Part II
Namanya adalah Gray. Dia merupakan murid dari Lord El-Melloi II. Perempuan itu seringkali mengenakan tudung kemanapun ia pergi. Mungkin karena sifatnya yang begitu pemalu, sampai-sampai di dalam ruangan kantor gurunya pun ia memutuskan untuk tetap mengenakan tudung.
Saat ini, sepertinya Gray masuk di waktu yang tidak tepat. Situasi intens dari percakapan serius kerap kali ia temui saat waktu yang salah. Dan seringkali percakapan itu adalah percakapan antara sang guru dengan adik angkatnya.
"O-oh maafkan aku bila mengganggu." Seketika sang gadis berbicara. Suaranya terdengar pelan juga lembut. "Aku akan keluar bila mengganggu," lanjutnya malu-malu.
Sambil memegang erat tudungnya itu, perempuan bernama Gray berpaling ke arah pintu. Namun, tepat sebelum daunnya diputar, Reines langsung menyeletuk.
"Oh Gray, tidak perlu pergi," ujar Reines. "Kami hanya membicarakan sesuatu yang tidak begitu penting." Kemudian Reines melihat ke arah kakaknya. "Benarkan, kak?"
Sunggingan senyum terpasang manis di wajah gadis pirang tersebut. Seolah-olah memberi isyarat kepada kakaknya. Sang lelaki awalnya diam, tak tau harus berkata apa. Ia menghembuskan asap putih keluar dari bibir.
"Tidak. Ini begitu penting." Lord El-Melloi II menjawab sebaliknya.
"Eh?" Reines sedikit terhenyak.
"Dan karena ini penting." El-Melloi tua melanjutkan. "Aku ingin kau membuatkan segelas teh. Tidak masalah, kan nona?"
Gray berbalik. Anak itu seperti anak hilang di tengah percakapan yang berat. Ia penasaran, tapi juga merasa tidak enak. Kala sang guru memintanya untuk membuat teh, sebenarnya terdengar seperti memberi kesempatan.
Gray bukanlah seorang magus yang hebat. Ia sadar itu, dan tidak menyangkal realita. Namun, ia sendiri melihat bagaimana gurunya melampaui segala rintangan sebagai seorang magus yang payah. Bahkan, terkadang Gray harus melindungi gurunya dari bahaya.
Tak perlu menjadi seseorang yang punya banyak sirkuit sihir hanya untuk melampaui satu titik. Gray memiliki keyakinan tersendiri, walaupun menjadi magus bukanlah niatan utamanya.
Sementara Gray pergi membuat teh, Lord El-Melloi II bersama adiknya, Lady El-Melloi, sedang berbincang-bincang mengenai Perang Cawan Suci. Sempat terhenti ketika Gray datang, dan sekarang mereka berniat melanjutkan pembicaraan mereka. Keduanya tampak serius mengenai masalah itu.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Reines bertanya.
"Bukankah pihak Asosiasi sudah mengirimkan satu enforcer untuk ikut serta?" Lelaki itu menjawab.
"Tentu. Tapi bukankah kita sendiri tidak bisa hanya diam dan melihat?"
"Hmm ...."
Sang lelaki memegang dagu. Diam kembali menyingsing. Sementara Gray memerhatikan kedua orang itu sambil mengaduk dua cangkir berisi teh. Aromanya beradu dengan bau tembakau yang amat melekat.
"Apa sudah selesai, nona Gray?"
Kemunculan sang maid mengejutkan Gray. Nyaris saja ia terhentak menjatuhkan dua cangkir itu. Bila bukan karena refleksnya, mungkin teh yang telah ia buat sudah tumpah semua.
"Hahaha!" Tawa itu berasal dari balik jubah sang gadis. "Kau bahkan terkejut pada sampah magus, Gray! Betapa bodohnya dirimu!"
Suara mengejek tersebut berasal dari Add, kurungan kecil yang terkait di belakang lengan kanan Gray. Gadis itu tidak membalas. Hanya membiarkan Add melanjutkan tawanya.
YOU ARE READING
Fate/Cryptid Genesis
Fanfiction(Disklaimer: seri Fate dibuat dan dimiliki oleh Type-Moon, Kinoko Nasu, dan Takeuchi Takechi. Mohon support seri resminya) Sudah 13 tahun setelah Perang Cawan Suci, pihak Asosiasi Sihir membongkar inti Cawan dan membuat peperangan itu mustahil untuk...
