Prologue III: Lancer (Part I)

126 10 1
                                        

Part I

"Lancer."

Anak gadis itu memanggil. Tanpa malu, tanpa juga perlu khawatir. Ia seperti seorang gadis yang bersinar terang layaknya mentari di musim semi. Bahkan meski orang-orang di sekitarnya berpikir anak perempuan itu gila, dia tetaplah tidak peduli.

"Apa para Roh Pahlawan mengerti tentang jaman sekarang?"

Pertanyaan dilontarkan tanpa ada beban. Berjalan di trotoar pinggir jalan yang sepi, perempuan tersebut berhenti dikala lampu merah menyala. Diam, sendiri di depan zebracross putih.

Tato merah menempel di tangan. Gadis itu bukanlah sembarang gadis. Sejak awal pertemuannya yang secara tidak sengaja tadi malam, kini ia terlibat dalam sebuah perang yang tak pernah ia kenal.

Lantas, sebuah suara yang berat pun terdengar dari ketiadaan.

"Tentu saja." Tegas, tapi juga sopan, datang dari belakang sang perempuan. "Lagipula, Lydia, kami para servant diberikan pengetahuan mengenai era sekarang agar tidak kaget nantinya."

"Oh." Wanita bernama Lydia itu menjawab santai. "Terdengar seperti sekolah, ya?"

Sang Lancer terkekeh. "Sedikit seperti itu," balasnya.

Lampu hijau menggantikan merah, tanda agar para pedestrian segera menyebrang. Lantas, Lydia, sang gadis pirang, melangkahkan kaki jenjang dibalik rok berwarna biru tua. Umurnya masih cukup belia. Kemarin lusa merupakan perayaan ulang tahun Lydia yang ke-16. Gadis itu barulah menyentuh kelas 2 SMA untuk semester depan.

Sekarang ini, ia memilih untuk menikmati liburan di hari setelah tahun baru. Cuaca yang dingin tak menghentikan semangatnya. Wajah itu selalu berseri-seri. Tiap orang yang memandang pun tau kalau dia merupakan gadis yang baik.

"Jadi bagaimana rasanya menjadi pahlawan?" Lydia dengan iseng bertanya.

Awalnya tiada balasan. Kemudian tak lama, sang pria bersuara kembali. "Rasanya tidak begitu menyenangkan." Ia membalas pelan.

"Ah ...." Lydia hening. Sambil melanjutkan langkah kaki, sang gadis tak berbicara apa-apa.

"Ngomong-ngomong, Lydia. Kemarin, kamu bilang kamu tidak tau apa-apa mengenai perang ini, bukan?"

Lydia membalas dengan anggukkan.

"Lantas, apa yang kamu lakukan kemarin itu?"

Kemudian langkah Lydia berhenti. Ia menatap kepada sosok tak kasat mata tersebut. Netra biru seolah ingin bercerita tanpa perlu bertutur kata. Namun, sudah jelas tidak mungkin untuk sang servant membaca pikiran tuannya, bukan?

Kalau begitu, biarkan aku memutar waktu sampai kemarin sore.

***

Kemarin, tanggal 31 Desember, perempuan bernama Lydia berlari menyusuri ruas jalan yang sempit. Kota yang sepi; Exeter selalu mengalami sedikit kekosongan ketika malam tahun baru tiba. Kebanyakan dari mereka memilih untuk menonton kembang api di London sana. Tentu saja tidak semuanya.

Walaupun Exeter merupakan kota yang tenang, bukan berarti tiada sampah di sekitarnya. Para begundal yang haus akan nafsu itu berani menjejakkan kaki bahkan ketika matahari belum sepenuhnya tenggelam. Lydia menjadi mangsa yang diincar oleh harimau-harimau kalangan bawah.

Awalnya, perempuan itu sedang berkunjung menuju perpustakaan. Akan tetapi, Lydia malah teralihkan kepada gang yang cukup mencurigakan. Ia mendengar suara tangis disaat melewati gang tersebut. Dan karena usia yang muda, Lydia diisi oleh rasa penasaran yang amat besar.

Fate/Cryptid GenesisStories to obsess over. Discover now