Bab 4

6.6K 607 52
                                        

Aditya berdiri di barisan paling depan bersama Fachri dan Jejen. Sedangkan teman-teman yang lainnya berdiri di belakang mereka bertiga.

Sebenarnya Aditya malas tawuran hari ini, karena gara-gara kemarin dirinya menyetujui Jejen untuk tawuran. Dirinya harus membatalkan acara belanja bantal hello kitty bersama Adira.

"Woy banci. Yakin lo mau tawuran? Nanti dijitak aja nangis!" Ejek salah satu anak dari SMA Pelita Kasih yang berdiri di barisan paling depan.

"Haha banci ikut tawuran, mending main masak-masakan aja gih." Ucap salah satu anak lain nya.

"Iya tuh, gak salah apa banci kek gitu jadi ketua kalian." Celetuk salah satu anak lain nya dan diikuti tawa dari teman-temannya.

Aditya menguap, dia benar-benar bosan mendengar ocehan dari lawannya.

Memangnya salah jika Aditya tawuran memakai baju hello kitty. Padahal menurutnya cowok pake baju hello kitty itu cute membuat kegantengan nya meningkat.

"HAJAR AJA DIT! HAJAR!!" Teriak Jejen tak terima.

"Tenang, tenang! Sebelum tawuran dimulai, mari kita berdoa dulu untuk keselamatan diri masing-masing." Ajak Aditya sambil mengangkat kedua tangannya.

Fachri menjitak kepala Aditya sedikit keras. "Si bego! Ini bukan waktunya lo ngelucu tau."

"Lah siapa yang ngelucu? Kata Guru ngaji gue alangkah baiknya berdoa dulu sebelum kita melakukan sesuatu."

"Serah lu lah Dit." Balas Fachri sebal.

"Heh kalian semua udah minta doa restu dari emak belum? Biar berkah kita tawurannya!" Tanya Aditya pada anak-anak SMA Pelita Kasih.

"Ini niat tawuran gak sih!" Ucap salah satu anak dari SMA Pelita Kasih yang kesal karena Aditya mengulur waktu terus.

"Niatlah , gue kan mau nya tawuran syariah. Jadi kalian minta doa restu dulu gih ke emak! Di sms kek atau di video call gitu." Suruh Aditya santai.

"Boa edan! Eta elingkanlah, mana ada tawuran syariah bego!"

Anak-anak dari SMA Pelita kasih menggeleng-gelengkan kepalanya, Adita memang menguras kesabaran mereka semua. Nyesel rasanya mereka telah menantang SMA Nusantara, jika tau ketua SMA Nusantara seperti ini.

"Dit, kapan kita tawuran nya? Gue tau lo lagi bad mood gara-gara gajadi belanja bareng Adira." Bisik Fachri ke telinga Aditya.

"Kapan-kapan aja kalau gue mood." Jawab Aditya santai dan mendapatkan jitakan dari Fachri.

"Udahlah biarin aja si Adit!" Jejen mengerti jika Aditya bad mood tidak boleh di ganggu. "AYO SERANG!!" Teriak Jejen sambil berlari duluan.

Fachri dan teman-teman yang lainnya berlari menyusul Jejen. Sedangkan Aditya hanya menatap teman-temannya sambil menyilangkan kedua tangan nya di dada.

Saat mereka berniat menyerang satu sama lain, Aditya tersenyum miring dia mendapatkan sebuah ide. Aditya pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana.

"STOP!!" Teriak Aditya keras.

Mau tak mau mereka semua langsung berhenti dan menoleh ke arah Aditya.

"Ada apaan lagi sih Adit? Kalau ga mood tawuran lo diem disana aja dah." Tanya Fachri gemas dengan sikap Aditya hari ini.

"Sesungguhnya tawuran itu kegiatan yang gak berfaedah! Lebih baik kita dangdutan aja yuk." Ajak Aditya tersenyum manis sambil mengangkat ponselnya ke atas dan menggoyang-goyangkannya.

Salah satu anak dari SMA Pelita Kasih berjalan menghampiri Aditya, lalu melayangkan pukulan ke pipi Aditya serta tendangan di perut. Aditya terjatuh belakang karena kaget serangan dadakan dari salah satu lawannya, dan ponsel yang dia pegang barusan pun ikut terjatuh.

Aditya mengusap darah yang ada diunjung bibir nya, lalu mengambil ponselnya yang terjatuh. Aditya kembali berdiri di depan lawannya dan menatap sedih pada ponselnya.

"Woy! Ini cicilan hp gue belum lunas, masih ada 11 bln lagi yang harus gue bayar. Nanti gue ngomong apa sama emak gue woy?" Teriak Aditya marah.

"Lagian salah lo juga sih! Orang lagi tawuran malah diajak dangdutan!"

Aditya melemparkan ponselnya asal, dia menatap cowok yang berdiri di depannya dengan tatapan tajam.

Jejen dan Fachri yakin sebentar lagi bakal ada yang merasakan ngilu luar biasa.

"Jen, burung tuh laki pasti bentar tinggal kenangan." Ucap Fachri pelan dan dibalas anggukan oleh Jejen.

Aditya mundur lima langkah, lalu berlari menghampiri cowok yang tadi merusak ponselnya dan menendang tepat ke bagian alat vital cowok itu.

"Arghhh!!" Jerit cowok itu sambil memegang alat vital nya.

"Mampus lu! Mandul-mandul deh lu." Ucap Aditya tertawa senang.

Aditya menatap secara bergantian ke arah anak-anak dari SMA Pelita Kasih.

"Siapa lagi yang mau gue tendang? Sini maju!" Tantang Aditya.

Tak ada yang menjawab pertanyaan Aditya. Sebagian dari anak SMA Pelita Kasih memilih berlari kabur, sedangkan sebagian lagi membantu cowok yang tadi Aditya tendang.

"Gue ngaku kalah sama kalian! Kita ga bakal ngajak kalian tawuran lagi." Ucap salah satu anak SMA Pelita Kasih.

Aditya tak membalas ucapan anak itu dan lebih memilih berjalan menghampiri kedua sahabatnya.

"Jen, tadi hp gue di lempar kemana ya?" Tanya Aditya gelisah takut ponselnya semakin rusak.

"Mana gue tau, kan lo yang lempar." Jawab Jejen jujur.

"Si bego! Bukannya cegah gue, kalau tuh hp makin rusak bisa-bisa gue ga dikasih duit jajan sama emak gue." Ucap Aditya sambil mengacak-acak rambut frustasi.

"Lah? Kan yang ngelempar lo tapi malah nyalahin gue. Yang bego disini siapa sih?" Tanya Jejen gemes.

"Gue yang bego disini! Tapi harusnya lo sebagai sahabat yang baik cegah gue dong, lo kan tau emak gue galaknya kek gimana kalau hp gue rusak lagi." Ucap Aditya sedih sambil duduk dijalan.

Fachri tertawa keras melihat ekspresi Aditya seperti anak kecil yang takut di marahi ibunya.

"Hayo loh siap-siap uang jajan lo dipotong, dan lo gak bisa beli lagi hello kitty." Ucap Fachri memanas-manasi dan mendapatkan lemparan sepatu dari Aditya.

"Dasar sahabat pengkhianat." Ketus Aditya.

Fachri dan Jejen hanya tertawa. Benar-benar lucu tingkah sahabatnya yang satu ini.

Tbc.

Aditya & Adira [On-Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang