"Ren. Apa kau sudah menghubungi Irene? Tumben Ia mengambil cutinya." Tanya Agus pada Renata.
Renata yang baru saja kembali dari Kantin membalikkan tubuhnya, Ia menatap ke arah Pria tinggi itu dingin. "Kenapa kau selalu menanyakan Irene padaku? Kamu kan punya nomornya, kenapa tidak langsung menghubunginya dan langsung bertanya padanya." Kata Renata menatap tajam ke arah Agus.
Agus menggaruk lehernya yang tak gatal, Ia merasa sedikit takut kalo Renata sudah meresponnya dengan ketus. "Hehehe. Aku gak enak, kemaren kan kau tau Irene marah." Ucap Agus.
Renata tersenyum dan berjalan membawa roti panggang dan manaronya di meja. "Kau menyukai Irene yah Gus?." Tanya Renata menatap curiga ke arah Agus. Mood Renata tiba-tiba berubah dibandingkan tadi, sekarang Ia tersenyum ceria.
"Eumh, Tidak kok." Sangkal Agus cepat, menepis pertanyaan yang dilontarkan Renata padanya. " Kau jangan menyebarkan yang tidak-tidak." sambungnya dengan nada suara yang gugup.
"Ya sudah sana pergi dari ruangan ku, kau benar-benar mengganggu waktu kerjaku." Ujar Renata mendorong punggung Agus kearah pintu keluar.
"Yah Ren, kamu kan belum bilang Irene kenapa."
"Terserah. Kalo mau hubungi sendiri." Teriak Renata dan langsung menutup pintu ruangannya.
**********
Ini pertama kalinya setelah beberapa Dua tahun, Ia tidak menginjakkan kakinya lagi di depan perusahaan miliknya. Ia menggenggam tasnya erat, melangkahkan kakinya dengan pelan. Memberikan senyuman saat Satpam kantor menyapanya.
"Apa kabarmu Paman?."" Tanya Irene dengan suara lembutnya.
"Ne, aku sangat baik Ny. Irene. Aku sudah lama tidak melihatmu, kau semakin cantik." Jawab Satpam itu membungkukkan tubuhnya.
"Kau selalu seperti itu, Paman. Baiklah aku masuk terlebih dulu." Pamit Irene, berjalan masuk ke perusahaan.
Satpam yang di panggil Irene Paman itu membukakan pintu kepada Irene dan mempersilahkan Irene masuk.
Irene mengamati kantornya yang semakin berkembang, ia senang karena Devi bisa mengembangkan perusahannya. Ia sangat mengandalkan Devi saat ini, karena ia sibuk bekerja di perusahaan Kim Group. Jika disuruh memilih, Ia ingin segera kembali bekerja di perusahaannya. Namun, ini bukanlah waktu yang tepat untuk itu.
Tok.tok.tok
Irene membuka pintunya pelan, Ia menyembulkan kepalanya sedikit.
"Permisi Ny. Dev, apa aku mengganggu waktumu?." Ujar Irene tersenyum geli melihat wajah temannya yang tengah serius membaca berkas-berkas yang Irene tahu itu membuat kepala pusing.
"Masuklah." Ujar Devi datar.
Irene melangkah masuk dan medudukkan tubuhnya di sofa, ia melipat lengannya.
"Aishh, penyambutan yang tak sempurna." Desisnya.
Devi tak juga menolehkan wajahnya ataupun meladeni ocehan Irene. Berbeda jika di Kim Group ia yang selalu bertingkah dingin.
"Dev. Aku kan sudah meminta maaf padamu." Ujarnya merengek seperti anak kecil.
Malas dengan rengekan Irene, ia segera menutup berkas yang ia baca dan melepas kaca matanya. Ia menatap temannya itu kesal dan berkata. "Kau berjanji akan segera kemari, membantuku menyelasaikan berbagai macam dokumen yang menumpuk. Dan ingat aku tak suka dengan panggilan itu."

KAMU SEDANG MEMBACA
MASK LIFE
RomanceBahkan aku menutup mata dan tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Saat aku melihat dengan mata terbuka, ini luka yang terlalu lama untuk ditangisi. Janji terakhir kali, sekarang aku hanya bisa mengatakannya sebagai kenangan. Saat senyum manis itu per...