Chapter 8 : Lipstik

519 81 3
                                        

Begitu cepatnya langit malam berganti langit biru nan indah menyapa pagi ini. Seorang gadis berwajah kecil dengan matanya yang bulat terbangun dari mimpi indah. Disorotnya isi kamar ini yang sepi dan bercahaya. Bukankah semalam gadis itu sudah menutup jendela dengan gorden putih dan gorden cokelat muda diluarnya? Mengapa sudah terbuka? Siapa yang telah membiarkan sinar matahari menyapanya? Jeon? Tak mungkin. Mungkin gadis itu lupa jika memang tidak menutup gorden.

Tehempasnya kaki menyentuh lantai telanjang. Jarinya sibuk mengikat rambut panjang berwarna hitam. "Hoam~" rasa kantuknya tak dapat hilang. Dengan jalan bak seorang pemabuk, gadis itu melangkah keluar berniat membuatkan sarapan untuknya dan lelaki bergigi kelinci.

Aroma cantik menyambut indra penciumannya. Sudut bibir gadis itu terangkat menutup mata menikmati aroma bau. Betapa indahnya aroma bau hingga menyeru perut ratanya untuk diisi.

"Hmmm??" bibir gadis itu naik keatas membentuk garis lengkung kebawah melihat sosok lelaki bergigi kelinci menyiapkan sarapan pagi. Ternyata ia kalah cepat dari lelaki itu. "Selamat pagi Jeon" sapanya mendekati Jeon yang sedang meletakkan beberapa hidangan diatas meja makan.

"Mm" balas Jeon sibuk menghidangkan makanan.

"Aku bantu ya" tawar Jisoo hendak membantu Jeon yang dengan cepat ditolak mentah olehnya.

"Duduk" pinta Jeon tanpa memandang gadis disampingnya yang sedang menatapnya aneh.

Hidangan selesai. Jisoo duduk berhadapan dengan Jeon. Matanya tak henti memuji hidangan pagi ala Jeon. Semangkuk sup hangat kesukaannya. "Waaa" seru Jisoo menatap mangkuk yang sedang melambainya sambil bertepuk tangan. Wajahnya berseri-seri ketika sendok mulai ada pada genggamannya. Dibasahi bibir keringnya yang sudah tak sabar ingin melahap sup beraroma segar, "Sayang sekali, aku harus memakanmu supku" sendu Jisoo tak tega melihat sup cantiknya dimakan. Jeon yang ada didepannya tak memperdulikan kekanakan Jisoo. Ia mengabaikan Jisoo dengan cara tetap makan dan sesekali melirik Jisoo yang menurutnya lucu seperti anak kecil.

Akhirnya gadis itu melahap sup buatan Jeon. Matanya yang bulat membesar. Mulutnya berhenti bekerja ketika sup itu masuk kedalam mulutnya. Merasa ada yang aneh, Jeon memandangnya. Jeon berpikir apakah ada yang salah dengan makanannya atau tidak.

"MM!!" Jisoo semakin membesarkan matanya.

"Hm?" Jeon mengalihkan pandangannya pada sup. Khwatir jika supnya tak sedap.

Jisoo menelan sup, "Enak! Enak!" puji Jisoo langsung menyantap supnya dengan semangat, "Aku belum pernah merasakan sup seenak ini. Benar-benar enak!!" lanjutnya menyeruput sup langsung dari mangkuk. Jeon menunduk tersenyum lalu kembali melahap sup.

Itulah Jisoo. Seorang gadis berumur 18 tahun masih seperti anak-anak. Namun tingkahnya sama sekali tak membuat bulu kuduk Jeon berdiri, malah garis senyum yang ada pada wajah Jeon.

"Cepat mandi" Jeon berdiri membawa mangkuk bekasnya ke westafel.

"Yaaahh abis" sendu Jisoo meletakan mangkuknya dengan wajah yang dilipat. Jeon menghampiri merebut mangkuk bekas Jisoo. "Mau kau apakan mangkuk itu?" tanya Jisoo merentangkan tangannya seraya ingin mengambil kembali mangkuknya.

"Buang" jawab Jeon mulai mencuci mangkuk.

"Jeon pembohong!" kesal Jisoo melipat tangan diatas meja sambil mengerucutkan bibirnya manis setelah melihat Jeon mencuci mangkuk. Jeon yang sedang mencuci tersenyum. "Apa kau sudah mandi?" tanya Jisoo tak ingin lama-lama marah pada Jeon.

"Mm" jawab Jeon. Alis Jisoo beradu.

"Kapan?"

"Ketika kau tidur" Jeon mengelap tangannya yang basah. Jisoo mengangguk-angguk. "Cepat mandi. Bau tau" ledek Jeon merapikan tempat makannya barusan.

RAIN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang