Bagian-24

13K 1K 48
                                        

Keluarga adalah Kebahagiaan yang tidak ternilai oleh tumpukan harta sekalipun~
.
.
.
.
.
.

Terdengar gelak tawa dari dalam kamar Nara. Saat ini Eunbi sedang bermain dengan pamannya, Hwan.

Siang tadi Hwan sampai di panti untuk menjenguk Nara dan Eunbi. Hampir setiap akhir minggu Hwan datang ketempat ini.

Keadaan adik dan keponakannya terlihat baik. Bahkan Nara berubah menjadi lebih banyak berbicara dan riang.

Hwan mengelus kepala Nara, "kau terlihat sangat bahagia tinggal disini."

Nara tersenyum membalas pertanyaan Hwan. Lalu memutuskan untuk menceritakan sesuatu kepada kakaknya.

"Kemarin, ada seseorang yang menemui Eunbi."

"Siapa?" Tanya Hwan penasaran.

"Kim Yura," Jawab Nara pelan.

Hwan berdecak setelah mengingat siapa pemilik nama itu. "Dia benar-benar membuatku pusing Nara. Memaksa untuk diberikan alamat tempat kau tinggal saat ini hingga membuat pekerjaanku terganggu."

Nara tersenyum tipis mendengar keluhan kakaknya.

"Dia bilang kalau kau adalah temannya, jadi ia tidak mungkin memberitahukan keberadaan kalian pada siapapun."

Helaan nafas Nara mengambil atensi Hwan yang sebelumnya sedang mengamati Eunbi.

"Ada apa? Dia melakukan sesuatu padamu?"

Menggeleng pelan," Yura tidak melakukan apapun, hanya saja kemarin ia tidak datang sendiri ketempat ini. Ia ... bersama seseorang."

Hwan yakin seseorang yang ikut bersama Yura ada sangkut pautnya dengan Eunbi.

"Yura datang bersama Devian."

Tubuh Hwan menegang untuk beberapa saat. Banyak orang yang Nara tidak ingin temui dan Devian adalah yang paling utama. Perasaan kesal langsung ia rasakan. Rasanya ia ingin sekali membuat perhitungan dengan wanita yang bernama Yura. Bisa-bisanya perempuan berisik itu membawa Devian untuk menemui adiknya.

"Aku akan membuat perhitungan pada wanita itu." Hwan berucap tertahan.

"Kak ..." Nara menyentuh tangan Hwan pelan. "Devian sendiri yang ingin datang. Dia bilang ingin melihat Eunbi."

Hwan terdiam, "Nara, maaf. Aku gagal lagi melindungimu."

Nara menggeleng. "Kakak sudah melakukan yang terbaik. Lagipula, Devian memang berhak bertemu dengan Eunbi. Bagaimanapun ia ayahnya."

"Nara ... kau tidak perlu memaksakan kenyataan itu. Meskipun dia ayah biologis Eunbi tapi ia dan keluarganya telah melakukan hal jahat padamu dan Eunbi."

"Aku tau. Tapi hidup dengan perasaan benci pada orang lain tidak membuat hidupku tenang, Kak. Aku memang belum bisa melupakan semua kenangan buruk itu, tapi aku merasa yang aku lakukan kemarin tidaklah salah."

Hwan menarik Nara kedalam dekapannya tanpa membuat Eunbi yang berada di tengah mereka terhimpit.

"Kau seperti malaikat Nara." Sejak kecil Nara memang tumbuh menjadi gadis manis dan baik hati. Nara tidak sungkan memberikan makanan atau mainan yang ia miliki kepada teman panti yang lain.

Semua kenangan itu, lagi-lagi membuat Hwan ingin menangis dan bersimpuh di kaki adiknya. Bagaimana mungkin adik yang paling ia sayangi itu diperlakukan tidak baik, bukan hanya oleh orang lain. Tapi juga dirinya. Kakak macam apa dia?

Keheningan menyelimuti mereka. Nara dengan pikirannya dan Hwan dengan rasa bersalahnya.

"Kakak ..." Nara melepas pelukan mereka, "kenapa Soo Mi tidak di ajak kemari?"

Hwan buru-buru berdeham untuk menghilangkan keterkejutannya.

"Ada apa Kak?" Melihat Hwan yang salah tingkah membuat Nara merasa ada yang sedang kakanya tutupi.

"Hubungan kalian baik-baik saja, kan? Atau sudah ada kemajuan?" Nara tau sekali Soo Mi menyimpan rasa pada kakaknya. Dan Nara sangat setuju jika suatu saat Hwan memiliki hubungan lebih dari sekedar teman dengan Soo Mi.

"Mmh ... ya, hubungan kami baik-baik saja."
Nara mengangguk pelan mendengar jawaban kakaknya. "Lalu?"

"Apa?" Hwan balik bertanya pada adik semata wayangnya yang masih menampilkan raut tidak puas.

"Kakak masih menganggapnya teman? Tidak lebih?" Lanjut Nara bertanya.

Lagi-lagi Hwan salah tingkah. Menggaruk tengkuk yang tidak gatal lalu menjawab sekenanya, " sampai saat ini, kurasa begitu."
Nara terkikik pelan melihat tingkah kakaknya.

"Nara, sebenarnya ..." Hwan ragu untuk menyampaikan maksudnya. Tapi melihat respon Nara akan kedatangan Devian kemarin, Hwan harap respon Nara kali ini tidak akan lebih buruk.

"beberapa bulan lalu, orangtua Devian pernah datang kerumah untuk mencarimu. Mereka juga berkata hal yang sama seperti yang Devian katakan. Mereka juga ingin melihat dirimu dan Eunbi."

Lagi-lagi keheningan itu datang. Manghantarkan perasaan sesak karena diiringi kilasan masa lalu yang jika bisa, tidak ingin Nara ingat. Penolakan mereka, tuduhan, dan tatapan benci masih dapat Nara ingat jelas. Bukan. Bukan karena belum ikhlas memaafkan, namun nyatanya ia tetap manusia rapuh. Perempuan dengan usia belasan tahun, namun kehidupannya jauh dari nasib anak seusianya.

"Apa yang harus aku lakukan Kak?" Hwan tak menjawab memilih membiarkan Nara melakukan apa yang ia inginkan.
"Aku tidak tau harus bagaimana jika bertemu dengan mereka lagi." Beda dengan Devian, orangtua laki-laki itu jelas ikut merencanakan pemisahan dirinya dengan Eunbi sebelum bayinya lahir. Jadi, Nara tidak tau harus bagaimana.
"Hanya biarkan hatimu yang berbicara, maka kau akan mendapatkan jawabannya. Jangan memaksa, bila memang kau tidak siap."

*********

"Apa Ayah tidak akan marah?"

"Aku tidak perduli. Ayah tetap harus menerima Eunbi dan Nara sebagai bagian dari keluarga kita. Aku tidak bisa lagi mengabaikan keberadaan putri Devian. Cucuku sendiri." Kim Sena terisak sedih. Setelah ia melihat foto Eunbi dari orang suruhannya ia makin merasa bersalah. Dulu sekali, saat ia mendambakan seorang bayi perempuan namun Tuhan tidak pernah mengabulkan. Janinnya tidak bisa bertahan untuk melihat dunia.

Rayden Arthur memeluk erat istrinya. Wanita yang sudah dua puluh tahun ia nikahi. Perempuan korea yang membuatnya jatuh cinta saat sama-sama berkuliah di Amerika. Rayden tau seberapa terpuruknya Kim Sena saat anak kedua mereka yang telah dokter prediksi berjenis kelamin perempuan tidak bisa terlahir ke dunia.

"Tenang sayang ... kita akan sampaikan secara baik-baik pada Ayah."

Kim Sena mengangguk, "Devian telah bertemu dengan Eunbi, dan Nara memperbolehkannya."

Gantian Rayden yang mengangguk. Ia juga sudah tau berita itu dari orang suruhan mereka. Respon Nara sungguh di luar dugaan mereka. Meskipun enggan tapi wanita muda yang telah melahirkan cucu untuk mereka tidak memukul atau bahkan memaki Devian dengan kata-kata kasar.

"Kita akan bicara pada Devian. Jika Devian ingin bertanggung jawab pada Nara dan Eunbi, aku akan membantunya." Rayden tidak ingin memaksa, bagaimanapun baginya Devian dan Nara berhak memilih. Namun jika bersatu menjadi jalan yang dipilih, ia akan mendukungnya.

"Aku yakin Devian bersedia menikahi Nara ..." gumam Kim Sena pelan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc~

Gimana puasa? Lancarkan?😁

Trust makin mendekati ending nih. Semoga Nara sm Eunbi bisa bahagia~

TRUST (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang