🎶 Scenarioart - Sayonara Moon Town 🎶
Sarada tak tahu pasti sekarang sudah jam berapa, yang dia tahu hanyalah dia sulit bergerak. Sebelum jatuh tertidur yang dia ingat adalah dia menangis sampai dadanya sesak karena kedua orang tuanya terlihat lebih menyayangi calon adiknya dibanding dirinya.
Jika mengingat itu rasa kesalnya seolah kembali lagi. Menyebalkan.
Mata sayunya mengerjap menyesuaikan dengan pencahayaan yang remang bahkan nyaris dikata gelap, ditambah lagi dia sedang tidak mengenakan kacamatanya sehingga pandangannya agak buram.
Kepalanya menoleh ke kanan dan yang di dapati adalah wajah Ibunya yang terlelap damai dengan memeluk tubuh mungilnya. Kini dia tahu apa yang membuatnya sesak dan sulit bergerak.
Kemudian dia menoleh ke kiri, di sana ada Ayahnya melakukan hal yang sama. Memeluknya erat seakan ingin meremukkan tubuh Sarada menggunakan lengan kekarnya.
Ini kamar Mama. Pikirnya ketika sadar bahwa selimut tebal yang membalut tubuhnya dan kedua orang tuanya bermotif bunga-bunga dengan warna soft. Selimut dan seprai kamarnya bermotif kartun jadi mudah saja dia menyimpulkan bahwa saat ini dia tidak sedang tidur di kamarnya sendiri.
Pertanyaan bagaimana dia bisa berada di kamar ini pun segera memenuhi kepalanya. Tapi tak mau repot-repot berpikir Sarada membuat kesimpulan pasti Ayahnya lah yang memboyongnya ke kasur ini.
Sarada tersentak ketika tiba-tiba saja jam weker yang selalu rutin dipasang oleh Ibunya berbunyi nyaring. Nyaring sekali sampai memekakan telinga.
Gadis itu cepat-cepat menutup erat kedua kelopak matanya ketika sadar dua manusia yang tengah menghimpitnya bergerak pelan--terganggu dengan suara weker tersebut.
Sudah hampir pagi. Batin Sarada ketika merasakan tubuh Ibunya menjauh darinya.
Suara weker itu hilang bersamaan dengan hilangnya tubuh Sakura dari sisi Sarada. Sarada yakin Sakura sudah mematikan wekernya. Tapi tak lama Sarada merasakan tubuh Ibunya beringsut lagi di sisinya, kembali memeluknya lagi.
"Sasuke, kau harus bangun, hey!?" Suara serak Sakura menjadi bukti bahwa wanita itu tidak kembali tidur melainkan sedang membangunkan suaminya yang masih lelap merangkul Sarada, seolah Sarada adalah guling yang tak perlu bergerak atau pun bernafas.
Lelaki itu mengerang, dia makin merapatkan diri dengan tubuh Sarada dengan menggelengkan kepala di atas puncak kepala Sarada sehingga Sarada jadi kegelian akibat ulah Ayahnya.
"Sasuke, kau bisa ketinggalan pesawat!"
Mata Sarada terbelalak lebar, tak peduli Ibunya jadi tahu bahwa dia hanya pura-pura tidur. Ucapan Sakura jauh lebih menarik dibanding acara pura-pura tidurnya.
"Eh, kau sudah bangun Sayang? Maaf, suara Mama mengganggumu ya?" Sakura membungkuk, menyingkirkan rambut yang menutupi kening Sarada dan mencium kening lebar Sarada. "Tidurlah lagi, ini masih jam empat."
"Jam empat?" Sarada membeo.
Sakura tersenyum kemudian mengangguk. "Papa harus pulang ke Tokyo pagi-pagi supaya Paman Itachi tidak mengamuk karena Papa terlambat ke kantor."
Kedua bola mata lebarnya mengerjap kemudian dia berbalik menghadap Ayahnya, balas memeluk tubuh jangkung Ayahnya yang juga tengah memeluknya. Sarada menempel, kemudian memeluk erat sekali. Kedua kakinya melingkar di pinggang Sasuke seolah Sarada adalah bayi koala dan Sasuke adalah induknya.
Sakura yang mengerti maksud dari bahasa tubuh Sarada pun hanya mampu terkekeh dan mengusak rambut hitam Sarada sebelum benar-benar turun dari ranjang menuju kamar mandi.
KAMU SEDANG MEMBACA
SINGLE New Generation
FanfictionKelanjutan hidup Sarada setelah Mama Papanya bukan seorang "SINGLE" lagi. --oOo-- Sasuke x Sakura x Sarada All cast Naruto New Generation. Naruto © Masashi Kishimoto AvalerieAva 2017 present : "SINGLE New Generation".
