Part III
27 Desember
Pukul 12 siang.
Sang lelaki berambut putih mengitip melalui jendela yang kecil. Akhirnya mereka tiba juga di kota Exeter, kota dimana dia akan berperang. Sang tuan putri memanglah kaya. Sampai-sampai, dia memiliki pesawat pribadi yang siap mengantarkannya kemana saja dia mau. Manik mata Saber melirik kepada perempuan yang duduk di kursi depan.
Perempuan itu duduk sendiri. Ia pun melihat ke arah jendela yang berlawanan dari Saber sendiri.
Pesawat sudah mendarat dan perlahan pintu pun dibuka. Sang lelaki terlebih dahulu melangkah menuruni tangga yang singkat, diikuti oleh sang gadis, yang pelan-pelan melangkah turun sambil dibantu oleh lelaki berambut putih yang terlebih dahulu menapak tanah.
"Terima kasih, Saber."
Sang gadis tersenyum. Rambut pirang yang terurai pun berdansa bersama angin yang menyambut lembut. Dinginnya tak dapat menembus pakaian tebal berwarna coklat yang melindung. Alas kaki tinggi menapak tanah, membuat bunyi yang khas sebelum akhirnya tangan melepas dari genggaman si pria bersetelan putih.
"Bagaimana rasanya naik pesawat, Saber?"
"Hmm."
Si pemuda berambut putih melihat ke arah langit biru sana.
"Sebagai servant, aku sudah mendapatkan informasinya dari grail. Namun, kalau boleh jujur, sensasi naiknya tetap saja sungguh mengejutkan."
Pemuda itu tersenyum.
Benar. Seperti diberitahu akan rumor, bukan berarti Saber tak kaget begitu merasakan sensasinya secara langsung. Saat masih di udara, ia menyaksikan bagaimana dunia terlihat amat kecil dari jendela itu.
Bukan berarti dia tidak pernah terbang. Sang pangeran berambut putih pernah sekali terbang di tempat yang sangat jauh. Namun, saat itu, yang dapat ia lihat hanyalah hutan belantara. Bukan gedung-gedung mungil.
Ah, sungguh berbeda dari sekarang, dimana dia dan sang tuan putri berada di dalam mobil menyusuri jalan menuju kota kecil bernama Exeter tersebut.
Sepanjang perjalanan, ia melihat hamparan luas dari rerumputan, kemudian bangunan-bangunan mulai memperlihatkan bentuknya. Dimulai dari salah satu katedral megah yang terlihat berumur, sampai rumah biasa yang dimiliki oleh sang penyiram bunga.
Dunia modern sungguhlah asing. Namun, keasingan tersebut tidak membuatnya menjadi norak. Meski tahu, tapi bukan berarti ia pernah mengalami secara langsung.
Di sampingnya adalah sang perempuan berambut pirang. Berbeda daripada sang pangeran, netra si gadis kelihatan tidak gembira. Wajahnya menatap kepada tiap bangunan yang lewat tanpa ada pikiran di dalam kepalanya.
Saber sadar. Kala ia sadar, ia melirik ke arah sang gadis berjaket coklat. Suaranya pun terdengar.
"Nona Rosalind?" panggilnya.
Seketika, sang perempuan menoleh. Pandangan kosong langsung membulat disertai kekagetannya.
"I-iya?"
Gadis itu bersuara.
Saat mata mereka saling bertemu, wajah Rosalind memerah. Di depannya, sang pemuda merekahkan senyuman.
"Apa ini kali pertama anda pergi ke Exeter?"
"Sebenarnya aku pernah ke sini bersama kakakku."
Rosalind tersenyum tipis. Lirikannya hanya sebentar sebelum berpaling. Sang Saber sempat melihat tatapan berat tak rela. Sebuah memori yang terlalu menyakitkan untuk diingat kembali.
YOU ARE READING
Fate/Cryptid Genesis
Fiksi Penggemar(Disklaimer: seri Fate dibuat dan dimiliki oleh Type-Moon, Kinoko Nasu, dan Takeuchi Takechi. Mohon support seri resminya) Sudah 13 tahun setelah Perang Cawan Suci, pihak Asosiasi Sihir membongkar inti Cawan dan membuat peperangan itu mustahil untuk...
