9

1.4K 194 81
                                        


Saat yang amat tidak di nantikan Jimin akhirnya datang juga. Mengantar kepergian Yoongi ke Dubai untuk waktu yang tidak ditentukan.

Lelaki itu menatap jalan Seoul dengan pandangan serius, sedangkan Jimin di sebelahnya berusaha untuk tidak mencegahnya pergi walaupun kenyataannya mati-matian ia menahan perasaannya sendiri. Seoul-Dubai bukanlah jarak pendek seperti Seoul-Busan, berhubungan beda negara terlebih beda benua itu persentase keberhasilannya hanya 20%, Jimin takut akan hal itu.

"Yoongi." Panggil Jimin pelan.

"Hmm?"

"Sebelum kau pergi, bisa kita makan berdua? Aku.. aku mau acara makan ini mengesankan sesuatu yang spesial untukmu." Pintanya ragu. Pasalnya, selama perjalanan wajah Yoongi sangat tegang dan tidak ada satu atau dua patah katapun yang terucap dari bibirnya.

"Mau makan dimana?" Yoongi melirik Jimin. Ketika tepat di persimpangan lampu merah berhenti, lelaki itu menatap wanita di sebelahnya dan mengusak rambutnya gemas. "Kau pilih, aku tinggal menyetir."

Bibir bawah Jimin maju, ia juga bingung mau memutuskan makan apa dan dimana. Sebetulnya ia hanya ingin berduaan dengan Yoongi menghabiskan waktu sebelum akhirnya lelaki itu benar-benar pergi ke Dubai. "Eum, sushi?" putusnya dengan nada keputus asaan.

Yoongi tertawa, gummy smilenya terlihat sangat lucu. "Dua puluh piring pun akan ku traktir kau, mochi buntal."

Jimin tersenyum. Biasanya dia akan marah kalau Yoongi sudah mulai mencari masalah dengannya duluan, tapi kali ini ia hanya bisa tersenyum sedih. Tidak akan ada Min Yoongi yang selalu komentar masalah porsi makannya yang sedikit luar biasa. "Tidak, jangan sushi kalau begitu. Aku mau makan di restoran mahal. Hanya berdua denganmu, ruang VVIP. Ada rekomendasi?"

Yoongi sedikit berpikir, wajah dengan alis mengerut dan lengan di topangkan pada jendela mobil itu membuat jantung Jimin berdebar tidak karuan. Dilihat dari sini, entah mengapa Yoongi terlihat sangat tampan.. jauh beribu kali lebih tampan. "Ada, tapi aku tidak yakin ada ruangan yang seperti kau inginkan. Aku tanyakan Seokjin dulu, dia ratunya restoran mahal. Dia tau dimana tempat restoran privat, mahal dan tentu saja lezat." Jimin hanya mengangguk mengiyakan.

Wanita mungil itu hanya bisa menatap luar jendela mobil ketika Yoongi menghubungi Seokjin, samar-samar terdengar jika Yoongi sesekali menghela napas lelah karena Seokjin sibuk mempersiapkan sesuatu untuk Namjoon yang sepertinya sedang tergesa. Yang paling membuat Yoongi terkejut adalah, Seokjin sudah resmi pindah ke apartemen Namjoon dan tinggal bersama kapten berlesung pipit tersebut. "Dimana?" kata Yoongi setelah bersabar. "Shilla? Kau yakin? Oke baiklah, aku percaya padamu Jinseok." Ia menutup salurannya. "Shilla, kau mau?" tawarnya pada Jimin yang terdiam sibuk menatap jalanan kota Seoul yang ramai. "Jim?" panggilnya lembut.

Jimin menoleh, lamunannya buyar. "Eoh, mana? Shilla? Oke.. boleh saja."

Dan Yoongi membawa mobilnya ke arah hotel bintang lima seperti yang Seokjin rekomendasikan.

.

Sesampainya di restoran hotel, ternyata Seokjin sudah memesankan meja sesuai dengan keinginan Jimin yang privat. Ruangannya benar-benar eksklusif dan elegan, nyaman dan juga mewah. Ada bel di samping mereka berdua untuk memanggil pramusaji jika memesan makanan.

Yoongi langsung memesan wine sengan harga selangit, sedangkan Jimin memesan jus alpukat dengan kualitas buah impor dari Selandia baru. Mereka berdua memesan kudapan ringan terlebih dahulu, sebelum memesan makanan berat.

Jimin sadar, semakin ia menikmati waktu kebersamaan bersama Yoongi sekarang, semakin sempit waktu bertatap muka bersama lelaki tersebut. Jimin tidak banyak berbicara ketika Yoongi mengajaknya bercengkrama, ia hanya tersenyum sambil menikmati makhluk ciptaan Tuhan dihadapannya yang begitu sexy, begitu tampan, dan begitu brengsek disaat yang bersamaan.

Waiting for you.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang