Selepas kepergianmu, aku memulai kembali untuk menata diri. Menyusun jiwa ini untuk kembali utuh seperti dahulu kala. Memori yang kita ciptakan, sekarang menjadi abu dan menghilang begitu saja. Kepingan-kepingan harapan yang kamu tanampun, sekarang mulai lusuh dan tua dimakan usia.
Selepas kepergianmu, aku berubah menjadi jiwa yang baru—yang aku sendiripun sempat tidak mengenalinya. Tapi aku tahu itu semua berkat ulahmu, Tuan.Jiwa yang barupun kian menutupi jiwaku yang lama—jiwa yang dulunya senang akan cinta, tergantikan oleh jiwa yang sekarang takut memulai cinta.
Dan sekarang, aku sudah ditengah-tengah perjalanan. Aku sudah bisa menerima kepergianmu dengan ikhlas. Sebab aku tahu, kita tidak bisa memaksakan kehendak jika yang diatas tidak mengizinkannya.
Dan dengan begitu, hari ini tepat Sembilan bulan selepas kepergianmu, aku atas nama cinta untuk diriku sendiri
menyatakan bahwa aku melepaskanmu untuk selamanya. Aku merelakanmu dengan yang kau pilih sekarang.
Dan aku, tidak ingn mengulang kesalahan yang sama dengan selisih waktu yang berdekatan.
Juga dengan ini,
aku akanmembiarkan hatiku rehat sejenak dari lebam yang kamu berikan padaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ini, (juga) Bukan Apa-Apa.
PoetryAku menulis jika aku merindukanmu. -InternetdoII, fooledhearts, Utara, Luar Bumi, all in one.
