Prologue IV: Rider (Part I)

125 7 11
                                        


Part I

Harapan?

Apa itu arti harapan?

Ketika orang bertanya kepada Adelle, gadis itu tak tau apa jawabannya. Memiliki impian yang muluk bukanlah salah satu yang ada di pikirannya. Benar bila gadis itu punya mimpi, tetapi menjadi magus hebat bukanlah salah satunya. Walau darah para mistik mengalir di dalam nadi perempuan itu, sesungguhnya wanita tersebut tidak menyukainya.

Bukanlah masalah pribadi. Tak ada dendam maupun masa lalu buruk yang membawa trauma kepada Adelle sendiri. Kalau orang-orang tau tentang apa yang bisa dia lakukan, maka mereka akan iri dan cemburu. Di jaman yang modern ini, masih banyak orang mengharapkan punya kekuatan supranatural hanya untuk bermalas-malasan.

Hanya saja, hal tersebut bukanlah sesuatu yang normal. Bagi Adelle, ia tak bisa mengungkapkan keseluruhan dirinya kepada masyarakat. Tidak kepada teman-temannya, dan tidak kepada keluarganya. Tekanan yang ia terima dari orang tua, juga ekspektasi yang dijatuhkan oleh teman-temannya, membuatnya sedikit depresi.

Lantas bagaimana bisa seorang gadis bernama Adelle Lyriatt malah berakhir terjerumus ke dalam perang tak masuk akal ini?

Sebenarnya itu merupakan kesalahan Adelle sendiri. Di mata orang-orang, ia merasakan sedikit banyaknya gelisah yang tak nyata. Anggaplah dia adalah seorang gadis yang delusional. Penyakitnya itu terasa begitu nyata.

Berkata 'tenang saja, semua akan baik-baik saja.' Mungkin bisa meredakan emosi tertentu. Tapi tidak mengubah kenyataan bahwa akan ada badai yang datang menghantamnya dikemudian hari. Adelle takut, ia sungguh takut.

Bila suatu hari nanti akan terjadi, maka entah bagaimana dia bisa memiliki kekuatan untuk mengatasinya. Hati gadis itu cukup rapuh. Walau mungkin ada teman-teman yang bersedia untuk menemani dan mendengarkan, Adelle masih terserang perasaan tidak nyaman.

Bagaimana kalau nanti pandangan mereka berubah?

Trauma dari masa lalu akan sulit dihilangkan. Berbeda dengan luka pada fisik, luka pada batin sungguh lama untuk sembuh. Ketika orang-orang menganggapnya begitu enteng, Adelle malah makin takut. Pikirannya sudah cukup terpecah kemana-mana.

Bila ada satu saja cercahan harapan. Maka di sinilah harapan itu berada. Di tengah lapangan luas dimana angin berhembus sesuka hati, membelai surainya yang panjang. Sang gadis, dengan pakaian sederhana dan jaket yang senantiasa menemaninya, berdiri di depan lingkaran sihir yang telah dipersiapkan.

Bulan adalah saksinya, dan langit adalah penontonnya. Di bawah tuntunan para bintang, sang gadis mencoba meneguhkan hati. Ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya adalah taruhan. Menang atau tidak, berhasil atau gagal, ia harus memersiapkan dirinya dan menguatkan batin.

Tentu tidak mudah untuk seorang Adelle menguatkan diri. Ketika pikirannya saja tidak bisa tenang, maka apa yang bisa diharapkan dari pertimbangan seseorang yang penuh akan kegelisahan? Bila ada seorang magus yang melihatnya, tentulah mereka berkata tindakan Adelle tak lebih dari bunuh diri semata.

Akan tetapi, Adelle tau tentang itu. Ia yang paling mengerti mengenai keputusannya. Walaupun mungkin gadis itu memiliki beban hati yang berat, ia paham apa artinya permainan yang akan ia mainkan. Bila memang ada harapan, mengapa tidak menggunakan harapan itu?

Pikiran sang gadis tak pernah begitu muluk. Dia bukanlah perempuan yang cerdas. Peringkat di kelas tidak begitu menonjol, apalagi satu sekolah. Ketika ia melihat harapan, maka ia akan berusaha keras menggapainya.

Alasan seperti itulah mengapa Adelle ingin memenangkan Cawan Suci. Gadis itu memang naif. Dengan sekuat tenaga mengorbankan apa yang ia miliki hanya untuk mengambil satu katalis yang paling mendekati dengan pahlawan yang ia kagumi. Mungkin tidaklah begitu terkenal, tapi itu bukanlah masalah.

Fate/Cryptid GenesisWhere stories live. Discover now