. Jisoo tersadar. Ia dudukan tubuhnya tanpa sepengetahuan Jeon. Air matanya jatuh dipipinya. Air mata jatuh ketika ia melihat Jeon dan mengingat ucapannya tadi untuk berusaha membatalkan tunangan ini. Hati Jisoo sakit. Sebenarnya ia tak ingin lepas dari Jeon. Jisoo benar-benar tulus mencintai Jeon walau Jeon membencinya dan masih mencintai Rain.

"Jisoo? Kau baik-baik saja?" Jeon sadar melihat Jisoo yang sudah duduk menunduk. Jisoo mengangkat dagunya menatap nanar lelaki yang dicintainya sambil mengangguk. "Apa yang membuatmu menangis?" tanya Jeon duduk disamping Jisoo. Jisoo menunduk menggeleng menghapus air matanya.

"Aku baik" Jisoo mengangkat dagunya menatap lurus kejalanan yang nampak basah. Hatinya remuk tak ingin melihat wajah Jeon. Bibirnya terlipat kuat hingga membentuk sebuah garis lurus diwajahnya.

"Aku akan membantumu untuk membatalkan tunangan ini" ucap Jeon seperti kilat. Air mata Jisoo kembali jatuh mendengar ucapan kilat Jeon yang menyayat hatinya. Jisoo menunduk membiarkan air matanya terus mengalir.

------

TBC

Jeon! Kamu jahat! 😭😭😭

RAIN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang