tujuh

107 48 8
                                    

Sekarang aku sudah berada di smp1 elang. Sekolah yang memberikan ku banyak kenangan.

"Sekarang jam berapa?" ucapku kepada juniorku.

"Udah jam 2:50 kak" ucap wiwi selaku ketua putri.

"Oke sekarang kamu kumpulkan semua anggota melakukan upacara sebelum latihan"

"Siap kak" ucapnya sembari meninggalkan ku.

Tiba tiba kak brayen datang. Aku langsung saja bersalaman dengannya. Karena kak brayen yang lebih tua di banding aku. Jadi aku harus menghormatinya.

"Udah lama?"

"Hmm lumayanlahh"

"Sama siapa?"

"Sendiri kok kak"

"Ohh, yukk kesana" ucapnya sambil mengajakkku ke taman sekolah yang tidak jauh dari lapangan, tempat adik adikku sedang melakukan upacara.

Sejenak hening, akhirnya aku sendiri yang memecahkan keheningan.

"Kabar nya kak fatimah gimana?" tanyaku kepada kak brayen.

Kak fatimah itu pacarnya kak brayen. Dua bulan setelah kak brayen mengungkapkan perasaannya kepadaku, kak brayen menemukan sosok kak fatimah. Menurutku itu lah takdir, kak brayen memang harus merasakan pedihnya terlebih dahulu sebelum mendapat kan kebagiaan kelak. Dan kebahagian kak brayen yaitu kak fatimah.

"Baik kok" ucap kak brayen.

"Alhamdulillah deh, salam buat kak fatimah yah"

"Iyya entar di sampein"

Suasana pun kembali hening, aku yang sibuk dengan ponselku dan kak brayen yang sibuk mengamati latihan adik adikku.

"Lagi deket sama siapa?" ucapnya sambil menatapku.

"Deket apaan sih?"

"Pasti kamu lagi deket sama seseorang kan?"

Aku diam, mungkin sudah saatnya aku menceritakan hal ini kepada kak brayen. Sebagai adik aku harus terbuka kepadanya. Tetapi sebelum aku memulai menceritakannya, ia pun langsung saja merampas ponsel ku. Aku kaget, aku tidak bisa melawan kak brayen soalnya dia sudah memberikan ku tatapan tajam. Yang harus aku lakukan hanya diam dan pasrah.

"Hah, kamu kenal sama daniel?"

"Hmm gituh deh" ucapku sambil tersenyum geli.

"JAUHIN DIA SEKARANG!!!" ucapnya dengan menekankan nada bicaranya.

"Lohh kok gitu sihh, emangnya dia salah apa?" tanyaku langsung dengan raut wajah memelas.

"Kamu belum kenal dia rianti!!! Mending kamu jauhin daniel mulai detik ini!"

"Kak aku selalu nurutin apa yang kakak bilang sama aku. Tetapi kalau soal ini mungkin aku nggak bisa kak" ucapku memohon.

"Kenapa nggak bisa? Karna kamu sudah suka sama dia? Haa??"

"Kak bukan gitu, tapi aku nggak bisa ngejauhin daniel karena aku memang sudah punya perasaan sama dia" batin ku.

"Bukan gitu kak, tapi aku nggak bisa jauhin dia kalau aku nggak punya alasan kuat"

"Rianti, ini demi kamu dek. Kakak nggak mau liat kamu menderita kedepannya"

"Beri aku satu alasan yang jelas, kenapa kakak nyuruh aku ngejauhin dia!!"

"Akhh kamu masih sama seperti dulu, kamu keras kepala rianti. Apakah kamh pernah melihat seorang kakak mau melihat adeknya menderita?"

"Kak apa susahnya sihh jelasin ke aku"

PromiseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang