Part II
"Archer?"
Sophie terkejut ketika lelaki dari era lama itu muncul memperkenalkan diri. Walau senyum terpasang manis di wajah si rupawan, Sophie masihlah tidak puas. Alasannya mudah; kelas yang dipilih oleh Elliot masihlah terkesan lemah. Gadis itu mendengus. Ia menengok ke arah Elliot.
"Apa ini? Elliot, kenapa kamu memanggil kelas Archer?"
Mimik tak puas terpampang jelas. Sophie memiliki harapan tinggi kepada Elliot, kenalannya. Namun, saat melihat sosok Archer terpanggil di hadapan, entah kenapa ekspektasi itu malah berujung mengecewakan.
"Aku tadinya berharap kamu memanggil Saber, Elliot."
Nada sang wanita sudah jelas bukanlah ramah. Ia sudah cukup khawatir dengan beban masalah yang ia hadapi. Berawal dari tugas keluarga yang diembankan kepadanya, lalu sekarang temannya makin mengecewakan.
Kegelisahan Sophie hampir hilang sepenuhnya. Lalu, dikala sosok servant itu diperkenalkan di depan Sophie sendiri, sang wanita pun kembali tidak percaya diri. Hasil kemenangan yang ia rasa bisa 100% dengan mudah diraih, kini jatuh sampai hampir menyentuh angka 0.
Elliot menyunggingkan senyuman. Kemarahan Sophie sudah masuk ke dalam perhitungannya. Kendati begitu, Elliot harus tetap terlihat santai dan tenang. Kepribadian sang lelaki dikenal karena ketenangannya, meski itu tidaklah terdengar wajar.
Elliot menegak anggur. Rasa yang khas membasahi kerongkongan yang kering. Di mata Sophie, Elliot tampak begitu menikmati. Dan karena tingkah Elliot yang terlalu tenang, Sophie pun menjadi sedikit marah.
"Elliot!"
Sophie berteriak, tepat di depan wajah si pemilik rumah. Secara naluriah, Archer terhenyak. Jarang sekali sang servant menemukan seorang wanita membentak di depan tuan rumah. Yang lebih parah, wanita itu membentak di hadapan seorang Roh Pahlawan.
Sang Servant tak memiliki niatan untuk melerai. Baginya, pertarungan seperti ini bukanlah urusan Archer. Meski begitu, pertikaian di dalam aliansi sendiri tetaplah buruk, darimanapun kau melihatnya.
"Tenanglah, Sophie."
Tepat seusai anggur di cangkir habis, Elliot mengerling kepada sang gadis. Kecemasan Sophie telah dipikirkan oleh Elliot. Lelaki itu sadar betul mengenai paranoia yang diderita oleh sang wanita merah.
"Archer yang kita miliki bukanlah sembarang Archer." Ia menengok ke arah servant tersebut. "Benar kan?"
Sang lelaki di hadapan Elliot dan Sophie menyunggingkan senyum. Setelah sempat hilang beberapa saat, pemuda tersebut memberi gestur penuh hormat.
"Anda bisa mengandalkanku," tuturnya. Kesopanan dalam bertutur kata sungguh mencerminkan sosok pria yang terhormat. "Jangan khawatir dengan musuh-musuh. Aku akan melawan mereka untuk tuanku, dan aku tidak akan menyerah."
Sophie yang mendengar kalimat terakhir sang Archer pun merasa sedikit lega. Entah apa yang terjadi pada dirinya, sampai rasanya ia tersihir dan percaya. Meski ego tetaplah mempertahankan harga diri, Sophie pada akhirnya tak bisa mengatakan tidak.
Wanita itu menghela napas panjang, dan dihembuskan dengan perlahan. Ia menutup mata, dan memijat kening yang pening. Tak ada pilihan lain. Toh sudah terlanjur. Sophie yakin orang lain sudah memanggil sosok saber; servant terkuat dalam peperangan ini.
"Kita tidak punya pilihan lain, kan?" Sophie berbicara pelan. Jantungnya dirasa berhenti karena kelelahan. "Mau tidak mau, aku akan mengandalkanmu, Elliot." Ia menatap sang lelaki di samping. "Dan kuharap kau tidak mengecewakanku."
YOU ARE READING
Fate/Cryptid Genesis
Fanfiction(Disklaimer: seri Fate dibuat dan dimiliki oleh Type-Moon, Kinoko Nasu, dan Takeuchi Takechi. Mohon support seri resminya) Sudah 13 tahun setelah Perang Cawan Suci, pihak Asosiasi Sihir membongkar inti Cawan dan membuat peperangan itu mustahil untuk...
