4. Neraka untuk Rindu

557 40 10
                                        

      “Kerinduan adalah neraka bagi yang terluka.„

   Masih di tempat yang sama, Ayşu berusaha berdiri, melangkah masuk ke dalam mobil. Meraih ponselnya di dalam, menghubungi Mehmet. Telepon pun diangkat oleh Mehmet.
  “Ayşu? Apa kau baik-baik saja?”
   “Tidak.” Ayşu menangis bertawan-tawan.
  “Lalu kenapa kau menangis? Katakan padaku.”
  “Karena kau.”
  “Aku? Apa salahku!?”
  “Karena Anka mencarimu! Kaubuat hubunganku dengan Sancar yang baru saja dibangun sudah berakhir! Apa yang kauinginkan dariku? Apa! Sudah puas sekarang? Hah! Puas! Setiap kali aku bahagia, tapi kalian merusaknya! Kalian menghancur-leburkan semuanya!”
  “Ayşu! Dengarkan aku dulu—” Ayşu mematikan teleponnya, membuang ponselnya dari jendela. Menepuk-nepuk kepalanya di setiran mobil sambil menangis sesenggukan, lalu menjerit.

______

   Setahun kemudian ...

        Pagi ini Sancar dan Sema—tunangannya—datang ke bar untuk bernyanyi. Mereka memasuki panggung bar, kemudian bernyanyi duet bersama. Sancar amat bahagia dengan Sema. Sema yang polos, baik, lembut, dan amatnya perhatian pada Sancar. Sikapnya sama seperti Ayşu. Ah, lagi-lagi Sancar merindukan gadis itu, dan ingin tahu bagaimana kabarnya sekarang.
    Saat tengah berduet, mata pria itu membulat ketika ada seorang gadis yang dia rindukan datang ke tempat ini. Gadis itu datang bersama seorang pria—mungkin dia orang kaya—yang begitu gagah. Ia lihat gadis itu menolak, tapi sang pria merengek, dan terpaksa dia menuruti apa yang pria itu pinta.
   Mereka berpandangan jauh. Mata gadis itu berkaca-kaca emosi memandang pria ini, sementara dirinya menganggapnya biasa saja, tapi di dalam hatinya bukan lagi berkaca-kaca, tapi histeris.
  Usai bernyanyi dengan Sema, gadis itu pun datang menghampiri Sancar, menaiki panggung bar dan menatapnya sinis. Sancar hanya bisa diam karena Ayşu, bergetar tubuh ini saat melihat cintanya.
  “Apa aku boleh bernyanyi? Lagu ini untuk Azat.” Ayşu berusaha sedingin mungkin, tapi matanya yang berkaca-kaca itu tak mampu menahan sikap dinginnya. Sancar masih merasakan hal yang sama.
  “Ah ... boleh, boleh!” Tiba-tiba Sema dengan riangnya angkat bicara. Dia memang bersikap seperti anak kecil. “Siapa namamu?”
  “Ayşu Demirören,” jawab Ayşu dingin.
  “Sema. Apa kau seorang model? Aku melihat dari fisikmu.”
  “Iya. Izinkan aku bernyanyi.”
  “Oh, baik!” riang Sema sembari melirik Sancar“Ayo, Sancar, dia ingin bernyanyi denganmu.”
  Sancar hanya menganggukkan kepala, sementara Sema sudah turun dari panggung bar. Sesekali menoleh dan melirik Ayşu adalah hal yang bisa melepaskan rindu, termasuk rindunya padanya.
   “Lagu apa yang ingin kau nyanyikan?” tanya Sancar pada Ayşu.
   “Cesaretin var mı aşka.”
   Sancar menuruti apa yang Ayşu minta. Memetik senar gitar, musik pun dimulai. Ayşu mulai bernyanyi.

Birgun bir cilginlik edip
Seni sevdigimi soylesem
Alay edip guler misin
Yoksa sen de sever misin (2x)
Cesaretin var mi aska
Carpiyor kalbim bir baska
Sen de boyle sevsen keske
Desen bana yar (2x)
Konusmadan gozlerinle
Beni sevdigini soylesen
Yuregime gozlerin
Ölene dek muhurlesen (2x)
Cesaretin var mi aska
Carpiyor kalbim bir baska
Sen de boyle sevsen keske
Desen bana yar (2x)

(Jika suatu hari aku melakukan sesuatu yang gila
Dan memberitahumu aku mencintaimu
Maukah kau menertawakanku?
Atau apakah kau akan mencintaiku kembali?
Apakah kau memiliki keberanian untuk mencintai?
Jantungku berdetak berbeda untukmu
Kuharap, kau akan mencintaiku seperti ini
Tanpa berbicara, matamu mengatakan “kau mencintaiku”
Cinta yang terlihat di matamu aku telah menyegelnya sampai mati)

     Usai gadis itu bernyanyi, semua orang bertepuk tangan. Ayşu menghampiri Sancar dengan wajah datarnya.
   “Apa kau merindukanku, Sancar?” Tiba-tiba Ayşu bertanya.
   “Iya,” jawab Sancar.
   “Saat ini seharusnya aku memelukmu, menangis di pelukanmu dengan keras.”
   “Lalu?”
   “Syukurlah kita bertemu, sementara aku akan tetap mengejarmu.” Ungkapan Ayşu membuat Sancar semakin terpaku. Ayşu masih mencintai Sancar sampai sekarang.
   “Kita sudah berpisah, Ayşu ....”
   “Iya.” Tangan Ayşu memegang kedua pipi Sancar sambil tersenyum. “Aku pikir kita berpisah, ternyata kita bertemu lagi. Aku senang.”

Resound (Reupload)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang