"Irene, saya di suruh oleh Pak Direktur untuk menyampaikan pesan ini padamu." Ujar Renata yang tiba-tiba masuk ke ruangannya dan mengejutkannya.
Jari -jari cantik yang tengah berkutat dengan keyboardnya itu itu tiba-tiba terhenti, mendengar perkataan teman kerjanya. lalu ia menatap wajah wanita yang tengah berdiri di hadapannya itu, dengan wajah datarnya. Selalu saja, temannya ini jika masuk keruangannya itu seenaknya saja. Tak ada salam sapa atau lainnya. "Ada apa lagi?."
"Ku pikir besok kita akan sibuk, Direktur bilang besok akan ada penyambutan CEO baru. Jadi dia memintamu untuk segera menyelasaikan laporannya."
Irene mendesis kesal, kenapa Direkturnya itu selalu saja seenaknya memberi ia perintah. "Bilang padanya, aku tidak berjanji bahwa ini akan segera selesai." Ujar Irene kembali mengetik laporannya.
Renata mengernyitkan dahinya dan menatap wajah temannya itu tak suka.
"Irene." Nada suara Renata berubah menjadi kesal, prilaku temannya yang
satu ini tak pernah berubah. "Kau tau, apa yang akan terjadi jika aku menyampaikan perkataanmu tadi, hah." Ancam Renata yang masih tetap di abaikan oleh Irene. "Ukh. Kau selalu membuat orang lain kesal."Irene mengalihkan tatapan matanya dari dokumen-dokumen yang menumpuk itu ke arah Renata. "Bilang saja pada Direktur apa adanya, tidak usah berbelat belit. Sudah sana kau pergi, aku sibuk."
"Aku tidak tahu pasti apakah saranmu ini akan membantu atau malah membuatku semakin menderita." Ujar Renata dengan nada yang mencibir.
"Jangan kekanakan, Renata." Jawab Irene santainya.
"Yakk, kau bilang ini kekakanan- Renata yang sudah siap melontarkan sumpah serapahnya mengurungkannya, saat melihat kedua mata temannya menatap sayu ke arahnya.
Entah kenapa menurutnya mata Irene menyimpan banyak sekali luka, meski temannya itu terlihat seseorang yang dingin dan tak peduli pada sekitarnya. Tapi ia yakin banyak yang Irene sembunyikan dari wajah datarnya itu.
"Aishhh sudahlah, jika berbicara dengan 'ice princess sepertimu membuat emosiku naik terus." Renata menopangkan dagunya di atas meja kerja Irene dengan sedikit menggembungkan pipinya yang gembul.
"Ngomong-ngomong apa benar besok ada penyambutan itu?." Tanya Irene tiba-tiba, bohong jika Ia juga tak penasaran.
®LANJUTANNYA DI NOVELME YAH©
Taehyung mendengus kesal. 'khawatir.. omomg kosong! Mereka bukan menghawatirkan aku melainkan harta mereka. Batin Taehyung.
"Jika tidak ada yang ingin kalian bicarakan lagi, aku akan pergi." Ujar Taehyung dingin.
"Jangan seperti itu." Ujar nyonya Isabel lirih.
Taehyung menatap malas orang tuanya itu dan berlalu meninggalkan keduanya.
"Taehyung."
"Tae."
Ia mengabaikan panggilan Ayahnya dan terus saja menaiki anak tangga menuju kamarnya kembali. Taehyung tahu bahwa Ayahnya sangat marah atas perlakuannya yang tak sopan seperti ini. Tapi ia bisa apa, jika melihat wajah keduanya, kenangan buruk itu terus saja berputar-butar di kepalanya dan ia sangat membenci kenangan itu.
Sangat membencinya, hingga membuatnya ingin berhenti bernafas.
TBC....
Hai. Mungkin sudah lama aku gak nulis, Terimkasih yang masih setia menunggu tulisanku. Maaf yah, dari tahun 2020 sampai sekarang aku pindah nulisnya di platform lain 😢

KAMU SEDANG MEMBACA
MASK LIFE
RomanceBahkan aku menutup mata dan tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Saat aku melihat dengan mata terbuka, ini luka yang terlalu lama untuk ditangisi. Janji terakhir kali, sekarang aku hanya bisa mengatakannya sebagai kenangan. Saat senyum manis itu per...