Dalam balutan suasana sunyi di jajaran pantai selatan, Syifa menundukkan kepala dalam-dalam. Lalu menatap kosong laut pantai lepas. Fikirannya seperti bebas dan lepas dari semua beban yang selama ini menggantung. Ia merentangkan tangan lebar-lebar. Saat itu, senja seperti mengajaknya menyebrangi lautan lepas.
''Syifa,'' tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara itu. Suara yang jelas-jelas ia kenali. Suara yang kerap kali ia dengarkan di masjid saat jadwal sholat. Tapi, bagaimana mungkin?
Syifa menoleh ke samping perlahan. Ia terperanjat mendapati sosok dengan pakaian serba putih-bersih, seperti dirinya. Lihatlah di sampingnya. Seseorang juga turut berdiri menikmati aroma senja di pantai selatan yang sedang bersahabat ombaknya. Seseorang itu nampak sedang menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, ia memejamkan mata.
''K-Kak R-Rasya?'' Tentu saja Syifa kaget. Bagaimana mungkin Rasya tahu keberadaannya?
Rasya menoleh perlahan, ''Syifa, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,''
''Ap-Apa kak?'' Syifa tak kuasa menatap mata teduh itu. Namun, justru sebaliknya. Kali ini Rasya seperti bukan Rasya yang biasanya. Rasya yang ini menatap lembut raut wajah Syifa.
''Kamu bisa lihat ombaknya, Syif?''
''Iya, kak,'' Syifa ragu menjawab.
''Sedikit jinak, ya? Haha..'' Rasya berusaha mencairkan suasana. Syifa hanya membalas dengan anggukan.
''Padahal kita tahu, ombak di pantai selatan ini ombak yang paling galak. Ya 'kan?'' Rasya berkata dengan mata yang beralih menatap lurus ke depan, menatap lautan lepas.
''Maksudnya Kak?''
''Syif, jujur, saya merasa sedikit jinak didekatmu. Sama seperti ombak itu. Ia akan sedikit jinak jika sore menyapanya dengan lembut. Tentunya dalam balutan rekah jingga yang menandakan kasih sayang,'' Rasya tersenyum masam. Bibirnya bergetar. Aksennya terlihat sedikit berbeda seperti biasanya.
Syifa menunduk dalam. Lama ia memahami dan berusaha mencerna kata-kata Rasya. Syifa semakin bingung. Apa yang dibicarakan Kak Rasya? Kata-katanya terlalu tinggi. Aku kan nggak mudeng! Karena Rasya tidak memberi penjelasan lebih lanjut dan membiarkan Syifa memahaminya sendiri, Syifa pun membalikkan diri dan menjauh dari Rasya. Ia tak tahu untuk apa ia melakukannya. Yang jelas saat itu ia ingin segera pergi dari hadapan Rasya. Ini spontanitas.
Rasya tetap menatap lurus ke arah pantai. Tersenyum kecut dan membiarkan Syifa meninggalkannya.
''Lari sejauh mungkin yang kau bisa,Syif!'' Tiba-tiba Rasya berseru keras memecah suara ombak yang 'jinak'. Gerakan Syifa pun terhenti.
''Saya tidak pernah merasa takut ketika kamu pergi,Syif. Saya tidak pernah resah saat kamu berbalik dari saya. Saya tidak risau saat kamu henyak dari pandangan saya. Tapi, saya khawatir, saat kamu membenci saya hanya karena saya terlanjur mencintaimu!''
''WOEEE SYIFAAAAA!'' Kali ini suaranya berbeda. Mirip suara Nefa. Kenapa Nefa suaranya ada sedangkan fisiknya tidak ada? Seakan suaranya datang dari langit.
''Gila ni anak! Woee Bangun!'' Merasa terusik, Syifa terbangun dari tidurnya.
''Gila, lo tidur 2 jam!'' Nefa melotot.
''Serius, lo? Perasaan baru bentar ketemu Kak Rasya?'' Ujar Syifa yang masih belum genap nyawanya.
''Bha..Bhaakk..Bhaaakkssss.... Apa lo bilang? Lo ketemu Kak Rasya?'' Tawa Nefa pecah.
''Woe, ketemu dari mana? Orang dari jam pelajaran ke 4-6 sampai istirahat lo molor! Untung gurunya nggak mondar-mandir! Sujud syukur,gih! Karena lo duduknya mojok deket gue!''

KAMU SEDANG MEMBACA
Habibal Qalbi (Rohis Version)
SpiritualBerawal dari korban TOD. Syifa mendapat giliran 'dare' untuk menembak Kak Rasya-Ketua Rohis Departemen Dakwah yang anti-pati sama pacaran. Lebih parahnya lagi. Harus diterima. Tantangan yang gila, dan mendapat reaksi gila dari rekan-rekan rohisnya. ...