Twelve

248 21 1
                                        

Hari-hari di minggu terakhir bekerja di Iwagakure terasa begitu cepat berlalu. Hari ini sudah hari kamis dan besok sudah hari terakhir kerja di proyek rumah sakit bersama Madara Corp. Rasanya begitu cepat, Sakura masih betah di Iwa. Ada banyak hal yang masih ingin ia ketahui, terutama soal rahasia yang disimpan keluarga Uchiha tentang Sasuke. Kenapa nama Sasuke dihapus dari daftar nama anggota keluarga Uchiha?

"Ponselmu rusak?"

Sakura mendongak. Ia menemukan Gaara berdiri didepan meja kerjanya. "Oh, tidak.." Jawabnya.

"Kenapa kau melamun menatap ponselmu?"

Sakura menghela napas. "Akhir-akhir ini ada orang tak dikenal yang sering meneleponku, menyebalkan sekali!"

"Kau kenal nomornya?"

"Tidak. Dia mem-privat nomornya."

"Pengecut sekali!" Ujar Gaara. Pria itu menyeringai. "Abaikan saja orang seperti itu."

"Ya. Aku mengabaikannya. Kau sudah beres?"

"Beres. Ayo pulang!"

Sakura bangkit dari kursinya. Ia menengok ke arah Konohamaru yang masih berkutat dengan alat gambar dan penggaris bersama dua orang anggota tim Gaara. "Semangat, Hamaruu!"

"Sial! Pergi sana kalau kau sudah selesai!" Konohamaru merengut.

Sakura hanya tertawa. Ceritanya Konohamaru menghilangkan sebuah gulungan berisi denah utama rumah sakit. Konohamaru merasa bertanggungjawab dan dia meminta maaf pada Obito. Akhirnya Konohamaru mengerjakan kembali pekerjaannya. Beruntung sekali dua arsitek dari tim Gaara mau membantunya.

Baru saja Sakura beranjak dari kursinya, ponsel didalam tasnya berdering. Ia bergegas mengambil ponsel dari dalam tas, tapi sebelum ia mendapatkan benda itu, bunyi deringnya berhenti.

"Apa nomor itu lagi?" tanya Gaara.

Sakura menyalakan ponselnya. "Ya. Dia lagi. Aah, siapa sih dia sebenarnya?! Menjengkelkan sekali!"

"Kau bisa pakai filter kontak, kan?" tanya Gaara.

"Mana bisa di filter kalau nomornya saja tidak ada?" Sakura berjalan ke pintu keluar kantor lapangan.

"Benar juga." Gaara mengikuti di belakang Sakura.

Gaara dan Sakura sampai di kedai ramen menaiki taksi. Keduanya ingin menghabiskan waktu bersama sebelum kontrak kerja Sakura bersama Madara Corp berakhir dan mereka berpisah kembali. Keduanya memutuskan untuk ngobrol di kedai ramen.

"Ramai sekali. Kukira kau tidak suka tempat ramai." Ujar Gaara.

Sakura hanya tersenyum lalu menuju ke kursi di pojok ruangan. "Manusia selalu ingin membuat perubahan dalam hidup, kau tau?" Ia lalu duduk di kursi, bersebrangan dengan kursi yang diduduki Gaara. "Gaara, maafkan sikapku beberapa saat yang lalu."

"Aku mengerti, Sakura. Makanya sudah kubilang kemarin, siapkan dulu hatimu."

"Ya, aku hanya belum siap."

Gaara memperhatikan Sakura sebelum ia melanjutkan pertanyaannya. "Sakura, yakinkan hatimu. Apa yang kau inginkan sebenarnya?" tanya Gaara.

"Gaara, aku.. masih ingin menunggu Sasuke.." Sakura akhirnya mengaku pada Gaara. "Aku tidak tahu ini benar atau tidak. Apa Sasuke benar-benar berniat untuk bertemu denganku atau tidak, tapi sulit sekali buatku untuk membuka hati untuk yang lain. Kau pasti mengerti maksudku! Aku.. Gaara, Sasuke benar-benar merebut semua perhatianku."

Gaara menatap Sakura sebentar, pria berambut merah itu kemudian menghela napas. "Aku yakin dia juga ingin denganmu." Ucap Gaara. Gaara menghela napas kedua kali. "Aku tidak tahu kenapa tapi mungkin ada sesuatu yang menghalanginya."

After the StormTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang