.
.
.
.
.
Flashback On.
Ambulance itu melaju dengan cepat menuju rumah sakit, ada seorang wanita yang gelisah terus memegang erat lengan wanita korban kecelakaan itu.
Wanita itu bernama Irene. Ia menangis tersedu, melihat seseorang yang benar Ia kasih dan Cinta terbujur berlumur darah. Seandainya saja, Ia mencegah kepergian wanita ini dari Apartemen mereka mungkin hal ini tidak akan terjadi.
"Tolong cepat Pak." Ujar Irene. Saat ambulan itu telah sampai di rumah sakit yang mereka tuju. Beberapa suster berlari ke arah mereka membawa tempat tidur dorong untuk pasien.
"Sus. Tolong, selamatkan dia." Kata Irene lirih. Ia segera mengikuti dari belakang, yang Ia pikirkan saat ini adalah kesalamatan dari saudaranya.
"Nona. Mohon tunggu diluar, kami akan memeriksa pasien terlebih dahulu." Ucap Suster itu melarang Irene untuk masuk ke ruangan IGD.
Irene terduduk, menatap sayu lengannya yang telah berlumuran dengan darah. "Ini salahku. Aku yang membuatnya seperti ini." Desis Irene meremas jemarinya kuat.
Setelah beberapa jam menunggu dengan gusar, Dokter yang telah menangani saudaranya keluar dari ruangan IGD. Irene segera menghampirinya, dengan suara yang tersedat Ia menanyakan kondisi saudaranya. "B-agaimana Dok?."
"Kita harus melakukan pemeriksaan menyeluruh kembali pada pasien, karena sepertinya ada beberapa cedera dibagian kepala pasien. Untuk itu kami memerlukan Rontgen dan CT-SCAN terlebih dahulu agar mengetahui lebih lanjut mengenai kondisi pasien." Jelas Dokter tersebut.
Irene membungkam mulutnya, Ia tak habis pikir jika saudaranya akan mengalami resiko berat seperti ini. "L-lalu b-agaimana kondisinya saat ini Dok? Aapa aku bisa melihatnya?."
"Tentu. Anda sudah bisa melihatnya, tapi pasien belum sadarkan diri." Ucap Dokter itu merasa bersalah.
"Sebaiknya Anda membersihkan lengan Anda terlebih dahulu, nona." Sambung Dokter itu berkata tulus. "Baiklah. Saya permisi dahulu, ada beberapa pasien yang menunggu saya." Ujarnya menepuk bahu Irene dan pergi.
Flashback Off.
"Begitulah hari pertamaku bertemu dengan Irene dan sampai sekarang saudaranya belum juga terbangun dari komanya." Ucap Dokter itu lirih.
Jeni mengerti kondisi Irene saat ini stelah mendengar cerita dari Dokter yang menangani suadara Irene, inilah yang menjadi pusat kesedihan Irene. "Jika boleh saya tau Dok. Sebenarnya apa hasil CT-scan dan Rontgen saudaranya?."
"Hm, pembengkakan otak. Kecelakaan itu mengakibatkan pembengkakan otak pada wanita itu, sehingga membuatnya menjadi koma selam 6 tahun ini. Hanya Tuhan yang bisa menolongnya untuk saat ini, saya ini hanya pelantara."
Jeni menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan oleh Dokter Rian, mereka para Dokter juga hanya manusia biasa. Semuanya dikembalikan pada sang maha kuasa dan semoga Tuhan berbaik hati memberikan kebahagian pada Irene.
********
"Irene." Teriak Renata yang tiba-tiba masuk ke ruangannya, membuat Irene menahan nafasnya. "Kau kenapa gak angkat telpon si Agus sih, dia jadi ngeganggu aku terus nih." Gerutu Renata pada Irene.
KAMU SEDANG MEMBACA
MASK LIFE
RomansaBahkan aku menutup mata dan tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Saat aku melihat dengan mata terbuka, ini luka yang terlalu lama untuk ditangisi. Janji terakhir kali, sekarang aku hanya bisa mengatakannya sebagai kenangan. Saat senyum manis itu per...
