Prologue VI - Saber (Part II)

54 4 3
                                        



Part II

"Nona Rosalind, anda baik-baik saja??"

Sang pelayan masuk ke dalam. Panik ketika melihat sang tuan putri tersungkur di atas lantai dengan napas tersenggal-senggal. Tubuhnya kelelahan. Energi mana yang ia pakai juga mengambil sebagian energi tubuhnya untuk beranjak bangun.

Walau begitu, sang tuan putri tidak ingin sisi lemahnya terlihat. Dengan telapak tangan ia memberi kode pada para pelayan untuk berhenti melangkah. Wanita itu masih sanggup untuk berdiri. Toh peperangan belum dimulai, jadi dia tidak boleh kalah sekarang.

"Aku baik-baik saja," kata perempuan itu. "Saber, bisakah kau membantuku?"

Sang gadis mengulur tangan ke depan. Tingkahnya cukup arogan, tapi tiada maksud untuk bersikap kasar. Tentu saja lelaki berwajah cantik di depan tidak protes apalagi marah. Tingkahnya cukup lembut, dan mungkin ia seperti sosok pangeran yang sopan.

Dibantunya sang tuan putri berdiri. Nampaknya gadis itu baik-baik saja. Namun, kala kaki mencoba melangkah, tubuhnya hilang keseimbangan. Ia nyaris jatuh ke atas lantai untuk kedua kalinya. Bila bukan karena Saber, mungkin perempuan itu sudah jatuh lagi dan marah kepada dirinya sendiri.

"Pelan-pelan, master."

Lelaki itu berbisik lembut. Ia memegangi tubuh sang gadis, membantunya berjalan langkah demi langkah. Sang gadis yang menatap wajahnya hanya bisa mengangguk dengan senyuman tipis di wajah. Ia tak ingin memperlihatkan dirinya yang pemalu itu. Tidak untuk sekarang.

Rosalind melangkah dan melangkah, bersama dengan servant-nya menuju keluar. Para pelayan yang menyaksikan hanya bisa mengekor di belakang. Lebih mudah bila digendong, tapi sang pangeran tak akan mau melakukan itu tanpa ijin dari Rosalind. Itu tidak sopan.

"Saber ...." Rosalind berbicara. "Sehabis ini, aku ingin bertanya beberapa hal padamu."

"Tanyakan apapun yang ingin anda ketahui." Pangeran itu menjawab. "Tapi ...." Lalu langkahnya terhenti. "Biarkan aku menggendong anda, master. Tampaknya akan susah bila harus terus berjalan dari sini ke dalam rumah anda."

Rosalind bergeming. Bibirnya merapat, pipinya merona. "A-apa maksudmu? Aku tidak apa-apa! Lihat!"

Lantas ia menjauhkan diri dari sang pangeran. Anak gadis itu ingin membuktikan bahwa ia adalah perempuan yang kuat. Bahwa dia tidak memerlukan bantuan dari Saber hanya untuk mengambil langkah. Ia ingin membuktikan bahkan kepada dunia.

"Aku ini anggota keluarga Istari! Jangan remehkan a—waah!"

Namun sayang, tampaknya pembuktian itu berakhir sia-sia. Sang gadis jatuh setelah beberapa langkah menjauhi pangeran muda itu. Kakinya masih tak kokoh menopang tubuh berbalut gaun biru. Rambut pirangnya tergerai, Rosalind menghembuskan napas.

Apakah Rosalind harus tetap selemah ini? Batinnya berpikir seperti itu. Menjengkelkan, ucapnya dalam hati. Hanya untuk berdiri saja tidak kuat, lantas bagaimana nanti bila bertarung menghadapi magus-magus lainnya?

Pertanyaan seperti itu pernah disampaikan oleh orang tua dan pelayan. Bukannya mereka tidak percaya dengan kemampuan sang tuan putri. Hanya saja, mengingat bagaimana kondisi tubuhnya, maka bisa dipastikan sang gadis akan menempuh banyak kesulitan dalam perjalanannya. Cukup nyawa sang kakak saja yang pergi, jangan sampai Rosalind kehilangan nyawanya juga.

Mau dimana mukanya ditaruh? Di hadapan sang servant saja Rosalind sampai harus tertatih-tatih. Padahal dia cuman perlu berjalan menuju dalam rumah. Malu sudah untuk menatap wajah sang pangeran di dekatnya itu.

Fate/Cryptid GenesisStories to obsess over. Discover now