Theme 12: Fragments

2.1K 276 11
                                        

Shani Indira seharusnya bersyukur dengan pertemuan ini. Tapi, dia tidak merasa begitu. Sejujurnya, aku tidak bisa menebak apa yang tengah ia rasakan saat ini. Shani adalah seorang gadis biasa. Tubuhnya lumayan tinggi, rambut hitam arang, kulitnya tidak terlalu pucat ataupun hitam. Dia memiliki wajah yang menarik namun kosong. Hal yang istimewa tentang Shani Indira adalah tidak adanya hal yang istimewa tentang dirinya sedikitpun, terutama dengan kondisinya saat ini.

"Ceritakan pada saya semua anda ketahui mengenai Shania Gracia," aku mulai bicara. Notepad sudah siap diatas meja.

"Dia seorang PSK dan dia teman saya."

Itu sangat tidak informatif. Aku mengetuk-ngetukkan jariku pada meja.

"Ada yang lain?"

"Tidak ada 'yang lain'."

Aku menyesap kopiku dan merengut karena rasa pahitnya. Lagipula, kopi dan kurang tidur adalah kombinasi yang sangat buruk.

"Saya sudah melakukan beberapa penyelidikan mengenai Shania Gracia. Dia tinggal disini seorang diri, orangtuanya berada di luar negeri. Sepertinya, dia adalah anak yang kabur dari rumah. Saya sudah mencoba menghubungi keluarganya tapi tak ada seorangpun yang menjawab."

Aku mengambil notepadku dan membaca entry sebelumnya. Aku sudah bertanya pada dua bartender yang barnya sering di datangi oleh Gracia. Aku tidak pernah suka menginterogasi bartender karena mereka selalu berpura-pura innocent meskipun mereka mengetahui hampir segala hal. Tapi mereka berdua, Lidya dan Desy, cukup kooperatif untuk memberiku jawaban yang jelas. Mereka bukan teman terdekat Gracia namun mereka mengenal Gracia lebih baik dibandingkan orang lain. Bahkan lebih baik dari Shani.

"Apa anda mengetahui sesuatu tentang Nino Hamdan?"

"Dia menusuk mata kanan saya. Dia germo dari Gracia."

"Apa anda tau sesuatu mengenai pembunuhannya?"

"Saya tidak tau apa-apa lagi. Saya pingsan setelah dia menusuk mata saya."

Aku mengangkat alisku.

"Apa anda mempunyai alibi untuk membuktikan pernyataan anda?"

"Sepertinya anda meragukan saya, Ibu Kinal."

"Sebut saja skeptis."

Shani memutar bola matanya. Dia tersenyum namun terlihat seperti ejekan bagiku.

"Kalau anda meragukan saya, kenapa tidak anda tanyakan saja pada Gracia? Dia tau yang sebenarnya terjadi," dia menyilangkan lengan tanpa mengalihkan pandangannya dariku. "Itu pun... kalau anda bisa."

Shani benar. Saat ini aku tidak bisa mewawancarai Gracia, menimbang kondisinya saat ini. Mental Gracia sedang tidak stabil dan menanyainya tentang kasus ini hanya akan membuatnya mengamuk. Semua kasus yang pernah kutangani sampai saat ini, kasus yang mengandung unsur perkosaan didalamnya berada di paling bawah dalam daftarku. Aku seorang perempuan. Hatiku sangat sakit mengetahui ada banyak perempuan tidak beruntung di dunia ini yang hidup dalam penderitaan tanpa akhir serta tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri.

Memikirkannya saja sudah cukup untuk membuat darahku mendidih.

"Jadi? Anda akan bertanya padanya atau tidak?"

"Anda tau ini adalah masalah yang sensitif kan?"

Shani menghirup napas dalam, sedikit bersandar pada kursinya. Dia terlihat begitu tenang.

"Anda membutuhkan bantuan saya."

Itu bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan. Dia tahu aku tidak bisa bertanya pada Gracia secara personal.

August's SnowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang