Part I
Pagi itu, sosok yang paling membenci manusia sedang duduk di dekat tangga. Dikelilingi oleh hewan-hewan, pria berkulit gelap membagikan sedikit makanan mentah yang layak untuk dimakan. Tentu saja aneh bila sosok paling mengerikan rupanya bisa tenang dan punya hati juga. Tindakannya sebenarnya sudah tak lagi bisa disebut manusiawi
Elana yang melihatnya dari belakang pun beranggapan begitu. Di dekat pintu gereja, sang gadis mengerjapkan mata. Terkejut menyaksikan bagaimana Avenger, servant-nya, jadi cukup jinak bersama dengan hewan liar. Ingatan Elana akan kejadian yang lalu masih cukup segar di kepalanya. Kala pertama ia bertatap muka, bulu kuduknya berdiri.
Aura yang bengis bahkan mengalahkan dinginnya angin malam. Saat itu, ia masih ingat bagaimana Avenger, tanpa ampun membelah para berandal kota seperti memotong benang. Begitu mudah. Elana pun tetap ragu untuk membunuh meski ia dapat melakukan sihir.
Dan sekarang, tepat di depan kepalanya sendiri, sosok yang sama sedang sibuk bermain-main dan tampak sedikit riang bersama dengan hewan-hewan tersebut. Dimulai dari kucing, musang, anjing, sampai hewan sejenis ayam pun turut hadir di sana. Lantas, hal ini membuat Elana berpikir. Darimana asalnya hewan ternak tersebut?
"Umm ...."
Suara sopran sang gadis mencoba untuk menyapa.
"Avenger?"
Elana mengambil langkah pelan dan cukup berhati-hati. Pelan dan pelan, seakan ia tau bagaimana ujungnya bila sosok tersebut marah kepadanya. Langkah demi langkah hanya berharap nyawanya tidak hilang di saat Avenger membalikkan badan. Tanpa sadar, jarak mereka terpotong menjadi cukup dekat. Elana pun berhenti seketika.
Ia menelan ludah. Pria itu ada di depannya. Saat pertama kalinya bertemu, Elana mungkin tampak cukup berani. Tapi bila dipikirkan lagi, keberanian dia pun terasa cukup bodoh. Dibunuh di sini bukanlah hal yang lucu. Ia tak ingin pergi dengan tangan kosong tanpa makna.
Diam-diam menyelinap keluar dari gereja saja sudah susah. Apalagi saat mengumpulkan bahan-bahan pemanggilan. Bila ia mati di sini, maka semua persiapan yang telah ia lakukan—semua keberanian yang telah ia kumpulkan, akan menjadi sia-sia. Saat memikirkan kondisinya, tanpa sadar Elana mengepalkan kedua tangan.
Mungkin sebegitu berharganya sebuah nilai usaha bagi Elana sendiri. Sampai-sampai ia tak ingin mengecewakan diri lebih jauh. Tidak lama kemudian, sebuah suara menyeletuk lamunan panjang sang gadis biarawati. Kembali tersadar di atas bumi, Elana menatap kepada sosok yang duduk di depannya.
Ia berdiri. Tubuh yang menampilkan berbagai macam tato serta otot itu tampak dua kali lipat lebih besar dibandingkan badan kecil milik Elana.
"Aku tidak tau dan tidak mau tau, tapi jangan pernah berpikir negatif di dekatku." Avenger menolehkan kepalanya. "Itu memuakkan. Aku tidak mau merasakan apa yang sedang kau rasakan. Menjijikkan."
"A-ah maaf ...."
Elana langsung menundukkan kepalanya. Walau ini bukanlah kesalahan sang gadis, tapi kebiasaan meminta maaf sungguh tertanamkan di dalam diri sang biarawati. Avenger tak mengutarakan kata apa-apa. Kala ia berdiri, para hewan pun mengerti kalau waktunya makan telah usai.
Dengan sendirinya mereka berpencar. Salah satu dari mereka sempat berdiri sejenak dan menatap sosok gadis tersebut. Lalu kemudian, hewan-hewan itupun menjauhi halaman gereja. Kembali ke dalam pepohonan.
Avenger menutupi dirinya dengan jubah dan mengambil langkah memasuki gereja. Elana, sekali lagi, diabaikan begitu saja. Meski ia sempat berkata menghargai sang master akan keberaniannya, tingkah yang ia lakukan malah mencerminkan kebalikan. Avenger malah tidak memberi rasa hormat sama sekali.
YOU ARE READING
Fate/Cryptid Genesis
Fanfiction(Disklaimer: seri Fate dibuat dan dimiliki oleh Type-Moon, Kinoko Nasu, dan Takeuchi Takechi. Mohon support seri resminya) Sudah 13 tahun setelah Perang Cawan Suci, pihak Asosiasi Sihir membongkar inti Cawan dan membuat peperangan itu mustahil untuk...
