枫 - Bab Delapan

141 40 7
                                        


Martin meratakan posisi rambut yang ia jepit di antara jari telunjuk dan tengahnya, kemudian sedikit mengernyit, kembali menyisiri rambut dan menyesuaikan potongannya. Gunting di tangan kanan ia angkat, dan terpotonglah rambut panjang milik Bibi Temperamen itu. Dari depan cermin beliau tidak bisa diam. Tangannya sibuk mengotak-atik ponsel dengan sesekali tertawa-tawa. Martin sudah susah payah mengendalikan diri untuk tidak menyuruhnya diam, tapi kelakuan Bibi Temperamen itu benar-benar membuatnya sedikit senewen.

"Martin Lun, bisa  cepat sedikit tidak? Aku harus sampai ke pernikahan Angel Mo pukul lima nanti, sedangkan kau masih belum selesai blow," komentar wanita itu dengan nada sinis. Martin menampakan wajahnya dari pantulan cermin lalu tersenyum kecil.

Bagaimana mau cepat jika sedari tadi kepalanya tidak bisa diam? Seperti anak TK saja.

Siang itu agak terik. Salon sepi, hanya beberapa pelanggan sedang membaca majalah menunggu rambutnya yang sedang creambath dalam balutan kain dan pemanas. Ken dan Yisa sempat datang mampir sebentar, namun keluar lagi untuk makan siang. Miris kalau perutnya meringis kelaparan, sementara ia masih harus meladeni Bibi Temperamen yang hari ini sedang tidak dalam mood yang baik.

Tiba-tiba, dari depan, Bibi Temperamen berteriak.

"Aduh!" pekiknya seraya memandang ke pantulan cermin dengan alis bertaut. Sebelah tangannya terangkat, menyentuh batang-batang rambut yang baru saja diretas olehnya itu.

"Ada apa?" tanya Martin tenang tanpa mencurigai sedikitpun kemarahan yang hendak wanita itu tumpahkan. Dengan gerak terkejut yang berlebihan, Bibi Temperamen bangkit dari kursinya lalu mengambil potongan rambut yang terpotong.

"Apa yang kau lakukan pada bagian ini?!" tanyanya panik. Ia menatap marah dari balik cermin, namun kemudian segera berbalik menatap Martin seakan-akan ia telah melakukan kesalahan fatal di bagian tersebut.

"Apa maksudmu?" tanya Martin masih berusaha tenang. Ia tidak mengerti. Potongannya benar, tidak ada yang salah. Selama hampir lima tahun memotong Layer, semua potongan bentuknya akan seperti itu. Astaga.

"Kau memotong rambutku sependek ini?! SEPENDEK INI?!"

Martin tercengang kecil. O-oh. Ternyata itu kesalahannya.

Bibi Temperamen melotot, ia berdiri layaknya monster dengan napas berat yang mengerikan. Alisnya bertautan tajam, tanpa sadar Martin mulai berdoa dalam hati semoga tidak ada sumpah serapah atau giok menyedihkan keluar dari tangan ataupun mulutnya.

"Kau benar-benar penata rambut tidak berguna! Lihatlah apa yang kau perbuat pada mahkota emasku yang mulia?!" Bibi Temperamen mulai membelai-belai rambut-rambut hitam kejurnya, berharap bisa kembali panjang seperti Rapunzel. Bibirnya di manyun-manyunkan seperti seseorang yang sangat bersedih. Martin berusaha tenang dan sabar. Namanya juga Bibi Temperamen, setidaknya ia masih memiliki pelanggan lain yang lebih bisa di ajak kerja sama.

"Heh! Dasar tukang potong rambut tidak berguna! Aku tahu kau orang besar, tapi aku bersumpah supaya kau semakin jaya nantinya dan panjang umur!"

Martin mengernyit dalam ketika mendengar akhir dari kalimat serapah itu. Ia menatap seringai kecil yang mendadak muncul di wajahnya. Martin menduga, ini pasti sebuah jebakan akan rencana. . .

"Sheng Ri Kuai Le!!!"

Ketika Martin berbalik dan melihat ke arah tempat cuci rambut, semua karyawan termasuk Ken dan Yisa keluar dengan properti ulang tahun dan confetti yang meriah. Sedetik, ruangan salon tertuju pada ramai-ramai karyawan yang bernyanyi lagu selamat ulang tahun dan bunyi terompet gulung. Martin tertawa ketika melihat Bibi Temperamen ternyata ikut andil dalam perayaan ini dan harus diakui, aktingnya sangat baik.

Maple (Sudah Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang