Prologue V - Berserker (Part II)

29 2 0
                                        


Part II

"Ber ... serker?"

Anastasya mengedipkan mata. Tak percaya, rasanya seperti dihianati. Pandangannya membeku menatap sang lelaki yang berdiri gagah di depan muka. Bagaimana mungkin yang ia panggil adalah Berserker?

Hening.

Ruangan yang aromanya bercampur dengan wewangian pun diisi dengan keheningan yang dingin. Baik Berserker maupun Anastasya tak bersuara sedikitpun. Tatapan nanar masih melekat kepada sang lelaki berkulit putih. Sama sekali tak ada niatan untuk berpaling daripadanya.

"Apa ... ada yang salah, master?"

Berserker, yang tak punya ide sama sekali, menyuarakan kebingungannya. Daritadi sang lelaki berambut putih hanya diamati dengan pandangan nanar seperti heran. Untuk sejenak dia berpikir, menganalisa situasi yang. Namun sayang, ia masihlah tak mengerti.

Lagi, hening itu sungguh menyiksa. Bingung untuk sang Berserker, juga bingung untuk sang master. Hingga tidak lama, suara sopran sang wanita pun menjawab.

"Kenapa bisa ... kenapa malah Berserker yang keluar? Bukankah aku sudah mencoba segalanya untuk memanggil Saber ...?"

Jadi begitu alasannya. Mata sang servant melebar kala mengerti isi pikiran tuannya. Lantas, ia tersenyum dengan sedikit keangkuhan. Memanglah benar ia adalah seorang Berserker, tetapi, Berserker yang satu ini memiliki keanehan tersendiri. Maka tak lama, ia pun membalas tuannya.

"Aku tau kau pasti bingung, Master." Berserker berbicara. "Tapi apakah kau pikir servant yang kau miliki adalah seorang yang benar-benar gila?"

Lantas Anastasya kembali melongo tak mengerti.

"Jangan samakan aku dengan servant yang lain. Hanya karena aku ini datang dengan wujud Berserker, bukan berarti aku tidak bisa menjadi senjatamu."

Lagi, sungging senyumpun terbentuk di wajah sang lelaki. Tidak, ini bukanlah sifat angkuh. Berserker sejak awal bukanlah orang yang sombong. Walau mungkin kata-katanya terdengar seperti orang yang angkuh, sebenarnya hatinya cukuplah besar.

Lelaki yang menyandang kelas Berserker itu memiliki harga diri yang besar di dalam kemampuan bertarungnya. Walau memang tampak seperti seorang lelaki santai, ia tidaklah bermulut besar. Legendanya telah mengatakan segala hal yang mampu ia lakukan.

"Hmmm ...."

Tapi, meski Berserker mencoba meyakinkan dengan tindak-tanduknya, sang master malah masih tidak yakin. Matanya bergerak menyelidik dari atas sampai bawah. Ia mengambil langkah, mendekati sang lelaki sambil memerhatikan seksama.

"Kau memang seorang Berserker. Anehnya kenapa ciri-ciri gila tidak ada dalam dirimu? Ini tidak seperti yang dikatakan para tetua di Asosiasi."

"... Gila?"

Berserker makin bingung. Dengan cepat sang wanita merespon.

"Benar, kan? Kudengar para Berserker kehilangan akal untuk berpikir. Yang mereka punya hanyalah kekuatan besar juga insting yang hebat. Kudengar juga mereka tidak bisa diajak berbicara, dan suka teriak-teriak."

Sang wanita bertutur, memegangi dagunya sambil sesekali mengangguk. Lalu apa yang bisa laki-laki itu lakukan selain memasang wajah bingung? Belum apa-apa sudah mendapat master yang tampaknya cukup menyusahkan. Belum sampai di situ, Anastasya bersuara kembali.

Fate/Cryptid GenesisWhere stories live. Discover now