Kediaman Kim sungguh tegang. Ada Jimin disana yang membuat ketegangan semakin terasa mencekam.
Seokjin memaksa Jimin untuk pulang walaupun Jimin juga memaksa untuk tidak ikut, dan Taehyung masih dalam kondisi tidak percaya atas apa yang dikatakan kakaknya tadi di apartemen kapten Min.
"Jimin, apa kabar nak?" Tuan besar Kim akhirnya membuka pembicaraan.
Jimin hanya menunduk takut dan meremas jemarinya yang basah karena keringat itu dengan gerakan abstrak. "Ba-baik, appa." Jawabnya singkat tanpa menaikan kepalanya.
Nyonya Kim hanya bisa menghela napas pasrah melihat anak mungilnya terlihat ketakutan. Ia ingin sekali memeluk Jimin, namun apa daya tangan tak sampai.
Yoongi juga ada disana. Taehyung meminta bantuannya untuk mengantarnya ke rumah karena dia dalam kondisi sangat tidak memungkinkan menyetir mobil setelah mendengar penuturan kakaknya yang sungguh luar biasa.
Hening.
Ruang keluarga yang biasanya selalu hangat itu sekarang terasa sangat dingin. Masing-masing sedang kalut dengan pemikirannya sendiri.
Taehyung yang sedari tadi menahan gejolak emosi di dadanya itu sudah tidak tahan. Bertahun-tahun menggantungkan hubungannya dengan Jeon Jungkook hanya karena seorang Jimin itu membuatnya emosi berat. "KENAPA KAU TINGGALKAN AHREUM DI DEPAN PINTU DAN PERGI BEGITU SAJA DASAR KAU WANITA SIALAN!"
"KIM TAEHYUNG! JAGA UCAPANMU!" Seokjin memperingati adiknya yang sudah kelewat batas. Memaki seorang wanita dan mempermalukannya di depan umum bukanlah hal yang pantas.
Taehyung mendecih, suara decihan berat itu terdengar sungguh kecewa. Sampai sang ayah harus turun tangan untuk menahan rasa amarah anak lelaki satu-satunya yang semakin memuncak di saat keadaan tidak memungkinkan.
Sedangkan Jimin menangis. Ia sungguh tidak menyangka jika kehidupannya berujung seperti ini. Ia kira dulu ia bisa bebas tanpa bayang-bayang keluarga Kim di nama belakangnya. Tetapi perkiraannya salah, ia meninggalkan darah dagingnya dengan keluarga Kim, tentu saja ia tidak akan pernah lepas dari keluarga tersebut.
.
Jimin kecil hidup di panti asuhan di Daegu. Dulu, ibu Taehyung meminta suaminya untuk mengadopsi Jimin untuk teman bermain Taehyung, karena Seokjin semenjak SMA sudah tidak tinggal bersama mereka dan hidup mandiri di Seoul.
Awalnya pertemanan Jimin dan Taehyung begitu baik, begitu erat, begitu kental. Namun setelah beranjak dewasa awal semuanya berubah. Taehyung dengan hormon sisa remaja akhirnya masih menggebu-gebu. Sedangkan Jimin yang sudah mulai meninggalkan masa remaja itu mulai belajar bersikap dewasa.
Pada saat pesta perpisahan sekolah mereka berlangsung, Jimin sudah mewanti-wanti pada Taehyung untuk tidak mabuk karena masih harus menyetir mobil sampai ke rumah. Taehyung mengiyakan, tapi menanggapinya hanya sambil lalu. Hubungan mereka sedikit merenggang ketika memasuki tahun ketiga perkuliahan, Taehyung merasa Jimin sudah mulai kelewatan mengkhawatirkan dirinya yang menurutnya sudah dewasa. Taehyung merasa Jimin mengatur dirinya layaknya seorang ibu, padahal ibunya saja tidak demikian protektif.
Mulai dari jadwal perkuliahan, makanan apa yang harus dirinya konsumsi hingga waktu bermain Taehyung semua Jimin yang mengurusnya. Taehyung adalah seorang dengan jiwa yang bebas. Ia tidak suka di atur sedemikian rupa hanya karena alasan 'jangan sampai masuk ke dalam jurang yang salah'.
Padahal, Taehyung tidak tahu jika semua itu Jimin lakukan karena amanat ibunda Taehyung pada Jimin untuk saling menjaga satu sama lain. Tapi kenyataannya, hanya Jimin yang peduli dan sabar menghadapi Taehyung yang keras kepala.
KAMU SEDANG MEMBACA
Waiting for you.
Fanfiction"Tenang saja, aku akan menunggumu selalu disini." -Park Jimin-. "Aku terlalu lama menunggumu. aku lelah. tapi rasa cintaku terlalu besar mengalahkan rasa lelahku." -Jeon Jungkook-. "Aku tidak bisa menunggu terlalu lama lagi, usiaku sudah tidak muda...
