Part II
Mata sang gadis mengerjap beberapa kali. Di depannya, sosok bak bidadari dari khayangan tersenyum kepada Lydia. Apakah ini mimpi? Atau sebuah ilusi? Entah yang mana, Lydia pun tak mengerti.
Suara yang begitu lembut, tapi juga penuh ketegasan, berbicara kepada Lydia yang diam membeku. Mata sang gadis terpukau, tak bisa ia bergerak. Rupa sosok di depannya begitu cantik, juga rupawan.
"A-anu ...."
Rona merah mewarnai wajah Lydia. Gadis yang masih belia menunduk malu.
"Terimakasih."
Lirih pelan keluar dari bibir. Jantungnya berdegup kencang. Bila bukan karena sang pahlawan yang datang entah darimana, maka nasib Lydia tidaklah seperti ini. Takdir memiliki kejutan yang aneh.
Sang gadis mengatur napasnya. Tarik, hembuskan. Kepala didongakkan. Tiap kali ingin mengatakan sesuatu, ia tak berani. Perasaan malu dan gugup bercampur mengalahkan api keberaniannya yang ceria.
Sang servant pirang memerjapkan mata beberapa kali. Diam. Bingung karena tak mengerti harus berkata apa. Tanpa komunikasi, lelaki itu tak bisa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Apakah Lydia terluka? Ataukah sang servant telah berbuat kesalahan?
"Ada apa, master?"
Servant tak bernama berbicara.
Seketika Lydia menggeleng kepala. Gelagapan, wanita itu tak berani melihat sang servant.
"B-bukan apa-apa!" Lydia setengah berteriak. "Jangan pikirkan ...."
"Ah ... begitu."
Seolah paham, servant tersebut memberi jarak kepada tuannya yang baru. Aku sempat berbicara mengenai tanpa komunikasi, maka tidak ada pengertian, bukan? Maka aku akan menariknya kembali. Berbeda dari laki-laki biasanya, sang servant mengerti apa yang diinginkan oleh perempuan tersebut.
Netra indah menyebar ke sekeliling. Para berandalan kota masihlah nyenyak dalam tidur mereka. Servant itu diam, kemudian berpaling kembali kepada tuan.
Alih-alih membicarakan tentang kejadian sebelumnya, sang servant mencoba untuk mengalihkan topik.
"Aku terkejut." Nada bicara menarik kembali perhatian gadis tersebut. "Dipanggil tiba-tiba tanpa ada mantera sejujurnya cukup mengagumkan, master."
Master?
Panggilan itu terus-terusan diucapkan oleh lelaki tanpa nama. Anak itu tak pernah memiliki pengalaman sebagai seorang magus. Ikatan kepada penyihir saja tidak pernah disebutkan oleh orang tuanya.
"Anu ... maafkan aku, tuan." Lydia bersuara pelan. "Aku tidak paham mengapa anda memanggilku master."
Jangan-jangan ...?
"Nona, apa anda tidak tau apa yang sedang anda alami?" Nada suara serta mimik wajah pun berubah. Sang servant menjadi sedikit lebih serius.
"Eh?"
Terasa baru akan fenomena yang terjadi di depan mata. Lydia dengan herannya menurunkan suara.
"Maaf ...." Lagi, kepalanya turun. Wajah manisnya tersembunyi dibalik rambut itu. "Tapi kurasa aku tidak mengerti."
Lantas, sang servant menyunggingkan senyum. Meski memang benar akan menyusahkan kedepannya, pria rupawan tersebut tidak menghina Lydia, ataupun mengomel. Malah, dengan senang hati dia menjelaskan.
YOU ARE READING
Fate/Cryptid Genesis
Fanfiction(Disklaimer: seri Fate dibuat dan dimiliki oleh Type-Moon, Kinoko Nasu, dan Takeuchi Takechi. Mohon support seri resminya) Sudah 13 tahun setelah Perang Cawan Suci, pihak Asosiasi Sihir membongkar inti Cawan dan membuat peperangan itu mustahil untuk...
