"Temen temen, perhatian sebentar."
Adeera dan Nadiya langsung memberhentikan aktivitasnya. Selepas berdoa, Agung ketua kelas 8B langsung berdiri di depan papan tulis, sedang perangkat kelas yang lain menghadang di depan pintu kelas agar teman teman tidak langsung pulang.
"Buruan, udah dijemput mamah di depan."
"Ada apa sih?"
"Mau nonton Kun Anta nih, ah."
Teman teman langsung menoleh, begitu pula kelas yang seketika hening.
"Bukannya Kun Anta, nanti malem Ning?" Tanya Agung, akhirnya membuka suara.
"Tv aku kan canggih, bisa di puter ulang. Semalem ketiduran ngga sempet nonton."
"Oh." Bersamaan mereka mengangguk dan ber-oh ria.
"Udah udah, semakin kalian tenang dan dengerin, semakin cepet pulang." Agung menengahi. "Jadi gini, tadi pas istirahat semua ketua kelas 8 dikumpulin di aula. Ada himbauan, untuk kelulusan kelas 9 nanti, setiap kelas wajib ngirim perwakilan dua orang buat jadi panitia kelulusan."
Nah dari temen temen, siapa yang bisa jadi perwakilan kelas kita? Karena perangkat kelas gabisa semua, ada kegiatan di tanggal kelulusan." Agung menyelesaikan pengumuman, begitupula kelas yang langsung hening, tidak ada tanggapan, hanya beberapa anak saling pandang.
Kelas Adeera adalah kelas unggulan, isinya anak anak pintar. Jadi kurang berminat dengan acara sekolah, yang menurut beberapa orang hanya membuang waktu dan mengurangi waktu belajar mereka. Bahkan dari kelasnya, bisa dihitung jari siapa saja yang aktif kegiatan semacam, osis, ambalan, sepakbola atau kegiatan siswa lainnya, mungkin terkecuali debat dan olimpiade.
"Aku mau!"
Adeera menoleh, ia tidak heran Nadiya mengajukan diri. Sahabatnya ini salah satu yang sangat semangat dengan acara sekolah.
"Oke, tulis Nadiya ya Rin." Perintah Agung pada Arinta, sekretaris kelas. "Kamu sendirian, Nad?"
"Sama Adeera, ya." Jawab Nadiya semangat.
Adeera menoleh lagi, kali ini dengan cepat dan kening berkerut. "Kok aku, Nad?"
"Udah gapapa, Deer. Sekalian biar kenal sama temen temen lain." Ucap Agung.
"Iya, pasti seru Adeera." Nadiya menambahkan.
"Terserah deh." Kata Adeera, pasrah.
"Kalau gitu, perwakilan kelas kita Adeera sama Nadiya. Terimakasih untuk perhatiannya, kalian boleh pulang."
Setelah Agung membubarkan kelas, Adeera terburu buru untuk sampai di rumah. Ia tidak sabar membantu bu Ani menyiapkan bingkisan untuk acaranya besok. Termasuk, ia tidak mau membuat Rama menunggunya.
"Mas, Rama maaf ya aku telat. Tadi ada pengumuman dari ketua kelas." Kata Adeera masih terengah-engah, ia sedikit berlari ketika melihat Rama sudah berada di halte.
Rama mengangguk. Ia mengeluarkan air mineral dari tas-nya, lalu memberikannya pada Adeera.
Adeera menerimanya, tersenyum.
"Sambil duduk." Rama mengingatkan.
Adeera menoleh ke kanan dan kekiri. Mencari kursi kosong. Namun akhirnya memilih jongkok, karena kursi di halte sedang penuh, jam pulang sekolah.
"Jangan lupa doa."
Adeera menoleh sebentar, sudah terbiasa dengan sikap Rama. Setelah berdoa, ia langsung meneguk air yang tinggal setengah botol itu sampai habis.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Other Love
SpiritualTidak ada yang mudah dengan menerima anggota keluarga baru. Adeera teringat dongeng cinderella yang pernah papah bacakan sebelum ia tidur. Apakah rasanya akan seperti itu? Adeera ragu, Lagipula mamah tidak akan mengijinkan anak seusinya bertemu pang...
