"Apa jaminan kemenangan kita, Elliot?"
Wanita itu duduk di atas sofa berwarna kemerahan. Di dalam ruangan yang mewah, ia menatap sosok lelaki yang memegang cawan bening berisi anggur merah.
"Kenapa kau yakin organisasi kita akan menang?"
Gaun merah membaur dengan warna sofa. Duduk dengan posisi yang elegan; sungguh jelas wanita itu bukanlah dari kalangan orang biasa. Pakaiannya mewah, belum ditambah ia sedang berbicara dengan salah satu orang terkaya di dunia.
Jam tua menunjukkan angka 8. Hari sudah malam, tapi keadaan di luar sana cukup sepi. Malam ini merupakan malam pergantian tahun. Dan semua orang tau, kota itu akan sepi karena beberapa orangnya memutuskan untuk pergi ke London.
"Sophie, Sophie."
Sang lelaki membuka mulut. Senyumannya menunjukkan kepercayaan diri. Ia adalah orang yang begitu yakin. Sudah menjadi bawaan dari keluarga, karena itulah ia tak bisa protes.
"Biarkan Asosiasi menuduh yang tidak-tidak. Kita tetap akan menang dalam perang kali ini," tuturnya santai.
Sementara sang lelaki yang tampak cukup muda itu meneguk anggur, wanita bersurai pirang malah tampak khawatir. Bukanlah salahnya. Wanita itu cukup dihormati dikalangan para penyihir. Wanita itu diberkahi dengan keluarga penuh tradisi dan kehormatan. Meski tidak terlahir sebagai magus yang sempurna, tapi Sophie sudah cukup bersyukur.
Terlahir sebagai anak tunggal, Sophie memiliki kewajiban untuk mengemban tugas keluarga. Sungguh sebenarnya bukanlah keanehan bagi para magus diberi tugas dari keluarga secara turun-temurun. Para magus, pada dasarnya, mencari cara menuju akar dari dunia untuk menemukan sihir yang sesungguhnya.
Banyak generasi-generasi tua terus mencari dan mencari, hanya untuk mendapatkan ilham dari Akashic sendiri. Dan itu merupakan sebuah kehormatan. Oleh karena itu, tradisi yang dibawa oleh magus-magus di seluruh dunia adalah tanda dari kesuksesan keluarga di generasi-generasi sebelumnya.
"Satu-satunya jalan yang kita miliki adalah Cawan Suci."
Sophie berbicara pelan.
"Kau tau kan apa artinya?"
"Tentu saja." Sang lelaki membalas dengan gelak tawa pelan. "Karena kita sendiri sudah memutuskan diri dari Asosiasi, kita harus mendapatkan Cawan Suci. Tentu saja mereka sudah menugaskan beberapa Enforcer untuk menangkap kita."
"Benar." Sophie membalas. "Dan aku minta kepadamu untuk tidak bertingkah santai. Karena keadaannya sudah tampak gawat."
"Oh ayolah."
Walau gawat, lelaki itu tak tampak panik. Berbeda dari Sophie, pemuda kaya dan rupawan masih bisa menegak segelas anggur merah tanpa perlu berpikir tentang kemungkinan buruk yang bisa terjadi kepada mereka nantinya. Sementara Sophie? Dia sudah panik mengenai realita yang dihadapkan kepadanya saat ini.
"Enforcer itu kelas rendahan," tutur sang laki-laki. "Mereka mungkin ditakuti karena kemampuan mereka. Tapi apa guna kekuatan penyihir di hadapan Roh Pahlawan? Aku yakin kamu pernah mendengar tentang tradisi di Timur itu, bukan?"
Sophie seketika menelan ludah. Ia teringat tentang kabar tradisi dari Timur yang cukup besar dan berakhir menjadi bencana itu. Konon katanya di situlah Perang Cawan Suci pertama kali terjadi. Para Pahlawan dipanggil ke dalam dunia untuk bertarung dan merebutkan benda mahakuasa tersebut. Bila menang, maka sang pemenang akan memperoleh apapun yang ia inginkan.
Bagi Sophie, keinginan yang terkabul bukanlah suatu hal yang bisa dianggap enteng. Konon sudah wajar bila para magus sendiri mencoba untuk mengambil jalan singkat menuju Akar dari dunia. Sayangnya, Sophie tak memiliki keinginan yang sama.
YOU ARE READING
Fate/Cryptid Genesis
Fiksi Penggemar(Disklaimer: seri Fate dibuat dan dimiliki oleh Type-Moon, Kinoko Nasu, dan Takeuchi Takechi. Mohon support seri resminya) Sudah 13 tahun setelah Perang Cawan Suci, pihak Asosiasi Sihir membongkar inti Cawan dan membuat peperangan itu mustahil untuk...
