tujuh

5.2K 307 7
                                        

"Bukan gue yang bilang, tapi hati gue. Kalo mungkin, gue mulai merindukan lo disaat gue gak bisa menemukan lo disuatu waktu."

- Aliva Laurenzia Paramita -

• • •

ALASKA turun dari motornya. Dia berjalan menelusuri gang kumuh itu. Langkahnya terhenti ketika melihat bangunan tua yang sudah tidak utuh lagi. Banyak terdapat grafiti disetiap temboknya. Pintunya pun terbuat dari seng sehingga memunculkan suara yang nyaring bila membukanya.

Tidak bisa dibilang rumah. Namun cukup untuk menjadi tempat tongkrongan orang tertentu. Termasuk Alaska cs dulu. Jauh dari tempat permukiman dan jangkauan polisi.

Alaska kembali berjalan dan masuk melewati tembok yang sudah bolong.

"Eh, Alaska? Lo Alaska kan?" tanya seorang lelaki yang awalnya sedang duduk santai langsung beranjak.

"Eh iya itu Alaska woi!"

"Loh tumben-tumbenan lo kesini. Gue rindu banget sama lo!" salah satu cowok rambut gondrong mulai bersuara dengan begitu semangatnya.

Alaska bergidik ngeri. "Lo homo ya jul?"

"Tega banget lo Al, ngatain gue homo." lelaki yang bernama Zul itu pura-pura ngambek.

Mereka berenam, Zul yang paling nakal dan tidak bisa diam. Lalu ada Dika yang otaknya paling ngeres. Ada juga Daffa, orangnya santai dan tidak banyak bicara. Reno yang paling tua dan hartanya melimpah dan Miko yang paling bisa diandalkan dengan otak cerdasnya.

Dan juga jangan lupakan Alaska yang memiliki banyak kepribadian. Bisa berubah menjadi dingin, hangat atau pun menjadi singa dalam satu waktu.

"Ada yang mau lo omongin?" tanya Daffa yang langsung to the point. Alaska berdehem kecil. Lalu mulai berbicara.

"Lo semua masih ingat sama Alvaro kan?" Alaska mulai membuka pembicaraan. Semuanya mengangguk. Semuanya terlihat sangat serius. Kalau sudah membahas tentang Alvaro, siapa lagi yang tidak serius?

Alvaro terkenal karena bukan hanya nakal, dia sering terlibat kasus dengan beberapa anak lelaki yang lain. Dia juga sering terlibat kasus tawuran di beberapa sekolah. Dan mereka berenam ini juga punya masalah yang melibatkan Alvaro. Terutama Alaska dan masalahnya disini lumayan panjang dan berbelit-belit.

"Gue mau tau, dimana dia dan gengnya sembunyi. Gue butuh lo semua."

• • •

5 hari kemudian..

Aliva berjalan menuju kantin bersama Naila. Pandangannya tidak berhenti untuk mencari sosok yang sedang dicari-carinya.

Naila menyenggol pundak Aliva. "Nyariin Alaska yaa? Ngaku deh lo."

"Ih enggak! Siapa juga yang mau nyariin dia. Gue udah berubah jadi gila kali, kalo gue nyariin dia." elak Aliva. Naila senyam-senyum menggoda Aliva.

"Ih beneran! Yaudah kalau gak percaya." Aliva berlari meninggalkan Naila yang berteriak memanggil namanya.

Tiba di kantin, Aliva mendengar beberapa anak perempuan yang sedang menggosip.

"Eh liat tuh, cewek murahan datang."

"Berani banget ya dia ngambil Alaska gue."

"Pengen gue petakin apa mukanya?"

"Mana bes pren nya? Oh jangan-jangan dia ditinggalin karena uda NIKUNG sahabatnya sendiri!" fitnah seorang perempuan yang menekankan pada kata nikung.

Cold But AnnoyingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang