Bagian-20

14K 1K 60
                                        

Kita dihukum dengan cara yang berbeda..
.
.
.
.
.

Panti akan mengadakan acara untuk memeriahkan ulang tahun seorang donatur dipanti tersebut. Nara terlihat sibuk didapur untuk membuat kue bersama beberapa pengurus dan anak panti. Berinisiatif untuk membuat beberapa macam kue, Nara menuangkan keahlian dalam kegiatan membuat kue.

Seorang gadis kecil berumur sekitar sepuluh tahun masuk ke dapur dan menginterupsi kegiatan yang berlangsung, "Kak Nara, Eunbi menangis," lapor gadis itu setelah menghampiri Nara.

Nara sendiri buru-buru melepaskan sarung tangan plastik yang ia pakai. Sedikit berlari mengikuti langkah gadis kecil yang berjalan lebih dulu di depannya.

Beberapa bulan Nara dan Eunbi tinggal di panti, mereka sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan disana. Terlebih untuk Eunbi. Ia tumbuh dengan baik dan begitu disayangi oleh semua orang yang tinggal di panti karena kelucuan dan sifat tidak mudah rewelnya. Nara bahkan merasa tidak kesulitan mengurus Eunbi kecuali untuk urusan ASI.

Terdengar tangisan Eunbi dari salah satu kamar. Nara masuk dan melihat seorang anak perempuan tengah menenangkan Eunbi dalam gendongannya, namun bayi perempuan itu tetap menangis.

"Sayang ..." Nara mengambil alih Eunbi, menghapus air mata dipipi bulat putri semata wayangnya. Wajah Eunbi yang putih berubah warna menjadi kemerahan karena tangis. Beberapa anak yang sejak tadi bermain sekaligus menjaga Eunbi membantu untuk menenangkan bayi perempuan itu, namun rupanya masih tak berhasil. Dengan senyum dan ucapan terimakasih Nara lalu membawa Eunbi keluar menuju kamarnya sendiri.

Nyonya Cho memang memberikan sebuah kamar kecil untuk orang-orang yang membantunya mengurus panti. Dan Nara salah satunya, di pagi hingga siang hari, Nara akan mengajar anak-anak panti dari usia 5-12 tahun tentang pelajaran yang umum didapatkan pada bangku sekolah. Saat sore hari, Nara akan membantu untuk memasak makan malam.

Untuk biaya Eunbi Nara tidak lagi khawatir karena Hwan telah berjanji pada Nara akan membiayai semua kebutuhan keponakannya itu, terkadang ada beberapa donatur yang datang ke panti memberikan perlengkapan bayi untuk Eunbi. Tidak sedikit juga yang ingin menjadikan Eunbi anak angkat mereka, namun segera Nara tolak dengan sopan. Nara sadar, wajah anaknya sangat lucu dan cantik. Jauh dari kesan orang Korea pada umumnya, Eunbi memiliki mata yang tidak sipit, kulit yang terlampau putih dan rambut yang sedikit coklat Persis seperti Ayah biologisnya.

Nara menarik nafas dalam. Dulu ia berharap saat dapat memulai hidup dengan Eunbi, semua bayang-bayang masa kelamnya tidak akan ikut. Namun kini, sekeras apapun ia berusaha, nyatanya tak bisa menghapus semua kenangan menyakitkan itu.

Bagaimana bisa terhapus? Jika wajah orang yang membuat kenangan menyakitkan itu hadir dalam versi mungil, melekat erat pada wajah putri kesayangannya yang ia perjuangkan setengah mati agar bisa terlahir ke dunia ini.

"Eunbi ... Sayang ..." Nara mengelus lembut pipi Eunbi yang terasa lengket karena bekas air mata. Lalu membuka kancing baju atas untuk menyusui Eunbi. Untungnya, beberapa hari terakhir sejak Nara rutin mengkonsumsi makanan yang dianjurkan untuk orang yang menyusui, ASI-nya mulai lancar.

Mata Eunbi perlahan mulai menutup karena buaian dari tangan lembut ibunya. Setelah Eunbi benar-benar tertidur Nara lalu mengambil selimut kecil dan bantal guling untuk diletakan dikanan kiri Eunbi.

*****

Acara itu berjalan dengan penuh suka cita dan tawa kebahagiaan. Semua penghuni panti merapalkan doa baik untuk wanita paruhbaya yang masih terlihat cantik diusia senjanya.

Setelah memberi ucapan selamat ulang tahun secara langsung, Nara pamit keluar dari aula tempat berlangsungnya acara untuk kembali ke kamarnya. Sudah waktunya menyusui Eunbi. Tanpa Nara sadari, ada sepasang mata yang menatapnya sendu dari kejauhan.

******

Setiap perbuatan, baik-buruknya pasti akan mendapat balasan. Tak kira besar ataupun kecil. Tuhan maha adil.
Jika balasannya tidak didapat di dunia, berarti telah Tuhan siapkan di akhirat.

Devian Arthur, sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak menampilkan Ekspresi terkejut di wajahnya. Melihat beberapa foto dengan objek yang mampu membuat jantungnya memacu cepat.

Nara dan bayi dalam dekapannya

Tanpa perlu bertanya, otak Devian dengan sendirinya membuat asumsi bahwa bayi yang ada dalam gendongan Nara adalah ...

"Apa maksudmu?" Devian sangat pintar menjaga nada bicaranya.

Seseorang yang masih duduk di depan Devian  hanya mengangkat bahu, merasa tak melakukan kesalahan apapun. "Aku hanya ingin menunjukkan padamu bahwa ada bayi perempuan yang wajahnya sangat mirip denganmu saat bayi, Dev." Orang tersebut kembali mengeluarkan beberapa lembar foto dari tasnya.

"Yura! Hentikan semua ini. Kau pikir dengan semua yang telah kau lakukan akan membuat aku melakukan apa, hah?"

"Aku tidak perduli dengan apapun yang akan kau lakukan Devian. Aku melakukan semua ini hanya untuk menghukummu. Terlalu lama menanti hukum karma dari Tuhan untuk manusia tidak bertanggung jawab sepertimu. Aku ingin membuatmu terus-terusan dihantui rasa bersalah karena telah berbuat jahat pada Nara."

Devian menatap sepupunya dengan kaget. Yura tidak pernah memakinya seperti ini. Bahkan gadis itu terang-terangan ingin ia mendapat karma dari Tuhan. Padahal, sesungguhnya karma itu telah Devian terima sejak Nara pergi dari rumahnya.

Rindu

Perasaan yang baru dirasakan ketika objek kerinduan itu pergi dan tak terlihat mata. Devian mengakui itu meski tak pernah terucap dari bibirnya.

Putra tunggal keluarga Arthur itu menunduk dengan pandangan fokus pada satu titik. Wajah bayi dalam dekapan hangat Nara. Begitu cantik. Rambut coklat dan mata bulat benar-benar membuatnya terlihat berbeda dari orang Korea pada umumnya. Jelas itu semua duplikat Devian. Ia tidak bisa membayangkan bahwa anak yang selalu ia coba lupakan keberadaannya tumbuh secantik dan selucu ini.

Terdengar helaan nafas yura, "harus aku akui bahwa gen mu sangat baik, Dev. Namun aku harap Eunbi tidak mewarisi sifat-sifatmu."

"Eunbi?"

"Iya. Eunbi. Anak Nara bernama Shin Eunbi," Yura lalu tertawa meremehkan, "aku lupa, kau pasti baru mengetahui informasi ini, kan?"

Devian tidak menampik. Shin Eunbi? Kenapa nama Arthur tidak disertakan?

Ah, Devian lupa. Ia tidak mengakui bayi perempuan itu, jadi mana mungkin Nara bersusah payah menyertakan Nama keluarganya.

Tangan Devian mengambil satu lembar foto Eunbi. Bayi perempuan ini, entah mengapa membuat rasa bersalah dihati Devian makin tak terbendung.

Rupanya ...

Tuhan menghukum mereka Dengan cara berbeda, juga waktu yang berbeda.

Lama keadaan hening hingga Devia  berucap lirih, "aku ... ingin melihat mereka."

Yura terpana dengan ucapan sepupunya yang keras kepala. Dengan yakin Yura menjawab, "aku akan membantumu untuk bertemu mereka Dev."
.
.
.
.
.

Hai~

Makasih untuk yang masih mau baca cerita ini^^

Maaf kalau masih pendek partnya wkwk

Bener deh kuliah semester tua tuh... AMAZING😂😂
Nguras otak, tenaga, dan yang pasti duit😅

Semoga kita semua yang lagi kuliah, kerja atau sekolah lancar-lancar aja^^

TRUST (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang