Chapter 15 : Sepeda

460 72 0
                                        


"Aku akan pergi sejenak. Tunggu, jangan sampai kau melarikan diri" pamit jimin beranjak entah kemana.

"Hati-hati jiminie" bisik jisoo. Senyumnya mengembang diwajah kecilnya. "Hamdphoneku mana?" tangannya meraba-raba saku dibajunya. Tak ada ponsel disana. "Ya ampun" dirinya menepuk jidat, "Aku lupa meninggalkannya didalam kamar"

Lelaki bergigi kelinci menemukan ponsel berwarna silver diatas kasur yang berantakan. Tangannya meraih ponsel itu dan mencoba mengaktifkan.

Ponselnya menyala. Ditangkapnya langsung foto si gigi kelinci dilayar ponsel silver itu. Benar, jisoo memasang foto jeon sebagai gambar utama ponselnya.

Tangannya terus berjalan mencari galeri disana. Dapat. Galeri terbuka membuat mata si gigi kelinci membulat. Bagaimana tidak, ternyata galeri ponsel jisoo penuh dengan gambar dirinya yang tanpa ekspresi itu.

Jantungnya seakan lepas dari tempatnya saat melihat satu gambar dimana jisoo membuat tulisan dicermin dengan lipstiknya yang berwarna merah.

"Jeon Jeongguk.. Entah apa yang membuatmu berubah sikap lagi padaku. Aku mencoba mencari kesalahanku sendiri apa, tapi aku tidak menemukan jawabannya. Bukan bermaksud untuk menyalahkan seseorang, tapi kurasa kau berubah karena seseorang. Seseorang yang sebenarnya tak suka pada pertemanan kita. Ah.. Aku benar-benar lemah dalam hal ini. Jeon Jeongguk, aku merindukanmu"

Jeon menelan liur setelah membaca gambar bertuliskan dirinya, 'tidak-tidak. Ini semua akal-akalan jisoo saja. Sekali lagi, dia bermain alur sangat cerdik' gumam jeon dalam hati.

Angin besar bertiup dari dalam kamar. Gorden putih yang tadinya berdiam diri, sekarang bergerak sesuai arah angin.

"Jeon Jeongguk" panggil seseorang dari balik badan jeon. Manik jeon menatap lurus kedepan sebelum pada akhirnya menoleh kebelakang. Suara itu tak asing lagi ditelinganya.

"Ck. Sudah kukatakan. Jika kau mati, pergi dan tak usah kembali" kata jeon sengit membelakanginya lagi.

"Jeon, kau membuatku sakit"

"Kau itu mati"

"Jeon. Perasaan jisoo dapat kurasakan. Kau membuatnya hancur jeon"

"Pergi."

"Jeon, kau masuk dalam perangkap yang salah. Bukan jisoo yang membunuhku. Bukan"

"pergi."

"Orang yang menjerumuskan jisoo, adalah pelaku kematianku jeon"

"Pergi!"

"Tidak. Aku tidak akan pergi"

"Pergi!" Jeon berbalik badan menatap sengit gadis yang pernah ia cintai itu.

"Entah hasutan seperti apa hingga membuatmu seperti ini. Asal kau tahu, wanita yang kau percayai itu adalah wanita yang membunuhku. Orang itu yang ada dibalik mobil van saat kita tertabrak. Kuharap hatimu dan pikiranmu terbuka. Sekali lagi, bukan jisoo"

"Pergi, Rain. Pergi!" jeon membalikkan badan mengacak rambutnya frustasi. Pada siapa sekarang harus ia percaya. Apakah tetap pada seulgi yang mengaku sebagai saksi disana atau rain yang mengaku seulgi lah yang membuatnya mati.

RAIN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang