"Aku tunggu disini 5 menit." Adeera menoleh kaget, tidak jadi melanjutkan langkahnya.
"Kalau telat gimana?!" Tanya Adeera dengan matanya yang melotot.
Rama tidak menjawab, hanya menggidikkan bahu acuh.
"Rama!" panggil Adeera seraya menahan lengan Rama yang mulai berlalu. "10 menit, please."
Rama diam, tatapannya terarah pada tangan Adeera yang bergelayutan di lengannya lalu menepis tangan itu kasar.
"Maaf, ga sengaja." Ucap Adeera cemberut, ia lupa kalau Rama anti sekali dengan Adeera. "Lagian ke sekolah kok ngga bawa hp sih? Kalau ada keadaan genting gimana?!"
"Genting? Nungguin kamu telat?"
Tangan Adeera mengepal, ia tidak tahu mengapa semenjak mengenal Rama, sulit sekali rasanya bisa menahan emosi. Lalu apa gunanya Ayah Bastiar memberinya handphone, jika akhirnya tidak memudahkan komunikasinya dengan siapapun? Adeera tidak habis pikir dengan kakak barunya itu.
"Percuma juga, mungkin kalau gue telat 1 detik lo udah ninggalin gue!" Ucap Adeera ketus, Akhirnya memulai langkahnya, menyesal karena memohon pada Rama. Ia akan sekuat tenaga menerima segala resiko, apalagi untuk tidak telat 5 menit.
"Oke, 10 menit."
Langkah Adeera berhenti, senyumnya mengembang tapi buru buru ia hilangkan. Tidak berniat menoleh, ia senang.
****
"Kamu pulang sama siapa?" Adeera menoleh, ada teman barunya sedang melangkah cepat menyetarakan langkah Adeera. "Mau pulang bareng?"
Adeera belum membalas satupun pertanyaannya. Teman teman baru Adeera tidak seburuk yang ia bayangkan, tapi tetap saja ia masih harus beradaptasi, apalagi setelah perkenalannya tadi pagi.
"Kamu Adeera ya?" Seorang wanita yang kira kira sudah berumur paruh baya menghampiri Adeera di ruang BK. Pada nametag seragamnya tertera nama Ayu Diah. Nama yang baru saja guru BK nya sebut, untuk wali kelasnya.
"Iya bu." Ucap Adeera bangkit dan mencium punggung tangannya sopan.
"Mari ikut saya, kebetulan hari ini saya mengajar di kelas kamu." Ajak bu Ayu seraya merangkul Adeera lembut.
Sesampai di kelas, seperti biasa bu Ayu akan mulai memperkenalkan kehadiran Adeera yang sepertinya sudah diketahui sebelumnya, karena sejak Adeera berdiri di depan kelas, beberapa anak sudah berbisik bisik, bahkan sempat terdengar salah satu menyebut namanya samar samar.
"Ayo, perkenalkan diri ke teman teman."
Adeera menarik nafas, ini hari barunya. Lengkung senyumnya tertarik perlahahan untuk memulai. "Nama gue, Adeera."
Hening.
Hening.
Tiba tiba lengkungan bibir Adeera memudar ketika menyadari satu hal, padahal ia sudah belajar semalaman untuk membiasakan diri. Tapi bisa bisanya kata itu keluar lagi. "Maaf, maksudnya, nama saya Adeera."
"Saya dari Jakarta. Salam kenal."
"Oh Jakarta."
"Tempat anak gaul."
"Jakarta mananya tembalang?"
Seisi kelas tertawa ketika mendengar pertanyaan itu, membuat Adeera bingung karena tidak mengerti.
"Sudah sudah, bukan bahan bercanda." Ucap bu Ayu menengahi.
Terdengar bisik bisik lagi, kali ini dengan tatapan aneh, membuat Adeera tidak enak hati. Hingga akhirnya satu suara membuyarkan keanehan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Other Love
SpiritualTidak ada yang mudah dengan menerima anggota keluarga baru. Adeera teringat dongeng cinderella yang pernah papah bacakan sebelum ia tidur. Apakah rasanya akan seperti itu? Adeera ragu, Lagipula mamah tidak akan mengijinkan anak seusinya bertemu pang...
