Prologue I - Avenger (Part II)

203 16 3
                                        



Part II

Pertanyaan itu mengisi kekosongan di dalam pabrik tak terawat. Awalnya tak ada reaksi apa-apa, selain hembusan angin yang mengintip dari lubang-lubang pada langit-langit. Udara sekitar menurun seperti menolak kehadiran sang laki-laki berkulit kecoklatan.

Sayangnya, disaat Elana menggambarkan lingkaran sihir, disaat itupula Elana tak dapat kembali. Jalan yang telah ia tempuh tidak bisa lagi dibalikkan. Ia harus melangkah lurus, lurus bersama dengan seorang servant di depannya.

Elana menelan ludah. Ia mempersiapkan hatinya dan keberaniannya. Sang gadis mengambil langkah, menunjukkan wajah yang dipaksa tegar di bawah rembulan. Warna surai berwarna hitam makin terlihat jelas ketika jatuh melewati bahu sang gadis.

"Ya ...."

Ia berucap lirih. Walau dibilang sudah mencoba untuk memberanikan diri, masih ada sedikit rasa takut di dalam hatinya. Tapi bukankah itu wajar? Sang gadis mencoba sebisa mungkin untuk bernapas di sekitar sang lelaki.

Setelah beberapa saat, barulah Elana sadar. Gadis itu takut akan satu hal; bau dari servant-nya sendiri. Bukanlah bau busuk seperti orang yang tidak mandi bertahun-tahun, melainkan hal yang lain. Yaitu aroma darah.

Mungkin orang lain sudah lari terbirit-birit, tapi Elana tidak. Gadis kecil itu menegapkan tubuh mungilnya. Kepalanya ditegakkan, memandang kepada sang servant. Namun, tak peduli seberapa memaksanya Elana, mata sang servant begitu tajam dan menyelidik.

Tanpa adanya rasa tertarik, laki-laki itu memandang kepada gadis yang lebih pendek. Sang Roh Pahlawan mendapati ketidaksenangan atas master-nya di perang kali ini. Kaki telanjang dipenuhi oleh tanah. Ketika ia sadar, servant itu melihat ke bawah. Barulah ia menyadari, katalis yang digunakan oleh sang gadis tak lain adalah Gaia sendiri. Lantas, netra yang tajam kembali memandang sang gadis.

Ketakutan yang tercermin dari mata sang gadis memberi impresi yang cukup buruk di depan mata. Saking buruknya, lelaki itu melangkah seolah Elana tak pernah ada di depan mata. Ia melihat ke arah langit hitam yang tampak dari lubang-lubang di dalam pabrik. Saat itu, angkasa begitu gelap. Hanya bulanlah lentera untuk bumi.

Tak ada pencahayaan lain. Sang servant meninggalkan sang gadis sendirian di dalam pabrik. Tapi tidak begitu lama, sang lelaki bersuara lagi.

"Dengar, perempuan." Dia menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh sedikitpun, servant itu melanjutkan kalimat. Disertai napas panjang, ia berkata: "Kalau kau tidak berani maju ke dalam pertempuran, aku akan menjadi orang pertama yang akan membunuhmu."

Suara itu begitu tajam dan dalam. Hanya mendengar kata pertama saja sudah cukup menggetarkan hati orang paling beriman sekalipun. Lantas, bila orang seperti Paus saja gugur akibat suaranya, bagaimana dengan Elana?

Ketika itu, Elana ketakutan.

Akan tetapi, kala ia takut, matanya malah melihat sesuatu yang lain. Elana berpaling ke arah servant-nya. Elana tau takdir apa yang telah menantinya  sejak kakinya memijak ke dalam pabrik tersebut. Sejak awal, Elana sudah tidak bisa lagi terkejut dengan peringatan sang lelaki berpenampilan aneh. Kematian bukanlah masalah, dan ia juga tau neraka pastilah menantinya.

Walau penampilannya seperti seorang gadis lemah dan tak dapat bertarung, Elana mencoba menahan tawa lelah tak bertenaga. Bila memang ini permainan yang dibicarakan oleh Joseph, maka Joseph salah. Ini adalah pertempuran hidup dan mati.

Salah Elana karena mengira Joseph bercanda. Salah Elana karena mengira semua akan berjalan begitu mudah. Dan karena ini adalah salahnya, Elana harus berdiri tegap dengan badai di depan mata. Ia menghembuskan napasnya.

Fate/Cryptid GenesisWhere stories live. Discover now