Matahari muncul menggantikan posisi bulan. Dengan cahayanya yang begitu sinar dapat menembus kaca jendela kamar Jungkook yang tertutup gorden putih. Jungkook masih tertidur pulas walau sorotan matahari mengenai wajahnya yang putih itu.
"Rain!" teriak Jungkook mengigau mendudukan tubuhnya dengan nafas terengah.
Teriakan Jungkook membuat Jisoo berhenti mendekatinya. Ia benar-benar terkejut diambang pintu dan hampir saja sup hangat ditangannya jatuh akibat teriakan Jungkook. "Kau baik-baik saja?" tanya Jisoo memastikan sebelum ia benar-benar berada didekat Jungkook.
Jungkook menghela nafas menundukan kepalanya sejenak lalu diangkatnya kembali kearah Jisoo. "Ck" Jungkook membuang arah pandangnya memberikan sebuah isyarat ketidak ingin hadiran Jisoo.
"Selamat pagi Jeon Jeongguk" Jisoo melangkah mendekati Jungkook yang masih membuang pandangnya pada sudut kamar, "Aku buatkan sup hangat untuk sarapan pagimu" lanjutnya duduk ditepi kasur Jungkook dengan tangan yang mengaduk sup. Jungkook menghela nafas lagi. Ia berusaha menahan emosinya pada gadis yang tak dicintainya. Melihat Jisoo yang kekeh memberi perhatian padanya, ia bangkit dari kasur. "Jeon Jeongguk, kau ingin kemana?" sambar Jisoo ditiap langkahan Jungkook yang mendekati pintu
Lagi-lagi Jungkook mengabaikan Jisoo. Ia terkekeh dengan langkahan menuju ibunya yang mungkin tengah berada diruang tengah. Dan benar saja, ibunya ada diruang tengah sambil membaca buku. "Eomma, tolong pinta Jisoo untuk meninggalkan tempat ini" katanya berdiri dihadapan wanita tengah paruh baya.
"Apa yang baru saja kau katakan?" tanya ibunya pelan terkejut mendengar permintaan Jungkook mengenai gadis pilihannya. Kedua matanya membulat memandang putra semata wayangnya, "Permintaanmu membuat hati eomma sakit, Jeon"
Jungkook terdiam. Ia mengepalkan tangannya tak habis pikir mengenai permintaannya yang melukai hati sang ibu. "Maaf" katanya membalikan badan berjalan menuju kamar
"Jeon Jeongguk" panggil Jisoo melihat Jungkook kembali. Dilihatnya Jungkook sedang mengambil jaket kulit hitamnya dan memakainya, "Kau akan pergi kemana Jeon?"
Jungkook berjalan mendekati Jisoo, "Kau ingin ikut denganku?" tawar Jungkook membuat wajah Jisoo tersenyum.
"Mm" angguk Jisoo dengan senyumannya yang tulus
Jungkook berjalan mendahului Jisoo hingga teras rumah. Ibunya yang tadi marah seakan terobati melihat Jungkook dan Jisoo berjalan bersama walau tidak beriringan. "Hati-hati" ucap wanita itu tersenyum melihat putranya yang mulai akrab dengan Jisoo. Jisoo menoleh melemparkan sebuah senyuman bahagia pada wanita itu
Jungkook keluar mengenakan helm hitam dan motor ninjanya juga yang berwarna hitam. Ia mengulurkan helm putih bercak kartun pada Jisoo yang langsung menerima uluran Jungkook. "Naik" ucap Jungkook dingin bersiap mentancapkan gas
Entah pergi kemana hingga kening Jisoo mengerut ketika melihat jalanan yang sepi dan banyak sekali pepohonan besar tumbuh dibahu jalan. Bak orang baru, Jisoo benar-benar tidak tahu jika Kota Seoul memiliki sebuah komplek seram dan sesepi ini. "Jeon, kita akan pergi kemana?" tanya Jisoo dengan perasaan yang tak nyaman. Lagi-lagi Jungkook mengabaikan Jisoo. Ia mengerem motornya tepat dibahu jalan.
"Turun" pinta Jungkook dingin membuka kaca helmnya. Jisoo menuruti perintah Jungkook dengan pandangan yang terus ia edarkan betapa seramnya jalanan ini. Ia ambil helm yang telah dipakai Jisoo lalu kembali mentancapkan gas meninggalkan Jisoo sendiri dibahu jalan nan seram.
"Jeon Jeongguk! Jangan tinggalkan aku! Aku takut!" panik Jisoo berteriak melihat Jungkook yang mulai kabur dari pandangannya, "Jeon Jeongguk!!" teriak Jisoo sekuat mungkin hingga air matanya menetes. Ini sungguhan. Jisoo takut akan kesendirian disebuah tempat terbuka. Ia kebingungan mencari kesekeliling apakah ada tempat untuk ia bersembunyi selain dibalik badan pohon yang besar ni. Jisoo benar-benar takut.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAIN (Complete)
Fanfiction"Inilah hari terakhir kita" ucap Jeon Jeongguk menundukan kepalanya sejenak tak ingin melihat senyuman diwajah Jisoo memudar. ---- Penasaran?? Yok baca..
