Chapter 1 (Part II)

142 3 6
                                        

Part II


"Aku sudah membawa dua seragam seperti yang kau minta."

Anastasya membawa dua pakaian yang dilapisi oleh plastik. Ia terlihat lelah, seperti habis berebutan di dalam supermarket. Tanpa berbicara lebih banyak, perempuan itu menggantungkan dua pakaian tersebut di atas pintu lemari. Kemudian, ia melemparkan tasnya dan menghempaskan diri ke atas kasur.

"Melelahkan."

Anastasya mengeluh. Wajahnya terbenam, suaranya teredam. Sementara itu, sang lelaki berwajah pucat membaca komik sambil memakan kripik kentang. Ia tak tampak memerdulikan sang wanita selain memberikan suara-suara seperti: "Hmm."

Berserker, tanpa zirahnya, terlihat seperti seorang remaja biasa. Padahal, umurnya lebih tua dibanding yang terlihat. Belum ditambah kelakuannya yang suka membaca seri-seri komik seperti Batman, membuatnya tampak seperti anak masih kuliah.

"Kerja bagus," ucap Berserker. Bunyi gigitan kripik terdengar sehabis ia berbicara. "Besok kita mulai."

"Hmmmmmm."

Anastasya lagi-lagi mengeluarkan suara yang teredam. Walau begitu, Berserker tak tampak memerdulikannya. Di dalam kamar hotel yang berantakan, dua orang tersebut bermalas-malasan. Bagaimana bisa ada orang yang betah di dalam keadaan seperti kapal pecah?

Yah, aku sendiri tidak tau. Kertas peta tergeletak di atas lantai. Buku-buku komik tersusun menumpuk layaknya kursi tahta. Pakaian tergantung di depan pintu lemari, serta beberapa brosur tersusun di atas meja. Keadaan kacau balau itu sebenarnya dimulai dari beberapa hari yang lalu. Di saat dimana Berserker muncul.

Benar, beberapa hari yang lalu.

Saat itu, sang lelaki berzirah hitam memandang tuannya dengan rasa penasaran. Tatapan dari Berserker sebenarnya seperti mengatakan, 'Apa master-ku yang satu ini gila?'. Dikarenakan Anastasya senyum-senyum seorang diri sementara pikirannya sedang melayang kembali ke masa lalu, dimana dia masih di menara jam raksasa itu.

"Master?" 

Panggilan sang lelaki langsung menyadarkan wanita itu. Seketika wanita berambut coklat tersebut mengedipkan matanya. Fokus kembali kepada Berserker. Sang lelaki masih memandang dengan heran dan aneh.

Sementara itu, wanita tersebut memandang Berserker dengan tatapan kebingungan. Lamunannya hancur, jadi di sinilah ia tanpa tau apa-apa.

"Ada apa? Kau memerlukan sesuatu?" Anastasya langsung sigap.

"Ah tidak," balas Berserker. Pemuda tersebut menggaruk pipinya. "Cuman ... kurasa anda harus lebih fokus lagi."

"Ah maafkan aku," ucap Anastasya. Wajah wanita itu menggambarkan senyuman yang tenang. Ia mengambil langkah menuju kursi dan duduk. "Kalau begitu, apa saja yang harus kita persiapkan?"

"Hmm."

Untuk sejenak, sang lelaki berzirah hitam diam. Ia menopang dagu. Pose berpikir.

"Bagaimana kalau kita mencari pakaian untuk menyamar? Tapi sebelum itu, lebih baik kita melakukan survei di sekitar area," jelas Berserker. "Untuk ini, aku bisa melakukannya seorang diri. Nah, kurasa yang perlu kita lakukan setelah itu adalah memasang perangkap sihirnya."

Berserker dengan santai memberikan senyuman kepada tuannya. Seolah-olah ia ingin berkata bahwa rencana ini adalah rencana yang mudah. Sementara Anastasya, ia mengangguk-angguk seperti mencoba memahami. Wanita itu paham, tetapi ia perlu memikirkan sesuatu juga.

Fate/Cryptid GenesisWhere stories live. Discover now