Sesampainya disana, Nindy duduk di depan musolla untuk mengecek satu persatu anak-anak yang keluar dari toilet. Tetapi laki-laki itu tidak ada disana. "Dasar nih cowok tengil udah jadi siswa baru malah cari masalah" gumam Nindy.
Nindy melewati koridor kelas X menuju kantin untuk membuktikan apakah dia ada disana?? Dari kejauhan Nindy pun menangkap sosok laki-laki yang dicarinya itu. Tanpa menunggu lama-lama Nindy bergegas menemui anak baru itu.
"Bagus ya udah berani cabut dari kelas" Nindy menatap tajam laki-laki itu. Yang membuat para siswa-siswi disana memperhatikan mereka.
"Woi memang apa urusan lo??" Fikri menatap tajam perempuan yang ada didepannya.
"Apa urusan gue?? Lo mau tau?? Noh sana lo tanya sama bu Riana". Nindy menahan emosinya.
"Gue gak peduli". Randy melahap makanannya lagi.
"Astagfirullah, lo tadi bilang Bu permisi ketoilet bentar" Nindy mengulang lagi kalimat yang dikelurkan Randy tadi di kelas.
"Lo gak liat apa gue lagi makan?? "
"Pokoknya lo di suruh balik ke kelas sama beliau!!" suara Nindy naik beberapa oktaf, yang sempat mengundang perhatian anak kelas X di dalam kelas mereka.
"Lo budeg ya?? Lo pergi sana" Randy mendorong tubuh Ninda yang sempat terjatuh.
Nindy menganga, kedua matanya memburam karena air mata yang bergelumur di pelupuk matanya karena tubuhnya merasa kesakitan di dorong oleh Randy. Tanpa memperdulikan ocehan Randy, Nindy pun berlari menuju kelasnya.
***
"Kenapa kamu nak??" tanya Bu Riana melihat ada yang aneh telah terjadi pada Nindy.
"Gak kenapa-napa Bu" seraya menyembunyikan tangisannya.
"Si anak baru itu dimana?? Udah ketemu??"
Hening..
Hening..
Hening..
Assalamu'alaikum.
Wa'alaikumsalam. Balas mereka serempak.
"Dari mana saja kamu??" Ibu Riana menatap sinis anak baru itu.
"Dari kantin bu" jawab Randy santai.
"Dasar anak brandalan" bentak beliau.
Randy hanya terdiam mendengarkan siraman rohaninya. Mengingat kejadian tadi di kantin sempat mengganggu pikiran Randy yang telah mendorong Nindy tanpa salah apa-apa.
"Sekarang kamu keluar menghadap tiang bendera sampai jam istirahat biar kamu tau rasa" tegas Ibu Riana.
Randy pun keluar menelusuri koridor kelas Xll menuju lapangan olagraga menghadap tiang bendera.
Dek salam kenal.
Minta nomor wa-nya dong.
Terdengar jeritan para siswi kelas Xll. Tetapi Randy hanya mengabaikan permintaan mereka.
"Astagfirullah, panas kulit gue, gila banget masa cowok cool harus hormat bendera??" gumam Randy.
Tajir bener tuh cowok.
Idaman gue banget.
Boleh gue temenin.
Usikan para siswi yang sedang melawati depan kantor guru. Randy hanya memberikan senyum termanisnya.
Bel yang berbunyi di berbagai penjuru kelas pertanda istirahat tiba.
Nindy sedari tadi hanya melamun, tiba-tiba dikejutkan oleh sahabatnya, Aldi.
"Lo kenapa Ndy?? Sakit yaa, gue anterin lo ke UKS kalo gitu" Aldi mengkhawatirkan Nindy.
"Gak perlu Al gue gak kenapa-napa kok" jawab Nindy lesu.
"Gak apa gimana, muka lo pucet banget" Aldi mengangkat muka Nindy agar menatapnya.
"Beneran Al gue baik kok" Nindy menatap Aldi.
"Kalo gitu kita ke kantin aja, lo mau pesan apa??".
"Terserah lo aja Al" jawab Nindy.
Disepanjang koridor kelas, banyak yang membicarakan mereka.
Mereka pacaran ya??
So sweet banget, mau deh digandengin kayak gitu.
Mereka hanya tersenyum. Sesampainya di kantin Aldi memesan makanan kesukaan Nindy.
Aldi melahapnya dengan begitu semangat, tidak dengan Nindy yang hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di depannya.
"Loh kenapa dibiarin begitu?? Ntar nangis deh makanannya. Gak enak yaa?? Seraya nencicipi makanan yang ada di depan Nindy. Enak kok, aaakk gue suapin". Aldi mengambil siomay itu dengan sendoknya.
"Jangan Al malu diliatin orang, kiraiin kita pacaran" Nindy memindahkan sendok yang hampir masuk ke mulutnya.
"Biarin Ndy".
Candaan mereka tiba-tiba terhenti seketika seorang laki-laki datang dihadapan mereka.
"Gue mau minta maaf, tadi gue gak sengaja dorongin lo" laki-laki itu mengangkat suara.
"Siapa lo!??, wait wait jadi lo yang bikin Nindy pucet gini".
Tanpa basa-basi Aldi mendaratkan tangannya ke wajah Randy, sehingga bibirnya terluka, yang sempat mengundang perhatian siswa-siswi Sma mereka. Randy pun tak mau kalahnya dengan Aldi.
"Kalo lo berani sini sama cowok bukan malah mendorong cewek tanpa salah apa-apa, ini peringatan buat lo jangan pernah lo sentuh pacar gue, apalagi dekitin dia" ucap Aldi.
Nindy hanya terdiam ketika Aldi mengatakan dia pacarnya.
Datanglah seorang guru bu Henny selaku waka kurikulum Sma mereka. "Apa-apaan ini udah pada bertengkar seperti bukan pelajar saja, sekarang kalian keruang BK, CEPATT!!" bentak Buk Henny.
Mereka pun menuju keruang BK mengekori jalan Ibu Henny.
"Kenapa kalian bertengkar??" tanya ibu Irna selaku guru BK.
"Dia yang duluan nonjok saya bu makanya saya tidak mau tinggal diam" Randy membela dirinya sendiri.
"Dia Bu yang telah mendorong Nindy tanpa salah apa-apa, kan perbutannya itu sangat tidak baik. Makanya saya tidak tinggal diam begitu saja" timpal Aldi.
"Sudah sudah kalian berdua salah, sekarang kalian ibu skor sampai jam pulang sekolah". Tegas bu Irna.
Randy dan Aldi pun menuju ke lapangan olahraga menghadap tiang bendera.***
Vote n commentnya yaa gaiss di tunggu 😊😊
Thanks rakan 👐👐
Nindayani Salman 👧👧

KAMU SEDANG MEMBACA
Sekretaris Kelas vs Bad Boy
RomanceGadis baik memang selalu lebih menarik. Tingkah laku mereka yang baik, perhatian, sopan santun, dan suka membantu orang yang kesusahan. Begitu juga dengan Nindy Anastasya, siswi SMA Negeri 3 Bandung yang menjadi "Sekretaris Kelas" karena tingkah l...