Saat dia bilang memetik strawberry kupikir itu semua hanya semacam bualan. Tapi... Kami benar-benar berakhir di sebuah perkebunan strawberry.
Kuroko benar-benar tidak habis pikir dengan perilaku Akashi yang tidak dia mengerti. Bagaimana bisa mereka berdua merasakan manis strawberry sedangkan rekannya bekerja. Ah tidak, itu hanya pikiran Kuroko.
Di Kantor.
"Hei, bagaimana kalau kita pesan ramen?" tanya Aomine.
"Aku lebih suka sesuatu yang berbentuk bento." balas Kagami.
"Anmitsu!" seru Momoi yang langsung diikuti antusias dan semangat Murasakibara.
"Hei Akashi menyuruh kita menyelesaikan semua tugas ini. Kita tidak boleh bersantai, nanodayo." kata Midorima memperingatkan."Sudahlah tidak usah dipikirkan, aku jamin sekarang dia sedang makan dengan Tetsu." balas Aomine menghiraukan peringatannya, ia segera menekan nomor telepon delivery order.
.
.
.
Kuroko berdiri diam masih tidak percaya, dia bahkan sudah mengenakan sarung tangan untuk mengambil strawberry.
"A-Anu Akashi-san, sepertinya ini agak..."
"Hm? Bukankah kau tadi bilang bersedia menemaniku? Lagi pula, lihat ini Kuroko. Strawberry di sini sangat besar, bagaimana cara memetiknya?" tanya Akashi dengan antusias. Dia seperti jadi orang lain karena kehilangan karakternya.Tapi melihat Akashi yang sangat bersemangat membuat Kuroko tanpa sadar tersenyum. Dia dengar dari Midorima sebelumnya, jika masa kecil Akashi sangat ketat dan disiplin.
Entah seperti apa dirinya dulu, Kuroko memang tidak tahu. Tapi senyumnya di masa ini juga bisa membuat orang lain tersenyum.
"Lihat ini Kuroko.. Paman ini mengajariku cara memetiknya." kata Akashi dengan begitu semangat.
"Pfft, tentu saja Akashi-san, dia adalah petugas yang berjaga di sini. Rasa antusiasmu seperti anak SD." balas Kuroko tertawa kecil, ia menyembunyikan bibirnya di balik tangannya.Akashi hanya tersenyum akhirnya dia bisa melihat senyuman Kuroko yang sangat manis. Mereka berdua sama-sama senang karena bisa melihat senyum satu sama lain.
Pada akhirnya keduanya memutuskan untuk memetik banyak strawberry sebagai buah tangan rekannya juga, tidak lupa menikmatinya dengan susu atau gula. Mereka juga mendengarkan baik pengarahan yang diberikan oleh petugas yang berjaga"Akashi-san, buka mulutmu... Coba rasakan strawberry yang warnanya merah sepertimu ini." Kuroko mengulurkan strawberry yang cukup besar berwarna merah terang di depan bibir Akashi. Tanpa ragu dan hanya bergerak secara naluri, Akashi membuka mulutnya.
"Haup.""Oh, manis sekali." balas Akashi terkagum, ia mengunyah strawberrynya sampai habis. Tangannya juga tidak ragu untuk menghapus bekas susu di sekitar bibirnya.
"Benarkan? Manisnya sama seperti warna rambutmu." Kuroko tersenyum lembut. Sadar dengan ucapan Kuroko yang di dalamnya terdapat unsur 'pujian' membuat semburat merah segera hadir di wajah Akashi.
"Hm?" respons Kuroko bingung.
"Arara pasangan muda, apa kalian pengantin baru? Manis sekali~ Kau pandai menggoda suamimu ya." tiba-tiba beberapa wanita yang juga pengunjung di perkebunan menggoda keduanya dengan wajah bahagia."Manisnya~ Semoga kalian berdua cepat diberi momongan ya." katanya lagi sebelum pergi.
Sementara Akashi sudah tersadar dan menyembunyikan wajahnya yang memerah, Kuroko masih terdiam dengan otak yang berjalan baru di 80% loadingnya sebelum sukses. Ketika wanita-wanita tadi terus berjalan sambil menggoda, barulah Kuroko tersadar dengan wajah super merah seperti kepiting rebus.
"Kami bukan pasangan suami istri! Dan kami tidak menikah!" balasnya dengan ekspresi gugup yang lucu dan membuat para bibi terheran, tapi kemudian mereka tersenyum dan kembali menggoda. Ia tidak bisa mempertahankan ekspresi datarnya ketika dikatai sebagai pasangan suami istri muda, bukan?

KAMU SEDANG MEMBACA
Basketlicious (KnB Fanfic) [AkaFemKuro] END
FanficMasa lalunya penuh dengan gemerlap kemenangan, hingga satu kekalahan merubah hidupnya. . . Akashi Seijuurou memang seorang anak dari direktur sebuah perusahaan penerbit terbesar di Asia, Akashi Media. Dia bekerja di bawah naungan ayahnya, membentuk...