Chapter 3 : Kesalahpahaman

641 96 10
                                        

Masih dalam keadaan buruk diluar sana. Pemuda berparas tampan itu melangkah masuk tanpa permisi mengambil handuk. Dalam pikirnya, mengapa Rain belum menghubunginya padahal waktu hampir menjelang malam. Kebiasaan sosok gadis pemikat hatinya datang dicuaca buruk, kini tak datang atau bahkan belum datang? Pemuda berparas tampan itu belum menemukan jawabannya.

"Ya ampun, kau baik-baik saja putraku?" wanita tua datang menghampiri Jungkook yang sedang mengacak rambut mengenakan handuk.

"Mm" singkatnya.

"Baru saja eomma mendapatkan telepon dari ibunya Jisoo. Dia bilang kau bermain hujan dengan Jisoo. Ah~ hati eomma benar-benar melayang sekarang" ujarnya manis memandang Jungkook. Jungkook terhenti. Hatinya terkejut mendengar respon yang baik dari ibunya. Nyatanya, semua itu adalah rekayasa semata dari mulut Jisoo.

"Kookie~ kamu tidak sayang eomma?" tanya wanita tua itu melihat putranya dua langkah dari tempat. Putranya berhenti melangkah membalikan badan memberikan kecupan singkat dipipinya yang masih kencang. "Terima kasih Jeongkookie"

Sebetulnya, wanita tua itu tidak setua yang kalian bayangkan. Hanya usia saja tua, tapi paras? Jauh dari kata tua. Parasnya seperti dua puluh tahunan. Saat ia berjalan dengan putranya, orang-orang mengira jika mereka adalah sepasang kekasih bukan sepasang ibu dan anak.

°°°

Burung-burung bernyanyi ria membangunkan seluruh manusia pemalas dalam tempatnya. Semua terbangun kecuali pemuda tampan bergigi kelinci ini. Dia masih enggan untuk bangun walau kicauan burung memanggilnya.

Jisoo. Tunangan Jungkook mendapat perintah dari wanita berparas dua puluh tahunan untuk membangunkan putranya. Awalnya, Jisoo si gadis berhati malaikat ini enggan karena kesadaran dirinya yang dianggap tak ada oleh Jungkook. Hati malaikat itu tak ingin mengecawakan eomma alias ibunya Jungkook. Ia melangkah mendekati kamar Jungkook lalu masuk menggantikan kicauan burung.

Tak ada siapapun. Hanya kasur kusut sehabis pakai yang ada. Mungkin pemuda bergigi kelinci sedang membersihkan diri dikamar mandi. Langkah yang baik bagi si gadis. Dia paling tidak suka dengan kekusutan dalam hal apapun. Tangannya ia pekerjakan untuk merapikan kasur kusut itu dengan garis senyum yang mengiringi pekerjaannya.

"Khm" Jungkook berbalut handuk dari pinggang hingga lutut melihat gadis yang tak disukainya merapikan kamar. Merasa terpanggil, Jisoo menoleh dan memundurkan tubuhnya saat melihat lelaki tunangannya berbalut handuk. Sontak saja tangannya menutup mata agar sesuatu yang indah dipandang tak terekam oleh bola matanya.

"Pakai bajumu Jeon" katanya masih menutup mata. Tubuhnya gemetar setelah melihat tubuh Jungkook yang berisi dan kuat. Yang dilihat matanya yaitu bentuk perut kotak tersusun rapi. Jungkook, si tampan manis dan pemilik tubuh yang indah membuat para pasang wanita jatuh cinta ketika melihatnya.

"Aku akan seperti ini jika kau tidak keluar" tutur Jungkook membuka lemari pakaian. Deretan baju berwarna hitam merah dan putih memenuhi ruang lingkup lemari.

"Ambil seragammu Jeon" sambar Jisoo mendengar decitan lemari yang telah terbuka, "Kau harus sekolah. Kita satu kelas Jeon" sambung Jisoo mendengar bisikan Jungkook yang tak percaya jika dirinya masih berstatus pelajar.

Irisan mata berwarna hitam tertuju pada Jisoo. Dirinya tak sadar dengan busana apa yang dipakai Jisoo. Dilihatnya seragam putih berdasi merah dan blazer kuning diluarnya diakhiri rok diatas lutut menjadi pelengkap status pelajarnya. Benar, Jisoo seorang pelajar.

"Bolehkah aku keluar sekarang?" tanya Jisoo dibalik tengannya.

"Mm" jawab Jungkook membalikan badan mencari seragam yang sama seperti Jisoo. Dan benar saja, blazer kuningnya ada terhimpit jas berwarna gelap dan merah. Tangannya meraih blazer itu lalu kembali mencari kemeja putih polos sebagai pasangan dari blazer.

RAIN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang