- Extra Part II -

9K 627 149
                                        

🎶 Bruno Mars - Marry You 🎶

🌷🌷🌷

Sudah ditetapkan. Satu bulan lagi aku akan menikah dengan Mitsuki.

Kebiasaan calon pengantin, mereka akan sibuk menyiapkan pernikahan sebaik-baiknya, tapi aku dan Mitsuki tidak. Aku masih sibuk dengan kasus-kasus dan sidang-sidang, lembur sampai harus dijemput Papa, sedangkan Mitsuki masih sibuk dengan pesawat-pesawat yang dikemudikannya.

Sesekali pikiran negatif hinggap di kepala, pikiran konyol hasil kontaminasi dari sinetron-sinetron alay kesukaan Nenek, seperti contohnya : bagaimana kalau tiba-tiba pesawat yang dikemudikan Mitsuki jatuh di laut lalu Mitsuki mati, mayatnya tak ditemukan karena habis dimakan ikan piranha? Kemudian aku dipaksa menikah dengan pria lain yang bersedia menggantikan Mitsuki di hari pernikahan, kami menikah dan hidup bahagia—mungkin—lalu tiba-tiba Mitsuki muncul lagi dengan alasan dia baru mendapatkan kembali ingatannya karena dulu sempat hilang saat pesawatnya terjun ke laut.

Ah konyol. Kuanggap itu pikiran aneh efek dari stress dan syndrome menjelang pernikahan. Bolehkah aku berlagak layaknya aku akan benar-benar menikah?

Dengan kesibukan yang seperti itu, jangan tanyakan padaku sejauh mana persiapan pernikahan kami. Oh, apa aku baru saja menyebut kami? Wow, kau benar-benar seperti seorang perawan yang hendak menikah, Sarada.

Mother in Law is calling...

Aku memutar bola mata ketika melihat layar ponselku yang tiba-tiba menyala. Kutinggalkan sebentar layar komputerku demi mengangkat panggilan dari Ibu Mitsuki. See, romantis bukan nama kontak Ibu Mitsuki di ponselku.

Bukan. Bukan aku yang memberi nama. Tapi Sakagami. Sudah! Jangan tanya bagaimana ceritanya dia bisa menamai Ibu Mitsuki dengan nama seperti itu di ponselku.

"Ya, Ibu?" Jawabku pura-pura antusias.

"Apa kau sibuk hari ini, Sarada? Ibu perlu mengajakmu pergi untuk mencari catering pernikahanmu. Teman Ibu merekomendasikan beberapa alamat catering yang menurut mereka makanannya enak. Kalau bisa nanti siang setelah survey catering, kita pergi ke butik untuk memilih seragam bagi keluarga mempelai—"

Aku membanting punggungku pada sandaran kursi, kujauhkan ponselku dari mulut dan aku menguap lebar bak kuda nil. Lebar sekali!

Ohhh! Bolehkah aku mengeluh?

Enam minggu lalu Mitsuki dan keluarganya resmi melamarku kepada Papa dan Mama. Seminggu setelah lamaran dadakan itu Mother in Law-ku ini mengajakku mencari lokasi resepsi dan kukelabuhi dengan alasan aku sidang sehingga Mama yang menggantikannya. Minggu berikutnya—atau hari ini—dia mengajakku untuk survey catering dan menentukan seragam untuk keluarga.

Haruskah kusuruh Mama lagi untuk menggantikanku? Kemudian membiarkan Mitsuki mengomel lagi padaku karena menurutnya aku ini calon istri yang tidak bertanggung jawab, yang membiarkan Ibu dan Ibu mertuanya keluyuran menyiapkan pernikahan?

Sialan! Seenaknya saja dia mengatakan aku tidak bertanggung jawab sedangkan dia sendiri pun tidak bertanggung jawab sama sekali untuk acara ini!

Yang dia tahu hanyalah menyetor uang jika Ibunya mengadu perlu ini itu untuk biaya pernikahan. Brengsek, kalau begitu saja aku juga bisa! Aku juga punya uang untuk membiayai pernikahanku sendiri!!

Arghh, sudahlah. Uratku bisa putus jika terus-menerus mengingat kekesalanku pada Mitsuki.

Jika diteliti, itu adalah kali pertama perang besar antara aku dan Mitsuki setelah kami resmi menjadi sepasang kekasih.

SINGLE New GenerationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang