"Deera!"
"Eh, Nad!" Deera melambaikan tangan seraya tersenyum menyambut kehadiran Nadiya.
"Datang jam berapa?"
Adeera melihat arloji di tangannya, mengingat-ingat. "Sekitar jam 6"
Mata Nadiya terbuka lebar, agak terkejut mendengarnya. "Isuk'e! Meh bantu pak Rompi bukai gerbang to?" (paginya! mau bantu pak Rompi bukain gerbang ya?)
Mendengar jawaban itu, Adeera dan Nadiya tertawa. Selain karena memang harus datang lebih awal untuk menyiapkan acara hari ini, Bastiar memang ada urusan pagi-pagi sekali. Jadi mau tidak mau Adeera harus mengikuti jam berangkat Bastiar agar bisa pergi bersama.
"Kok muka kamu ngga enak gitu, ada apa?" tanya Adeera memerhatikan Nadiya yang mukanya berubah masam.
"Mamahku nesu ne-"
"Nad!" Adeera memotong pembicaraan Nadiya, mengingatkan bahwa dirinya masih sulit mengerti bahasa semarangan.
"Oh iya, lali." (oh, iya lupa) Nadiya menepuk jidatnya. "Mamahku Deer, marah-marah terus padahal masih pagi. Katanya aku ini nambah kerjaan aja, libur-libur bukannya bersih-bersih rumah malah berangkat ke sekolah," Nadiya menjelaskan dengan aksen Semarangnya yang kental.
"Kamu udah izin dan jelasin ini acara apa?"
Nadiya mengangguk. "Uwes, tapi tetep wae." (udah, tapi tetep saja)
Adeera tersenyum lalu mengusap punggung Nadiya menyemangati. "Yang sabar ya Nad."
"Mana mamahku yo ngga bisa jemput, soale masku bali seko Kalimantan," tambah Nadiya. (Mana mamahku tidak bisa jemput, soalnya masku pulang dari Kalimantan)
"Yaudah, nanti bareng aku dan ayah aja!" ajak Adeera bersemangat.
"Beneran Deer? Ngga ngerepotin?" tanya Nadiya merasa tidak enak.
"Ngga dong! Ayah pasti seneng bisa anterin kamu."
"Asik!" kata Nadiya memukul lengan Adeera dengan keras.
"Aw! Aw! Sakit nad!" keluh Deera terkejut dengan pukulan Nadiya, membuat sahabatnya itu meringis dan langsung mengusap lengan Adeera dengan cepat.
"Maaf ya Deer," bujuknya sedikit memeluk Adeera seraya mengedipkan matanya berkali-kali. "Nanti jemputnya naik mobil ya Deer?"
Adeera mengangguk.
"Asik! Pas banget to, abis ngurus acara, capek, keringetan, terus pulangnya naik mobil, adem tenan!" katanya membuat Adeera tertawa.
"Gimana kalau sebelum pulang, nanti kita makan dulu?" tanya Adeera lagi.
Nadiya menoleh dengan cepat ketika mendengar pertanyaan itu. "Yang bener Deer?"
Adeera mengangguk dengan cepat, dan saat itu juga Nadiya benar-benar memeluknya erat. Tidak sabar menunggu waktu pulang, sudah diantar ke rumah, diajak makan bersama pula. Benar-benar rezeki di pagi hari.
"Ngga sabar pulang deh jadinya," ucap Nadiya sudah berkhayal, membayangkan betapa asiknya saat pulang nanti.
Tangan Adeera saat itu juga mencubit perut Nadiya pelan. "Enak aja pulang pulang! Urusin dulu acaranya!"
"Iya iya Deer," jawab Adeera tidak mau kena semprot galaknya Adeera lebih banyak lagi. "Eh, eh, itu mas abiyan Deer!" tunjuk Nadiya pada seseorang yang berjalan menghampiri mereka. Lelaki itu hari ini terlihat rapih dengan celana jeans berwarna earth tone dan baju batik yang senada.
Hari ini memang dress code siswa kelas 3 adalah batik untuk laki-laki dan kebaya untuk perempuan, sedangkan untuk panitia seperti Adeera dan Nadiya cukup menggunakan seragam panitia berwarna hitam dan name tag sebagai pembeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Other Love
SpiritualTidak ada yang mudah dengan menerima anggota keluarga baru. Adeera teringat dongeng cinderella yang pernah papah bacakan sebelum ia tidur. Apakah rasanya akan seperti itu? Adeera ragu, Lagipula mamah tidak akan mengijinkan anak seusinya bertemu pang...
