1. Ketika Nasib Berdengung

1.4K 57 9
                                        

       Seorang wanita yang berambut ikal tebal, mengenakan jaket rajut coklatnya, serta daster merah polkadot putih berada di Bukit Acıgöl-Nevşehir, Kapadokkya. Dia menangis sesenggukan. Suara langkah sepatu boots hitam terdengar jelas, menginjak tanah kering dan tandus. Dia berlari dari Desa Naarköy—sebuah desa hijau yang dibangun dari bata coklat muda, kadang bebatuan, bahkan dari tanah—menuju Danau Narlıgöl, di mana danau ini berada di antara gunung berapi dan gunung es. Tubuhnya yang dibalut daster merah polkadot ini terduduk lemas, sebelah tangannya merapatkan jaket rajutnya, dan sebelahnya lagi membelai bayi yang ada di dalam perutnya. Tak tahan, ia menjerit sekuat tenaga, kemudian dilanjutkan dengan tangisan yang keras. Ia membungkukkan dirinya, kepalanya tertunduk tepat di atas lutut. Menangis sesenggukan lagi.
     “Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Kenapa dia tidak pernah mengerti aku. Aku tidak mau begini. Tuhan, aku tidak mau.” Kemudian wanita itu menegapkan posisinya, mengusap air matanya. Ia tidak boleh seperti ini, harus menjalani apa jalannya, tidak boleh mengelak sekali pun karena ini akibat ulahnya sendiri. Ia seorang perempuan, dan seorang perempuan pun harus lebih kuat dari laki-laki dalam menjalani kehidupan. Berdiri perlahan meskipun kepalanya sakit, pandangan anyang-anyangan akibat terlalu banyak menangis.
     Mendengkus meskipun sesegukan, tersenyum di hadapan danau. “Bagaimana pun, aku akan melawannya, tetap melawannya.”

________

     Senja hari, di mana Kota Istanbul Turki ini, langit berubah merah, lampu-lampu disekitar bawah jempatan terpanjang di Turki, yaitu Boshoporus menyala berkelap-kelip indah nan penuh warna. Di mana kedua menara; Galata dan Maidens yang ada di seberang Bhosporus ini terlihat semakin indah. Ada burung-burung camar beterbangan di atasnya serta kapal-kapal masih belayar di lautan. Ada daratan dan tempat bersejarah di sana, juga ada banyaknya masjid-masjid dari kejauhan dan kelihatannya sangat jelas ketika seseorang berada di ujung jembatan itu. Orang-orang mulai menghentikan kesibukannya, tidak kecuali bagi yang lembur, termasuk salah satu tempat pemotretan.

      Di sini, para rekan sibuk menyiapkan segala persiapan untuk sesi pemotretan; mulai dari bawa kamera, latar putih untuk maksimalkan cahaya, payung hitam, juga pakaian modelnya. Singkat cerita, sesi pemotretan pun dimulai. Tampak ada seorang gadis yang mengenakan kemeja putih yang besar ukurannya. Berlenggak-lenggok aras ruang pemotretan, berhenti di hadapan para rekan.
    “Apa aku terlihat sempurna di hadapan kalian?” Sang gadis tersenyum sinis sembari membuka kacamata hitamnya, lalu menggerak-gerakkan kepalanya hingga rambut ikalnya berayun-ayun.
     Mereka terpana dengan kecantikan gadis di hadapan mereka.
     “Ayşu ...,” gumam beberapa dari mereka.
     “Bukankah begitu, teman-teman?” Ayşu bercekikik sengit.
     “Ya, seperti biasanya, kau sangat sempurna,” ujar salah satu dari mereka.
     “Tidak ada perubahan sama sekali,” tambah yang lainnya.
     “Ini akan menyempurnakan sesi pemotretan kali ini karena kau semakin hari semakin indah saja,” lanjut yang lainnya. Mereka semua tersenyum pada Ayşu.
    “Terima kasih, teman-teman manisku. Maka dari itu ...” Gadis itu melepaskan kancing kemeja putihnya, lalu melemparnya ke sembarang tempat “... akulah yang akan membuat itu semakin sempurna!”

______

       Di Silivri pasangan ini berdiri bersebelahan di hadapan Laut Marmara, İstanbul, Turki. Di antara mereka banyak orang yang sedang memancing di perbatasan pagar, kapal-kapal yang ada di tepi perbatasan, juga banyaknya burung camar di sana. Angin sepoi-sepoi membelai tubuh mereka. Ah, suasana sore di Piri Mehmet Paşa begitu menyegarkan untuk bersantai.
      Seorang pria menoleh padanya sembari membuka lembar demi lembar buku majalah yang sebelumnya diberikan sang gadis di sebelahnya. Tampak potret sang gadis ber-pose seksi dan hanya mengenakan bra dan celana dalam warna hitam. Antara malu dan menggetarkan saat ia melihat gadis itu di majalah. “Semakin hari pose-mu semakin menjijikkan.”
     “Tapi bukankah itu bagus? Aku tahu kau sebenarnya sangat menyukainya.” Gadis berkacamata hitam, kemeja putih, mengenakan topi pantai cokelat ini menoleh pada pria yang diduga adalah pacarnya sendiri. “Munafik.”
     “Ya, aku munafik, tapi untuk sekarang tidak.” Pria itu menutup majalah, lalu menyerahkannya pada gadis di sebelah.
     “Karena pacar simpananmu akan marah jika kau jujur dan memujiku bahwa aku lebih menarik darinya.” Sang gadis memperbaiki kacamata dengan satu tangan yang masih memegang majalah.
      Pria itu tertawa sejak, lalu berdecik. “Sayangnya aku lebih mengutamakanmu.”
      “Mengutamakan nafsumu.” Gadis itu tanpa memandangnya.
      Suasana di antara mereka berdua hening, hanya suara obrolan para pemancing, ombak kecil, dan cuitan burung camar yang riuh di sore biasanya. Tak lama kemudian, ponsel gadis itu berdering. Mengangkat telepon, menjauh beberapa langkah dari pria di sebelahnya.
     “Ya, Ibu?” balas sang gadis, menjenjangkan kepala, merapatkan ponsel antara pundak dan leher, sementara tangannya memasukkan majalah di tasnya.
    “Di mana kau?” tanya ibu tegas.
     “Aku—” Belum sempat, sang ibu langsung melanjutkan ocehannya.
     “Jangan bilang kau bersama dengan pria itu.”
     “Ibu, tolong, aku—”
    “Dengar, aku mengawasimu dari jauh.” Tanpa basa-basi wanita itu mematikan teleponnya. Gadis itu pun menoleh pada pria yang menghampirinya setelah melihat dirinya usai berhalo.
      “Ibuku ...,” lirih gadis ini.
      “Apa?” gumam pria ini memekik, mengerutkan dahi.

Resound (Reupload)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang