Prologue IV: Rider (Part II)

150 6 6
                                        



Part II

"E-eh?"

Wajah tak mengerti, memandang sosok imut yang meragukan. Dia begitu cantik untuk seorang lelaki, dan terlalu imut untuk ukuran perempuan. Kebingungan melanda di dalam pikiran. Adelle tak mengerti mengapa servant yang ia panggil merupakan seorang perempuan.

Benar.

Untuk manusia yang baru saja ikut serta, tentu mereka tak akan paham. Dan itu termasuk Adelle. Namun, pikiran seperti rasa bingung dan lain sebagainya tak begitu nampak lagi ketika suara sang servant menyapa telinga lebih lanjut.

"Namaku Astolfo!"

Ia berseru. Nada girang, serta semangat mewakili tiap-tiap suaranya. Servant itu adalah servant paling ceria di antara yang lain.

"Kelasku adalah Rider! Jadi, jadi umm .... Mohon kerjasamanya!"

Dengan penuh semangat dia memperkenalkan diri. Senyuman yang lebar adalah tanda menerima apa adanya. Sang servant melakukan ini tanpa ada beban, dan mungkin dia tak pernah memiliki beban. Adelle takjub dengan apa yang dia lihat.

Sosok itu seperti penyelamat bagi sang gadis yang tak bisa berkata apa-apa. Jatuh terduduk di atas tanah, ia melihat sang servant yang tanpa ragu menyapa gadis tersebut. Apakah ini sebuah anugerah dari para dewa? Bila dewa nyata, apakah ini artinya Adelle diijinkan untuk ikut serta?

Gadis itu kehilangan kata-kata. Begitu bercahaya, dan begitu berkilau. Bahkan mungkin saking indahnya, Adelle ingin menangis. Tentu saja terdengar begitu berlebihan, tapi gadis itu memiliki alasan mengapa air matanya jatuh.

Ia bukanlah gadis yang begitu sukses. Tiap percobaannya kadang berakhir gagal. Apa yang dia kejar terkadang tak pernah membuahkan hasil sesuai harapan. Bahkan terkadang, kedua orang tua yang dimiliki oleh Adelle pun kecewa dengan tindakannya.

Lantas, apa yang lebih membuatnya terharu dibandingkan sosok yang muncul di hadapan Adelle? Sosok yang begitu semangat, juga menunjukkan senyuman tanpa ada beban sedikitpun. Bahkan bila ada di tengah badai, entah kenapa hati kecil sang gadis yakin kalau servant-nya akan bertarung dengan senyuman.

Adelle benar-benar kehilangan kata-kata.

"Master?"

Nama servant itu adalah Astolfo. Dan kini, ia kebingungan mengenai tuannya yang jatuh dengan mata berkaca-kaca. Tak begitu paham dengan situasi, mungkin begitulah nampaknya. Namun, raut wajah yang tadinya sempat kering, lalu menunjukkan sisi bahagia, adalah tanda Astolfo paham atas apa yang sedang terjadi.

"Tak perlu khawatir," katanya. Diulurkan tangan berselimut kain putih itu kepada Adelle. "Aku datang sesuai dengan panggilanmu, Master. Aku tidak akan mengecewakanmu."

Adelle seperti dibangunkan dari mimpi. Ia tersadar dari semua pikiran terhadap sang servant. Gadis itu menerima uluran tangan, dan mencoba berdiri sambil menunduk malu. Kesan pertama yang timbul mungkin begitu memalukan untuk Astolfo sendiri.

Entah mengapa, Adelle jadi merasa tidak enak. Dengan gampangnya Astolfo berkata tidak akan mengecewakannya, tapi di sisi lain apakah Adelle bisa mengimbangi servant itu? Maka bertanyalah ia kepada hati kecilnya dan kembali ragu dengan kekuatannya.

Namun, sebelum Adelle benar-benar terjatuh ke dalam pikiran sendiri, suara Astolfo lagi-lagi membangunkan dari keresahan.

"Ne, ne, master." Astolfo mendekat. "Apakah kau mau menunjukkan tempat menarik di kota ini?"

Fate/Cryptid GenesisWhere stories live. Discover now