7. Özgür

449 33 5
                                        

     Sema terdiam ketika Sancar mengucapkan hal itu. Merasa hancur karena orang yang kucintai ingin mengakhiri hubungan ini. Ya, ia tahu dia memang jujur, tapi ini menyakitkan karena harus rela melepaskannya hanya untuk melindungi Ayşu dari musuh-musuhnya.
   Sema tidak marah, menangis, dan sebagainya, hanya bisa diam menatapnya sejenak, kemudian pergi meninggalkannya.
   Nilüfer dan Azat menyusul Sema berlalu dari mereka sampai di luar rumah sakit. Mereka berdua berusaha membujukku supaya bisa menyelesaikan masalah ini dengan Sancar.
   “Sema, kenapa kau pergi meninggalkannya tanpa bicara dulu padanya. Tolong, Sema, selesaikan urusan itu,” ujar Nilü.
   “Sementara aku akan bicara pada Ayşu,” sambung Azat.
   Sema tidak peduli apa yang mereka katakan. Dirinya tetap berjalan ke mana pun yang ia mau, tanpa peduli arah dan tujuan yang ingin ia tuju.
   “Sema, kumohon,” pinta Azat.
   Sema menghentikan langkah, berteriak histeris. “Cukup! Cukup! Biarkan aku sendiri, jangan ganggu aku!”
  “Sema,” lirih Nilü.
  “Aku menyesal, Azat, Nilü. Aku menyesal karena sangat mencintai orang itu dengan tulus yang tanpa kuketahui bahwa hatinya sudah dimiliki orang lain. Aku malu, benar-benar malu! Saking malunya aku, sampai-sampai tidak bisa berkata apa-apa pada Sancar. Aku malu, dan langsung pergi meninggalkannya tanpa bicara sebelumnya seperti yang kalian katakan. Aku merasa hancur karenanya. Tapi bagaimana pun juga, itulah Kenyataannya, Nilü, Azat. Aku harus menerima kenyataan itu, walaupun berat untuk melepaskannya. Kalian tahu sendiri, kan, bahwa aku sangat mencintai Sancar. Jadi, kau harus tahu apa yang kurasakan saat ini. Aku mohon, pulanglah. Jangan ganggu aku!” jelas Sema panjang lebar dengan mata yang berkaca-kaca, kemudian langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
    Di sisi lain, jujur, Sema salut pasangan itu. Walau ia tidak tahu apa yang terjadi pada mereka sebelumnya, tapi sudah lama merasakan bahwa mereka sudah memiliki hubungan—yang lebih—istimewa dirinya. Jadi kubiarkan saja mereka dekat, walau api cemburu sudah membarai hati.

____

       Selama perjalanan entah ke mana Sema harus pergi, hanya bisa menangis menahan rasa sakit hati ini. Ini sebenarnya tidak adil baginya, tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau ia harus menerima kenyataan ini. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat mendengar suara nyanyian seorang pria muda yang duduk di pinggir jalan sambil memainkan gitarnya. Ia teringat pada Sancar. Setiap kali mengingat masa-masa itu, rasanya ingin berteriak histeris karena tak tahan lagi, tak mampu menggeser masa lalu itu darinya.

Kalbi aşk geçirmez yarası zırhlıdır
Gülüşünde bir şey var hep içime dokunur
Bir derdi var her halinden belli
Anlatmıyor, anlatsa kurtulur (2x)

Kafası kendinden bile güzel bu gece
İçmiş içmiş salınır
Ruhumu yakan bir şeyler var içimde
Öyle bakmayın, kırılır. (3x)

(Hatinya cinta kasih, lukanya dilapis baja
ada sesuatu dalam senyumnya, itu menyentuh hatiku
dia memiliki masalah, yang jelas untuk diperhatikan dalam segala hal
dia tidak memberitahuku, kalau tidak, dia akan rileks
dia sangat mabuk malam ini
dia berjalan dengan keras
ada beberapa hal dalam diriku yang membakar jiwaku
jangan mencari dia di jalan, dia mungkin hancur ...)

    Usai pria itu bernyanyi, mereka saling memandang.
   “Puan, kenapa kau di sini? Malam-malam seperti ini tidak baik untukmu berkeliaran,” sahut pria itu.
   Sema mengusap air mata secara kasar. “Aku butuh udara segar.”
   Pria itu tersenyum dan menggeleng heran. “Malam-malam seperti ini tidak ada udara segar, kecuali pagi.”
   Sema terdiam karena dia berkata benar, berusaha mengalihkan pembicaraan supaya ia tidak menertawakanku. “Apa kau seorang penyanyi jalanan di sini?”
   Dia menganggukkan kepala. “Karena ini hidupku.”
  “Namaku Sema. Aku seorang penyanyi bar sekaligus seorang photografer di Turki.”
  “Aku Özgür Demir.” Özgür tersenyum ramah.
   Sema orangnya periang, itu artinya tidak boleh cengeng karena cinta, harus bisa membuktikan bahwa ia tidak seperti itu. Ia harus menjadi gadis yang bahagia. Aku butuh hiburan untuk itu, kebetulan ada Özgür di sini.
    “Bolehkah aku bernyanyi? Sementara kau yang memainkan gitarnya.”
   “Baiklah,” turut Özgür. Ia pun mulai memainkan gitar, sementara Sema mulai bernyanyi.

Off
Veryansın edemem kadere
Sevdim bu benim meselem
Eğilsem bile devrilmem

Sor
Dönmezsem sebebi ne diye
Aydım iyiye kötüye
Gel gör ki çok uzak

(Oh,
Aku tidak bisa membantingnya ke takdirku
Aku hanya bisa mencintai, itu masalahku
Bahkan jika aku cenderung, aku tidak akan jatuh
 
Meminta
Apa alasannya jika aku tidak kembali
Aku menyadari yang baik dan yang buruk
Datang dan lihat itu jauh)

Saat Sema fokus bernyanyi, banyak orang yang datang menyaksikan kami dan menaruh sejumlah uang di guitar bag-nya Özgür. Ini menjadi awal barunya untuk kembali bersenang-senang dengan teman baru seperti Sancar kedua.

Resound (Reupload)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang