"Kau ini apa-apaan!"
Yisa memukul bahu Ken yang pura-pura meringis kesakitan, kemudian dengan cepat ia kembali merenggut.
Setelah kembali sehari sehabis pengumpulan bahan untuk portofolio, Ken sangat-sangat menyempatkan diri mampir ke salon demi memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang asisten Manager di Jey's Cut. Sebelum ada portofolio, di hari Rabu dan Kamis biasanya Ken mempelajari teknik-teknik memotong rambut dari Martin, setelah itu keduanya akan bersantai hingga malam atau bahkan bermalam di ruang santai.
Itu dulu, ketika Ken baru saja pindah dari Hongkong beberapa bulan sebelum Yisa pindah. Ken merangkul pundak pacarnya dengan gerak manja.
"Ayolah, jangan kusut begitu. Kau harus merelakan waktuku tersita oleh si portofolio sialan itu. Lagi pula, ini demi kelulusan supaya aku bisa cepat menikahimu," gurau Ken sambil mencubit-cubit pipi Yisa seperti bayi.
Yisa menepis gerakan Ken judes. "Jangan gombal," ketusnya. Tapi Ken tahu ia hanya pura-pura. Gadis itu menopangkan dagu dengan kedua tangannya yang bersanggah di pahanya. Pandangan mata Ken bersibobok cepat dengan kilauan sebuah liontin yang tergantung pada seutas tali di pergelangannya.
Ken tersentak cepat, merenggut tangan Yisa mendekat. "Eh? Dapat dari mana, kau?" tanyanya setengah takjub. Yisa tidak menarik kembali tangannya, ia malah memamerkan lengan kurusnya, sengaja membuat Ken cemburu. Tetapi sayangnya, ia tidak cemburu.
"Martin. Martin Lun yang memberikannya padaku. Cemburu?"
Ken menyalangkan matanya, terkejut, "sungguh? Dia memberikannya padamu tapi tidak padaku?" sahutnya dengan nada tertekan, lalu buru-buru menoleh ke pintu keluar menuju ruang salon yang tidak terlalu ramai itu.
Yisa tersontak. "Kau ini! Kau lebih cemburu pada gelang ini ketimbang aku?" ketusnya. Bukan Yisa jika ia benar-benar marah. Gadis itu tidak pernah baik memerankan ekspresi marah atau kesal. Dia selalu gagal. Mungkin karena keturunan mata ayahnya yang bulat dan cerah serta bibir tipis yang melengkung ke bawah. Jadi, sedang diam saja terlihat sedang tersenyum. Ken hanya mencolek-colek hidung Yisa dengan gerak iseng.
"Bercanda sayang. Ayolah. . . tetapi, tumben sekali anak itu memberikanmu gelang ini? Setahuku, dia selalu bilang padaku kalau gelang ini adalah gelang yang paling ia jaga. Katanya, cuma gelang ini satu-satunya barang yang mengingatkan dia dengan seseorang," cerita Ken berubah serius. Yisa nampak memicingkan mata, terdiam sejenak lalu bertanya setengah berbisik.
"Sebenarnya, siapa sih, orang yang selalu membuat Martin begitu?"
Ken melirik hati-hati ke arah Martin dari jauh. Pria itu sedang bicara dengan salah satu model yang baru saja dilayani olehnya.
"Aku tidak pernah tahu cerita itu."
Mata Yisa melebar, terkejut. "Kau ini sahabatnya dari lahir, masa tidak tahu?" kernyitan di alis gadis itu sudah menunjukkan kalau dirinya terlihat penasaran. Tapi Ken tetap membantah. Karena sampai sekarang, ia memang tidak pernah tahu 'seseorang' yang di maksud.
Ken memang sempat hilang kontak dari Martin beberapa bulan, atau bahkan 1 tahun. Ketika itu, keuangan keluarga Ken memang sedang sangat tidak stabil. Semenjak ayah Ken meninggal, banyak perusahaan milik ayahnya bangkrut akibat korupsi yang dilakukan anak buahnya. Tidak sampai di sana, Ken bahkan tidak tahu kalau dirinya sendiri memiliki sebuah sifat yang ia tak sadari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Maple (Sudah Terbit)
Aktuelle LiteraturCompleted. Tersedia di Gramedia Digital (ebook). Cek ig WWG Publisher for order :) #164 in General Fiction Martin Lun menyembunyikan sesuatu. Di kamarnya yang selalu terkunci, Ken Chu, sahabat masa kecilnya itu selalu bertanya-tanya hingga sekarang...
